Heller’s Law

April 6, 2014 at 2:52 am | Posted in katarsis | 2 Comments

As online discussion involving Indonesian middle-class grows longer, the probability of a spoiled rich kid bashing their fellow countrymen approaches one.

atau kalo di-Indonesiakan:

Ketika diskusi daring yang melibatkan kelas menengah Indonesia menjadi bertele-tele, peluang munculnya satu anak orang kaya manja ngejelek-jelekin rekan senegaranya mendekati satu.

Saya ada proposal: setiap kali Anda dengar orang mengeluh tentang betapa bodoh dan tidak beradabnya dan tidak bermoralnya orang Indonesia kebanyakan cobalah untuk mengingat hukum yang saya tuliskan di atas. Lalu istigfar; wudu, minta sama ampun Gusti Allah Yang Maha Menilai. Hukum di atas harusnya mudah dipahami. Kalo Anda pernah belajar teori peluang, atau berkenan menggugel sana sini barang sebentar, maka harusnya Anda tak lagi perlu bertanya apa artinya frase ‘mendekati satu’. Artinya sederhana: peluangnya itu besar sekali; karena dalam teori peluang, kemungkinan suatu peristiwa bakal terjadi itu diukur dari level pasti tidak terjadi (0) sampai pasti terjadi (1). Itung-itungannya saya juga tak paham betul; secara sederhana saja saya artikan begitu—sangat mungkin terjadi. Kenapa saya perlu menawarkan teori ini, teori yang sebetulnya modifikasi amatiran dari Goldwin’s Law? Karena setelah sekian lama ngeblog dan berkeliaran di Internet, membacai postingan orang di blog, Fesbuk dan Twitter, dan setelah sekian banyak postingan marah-marah saya soal ini di blog ini, saya masih aja gondok sama mereka yang mencela-cela orang Indonesia kebanyakan. Jangan salah, saya paham kalo ada argumen: anggaplah ini swa-kritik, sesuatu yang mesti diterima agar kita bisa memperbaiki diri. Saya juga tahu kalo ada orang yang cuma pengen sarkas; pengen melucu, dengan maksud yang agak-agak kabur dan taksa. Tapi ada beberapa soal yang menjadi ganjalan buat saya: Pertama, celaan itu biasanya ditujukan pada khalayak, bukan segelintir orang; seperti ‘kenapa sih orang Indonesia gak bisa ngantri?’—diskusi ini hampir selalu berkembang menjadi: ‘dasar orang miskin; mental warga dunia ketiga!’. Komplen dan celaan itu membuat seolah-olah si penutur adalah satu-satunya orang di negara ini yang bisa ngantri; selain dia adalah khalayak yang tidak tahu adab; savages! Kedua, saya ada ragu kalo celaan itu adalah sebuah kritik yang tulus; apa yang ditulis secara spontan di internet; bahkan analisa yang luar biasa menginspirasikan tentang mengapa orang di negara maju lebih berada dari orang khalayak di Indonesia (kalo naik eskalator bajingan semua, kan, orang Indonesia?) adalah tak lain dan tak bukan sebuah modus untuk memuaskan palus masing-masing; membesarkan diri sebagai yang tercerahkan, sudah barat dengan tubuh timur; sebagian besar itu saya yakin ego saja, sekedar ingin mencela—ungkapan jiwa yang congkak. Ketiga, saya bisa terima kalo orang kaya yang jadi bahan celaan, atau kalo kelas menengah itu saling mencela diri sendiri, kalo memang celaan itu dilakukan dengan dosis self-deprecation yang cukup; bahwa mencela bangsa sendiri itu adalah bentuk lain dari upaya menyadari kesalahan dan kelemahan diri sendiri; kalo begitu saya bisa terima. Tapi saya gak bisa terima orang kaya yang senang Internetan itu terus-menerus mencela orang miskin atau khalayak umum di laman sosial media mereka; entah gimana saya merasa kesenggol. Saya tidak ingin mengaku sebagai bagian orang miskin; saya terlalu kaya untuk disebut miskin, tapi juga terlalu miskin untuk disebut kaya raya. Saya hanya gondok dengan kemewahan orang kaya untuk mengritik orang miskin sebagai warga dunia ketiga yang serba terbelakang. Sekalipun memang orang miskin tidak beradab, bodoh, egois dan persis sama dengan apa yang dicela-cela orang kaya dengan Ipad mereka; sulit bagi saya untuk tak melihat itu sebagai tabiat yang sangat buruk. Tentu, Heller’s Law ini bukan alat untuk mendiskreditkan orang kaya di Internet; hukum ini menurut saya lumayan bisa dibela kesahihan ilmiah dan nilai empirisnya; saya menuliskannya di sini dengan nada ceramah itu karena sayanya aja yang gondok. Terserah Anda menilai saya bagaimana; tapi coba ingat hukum ini dan—seperti alasan mereka yang bilang Bandung itu kota babi dan Jakarta kota bajingan dan Indonesia negara payah—coba buktikan bahwa saya salah, bahwa hukum ini salah.

2 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. big, big hugggggg. *puk…puk…puk… tepuk pundak.

  2. ^ terimakasih mas/mbak asam!


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: