32

April 6, 2014 at 8:37 am | Posted in katarsis | 7 Comments
Tags: , , ,

kemarin saya genap 32 tahun. sudah banyak yang saya tuliskan, sudah banyak juga yang saya pikirkan; meski hingga kini saya tak tahu pasti di mana saya berdiri. apakah saya lebih baik atau lebih buruk dari beberapa tahun yang lalu, dari saya yang menginjak usia 18, 22, 27 atau 30? tentu saja banyak yang berubah; menikah dan punya anak adalah keputusan besar. tetapi ada satu hal penting yang hingga kini masih sama, yakni keinginan saya untuk mendapatkan suatu kepastian teologis, kepastian teleologis; apakah tuhan dan untuk apa hidup ini? semakin hari semakin sadar betapa absurdnya semua ini: hidup dengan atau tanpa tuhan, dengan atau tanpa tujuan. namun demikian, puisi selalu menjadi oase di gurun ketidakberartian ini; dan salah satu sajak yang bisa jadi teman adalah sajak Rabu Abu karangan t.s. eliot. saya terjemahkan di bawah ini bagian pertama dari sajak yang panjang itu; inspirasi menerjemahkan itu saya dapat dari blog ini. terjemahan itu sudah bagus sebetulnya, tapi ada beberapa ungkapan yang saya ingin utarakan sendiri secara personal; belum tentu jadi lebih bagus, tapi lebih personal saja. sajak ini bagus sekali; selalu mengingatkan saya akan waktu: aku bagi juga buat kawan dari Aceh yang bakal 32 juga bulan ini; bulan april, bulan yang menurut eliot adalah bulan yang paling lalim, bulan kurt cobain meledakkan kepalanya dan membiarkan yang hidup bertanya-tanya.

sebab aku tak berharap kembali lagi
sebab aku tak berharap
sebab aku tak berharap kembali
mendambakan bakat orang ini, pengaruh orang itu
aku tak lagi berjuang untuk berjuang demi hal semacam itu
(mengapa seekor elang tua harus merentangkan sayapnya?)
mengapa aku harus menyesali
kuasa yang hilang dari penguasa biasa?
sebab aku tak berharap untuk tahu lagi
keagungan yang ringkih dari waktu
sebab aku tak berpikir
sebab aku tahu aku takkan pernah tahu
satu kuasa fana yang nyata
sebab aku tak bisa melepas dahaga
di sana, di tempat pepohonan berbunga,
dan mata air memancar, sebab sudah tak ada lagi
sebab aku tahu waktu akan terus menjadi waktu
dan tempat akan terus hanya menjadi tempat
dan apa yang nyata hanya nyata sekali saja
dan hanya di satu tempat
aku bersuka segalanya seperti ini dan
aku menolak wajah yang diberkahi itu
aku menolak suaranya
sebab aku tak berharap kembali lagi
sebab itu aku bersuka, harus membangun sesuatu
yang kepadanya aku dapat bersukacita

dan berdoalah kepada Allah agar ia mengasihani kita
dan berdoalah agar aku bisa lupa
persoalan yang terlalu sering aku diskusikan sendiri
terlalu sering untuk aku cobajelaskan
sebab aku tak berharap kembali lagi
biarkan kata-kata ini menjadi jawaban
sebab yang sudah dikerjakan, tak akan dikerjakan lagi
kiranya hukuman itu tak terlalu berat bagi kita
sebab kedua sayap ini bukan lagi sayap untuk terbang
tapi hanya sebuah kipas untuk menepuk udara
udara yang yang begitu kerdil dan kering
lebih kerdil dan kering dari kehendak
ajari kami untuk perduli dan tidak perduli
ajari kami untuk duduk diam
berdoalah untuk kami wahai pendosa
sekarang dan pada waktu sakaratul maut
berdoalah untuk kami
sekarang dan pada waktu sakaratul maut

7 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. mas, mas gentole pernah denger lagu This is the Life by Dream Theater ga?

  2. dengerin deh mas, coba.

    semoga mas senantiasa tetep berpijak pada harapan-harapan mas gantole yg begitu mulia selama ini (seperti muatan isi postingan mas yang ’32’ dan ‘Buat Kala dan Sekar’). Itu bagi saya adalah landasan yg fundamental yang mana akan menggerakan/ memanifestasikan ujud kehidupan mas nantinya, semoga

  3. wah lagunya serius sekali

  4. Saya memahami perasaan mas gentole kok ketika mas nulis “Tentu saja banyak yang berubah; menikah dan punya anak adalah keputusan besar. tetapi ada satu hal penting yang hingga kini masih sama, yakni keinginan saya untuk mendapatkan suatu kepastian teologis, kepastian teleologis; apakah tuhan dan untuk apa hidup ini? semakin hari semakin sadar betapa absurdnya semua ini..”

    saya memahami apa yang mas rasain kok bahwa kepastian di atas satu pilihan hidup (hitam dan atau putih) itu ga ada di dalam dunia abu-abu (idealisme & naturalism; agama/kepercayaan, philosophy, sains, liberalism, sosialisme/komunisme dan tetek bengeknya). Karena dalam dunia abu-abu tidak ada namanya pilihan, kalaupun ada yang menyebut sebagai pilihan sebetulnya dia itu hanya sedang mengalihkan kondisi psikologis dirinya yang sebenarnya. ini sebetulnya konsekuensi nyata yang berada dihadapan kita karena yang bisa disebut sebagai pilihan itu adalah hitam dan/ putih bukanlah abu-abu, iya ga :). Inilah sebetulnya hal-hal yang menggiring kita sebagai manusia sama sekali ga mengenal siapa diri kita sebenarnya mas, siapa sih kita apasih tujuan kita sebagai manusia ini? untuk surga dan neraka? f****** nonsense. atau.. Untuk sekedar seks di dunia yang telah menjadi fatamorgana ini? Atau.. Untuk sekedar saling baku hantam antar sesama manusia? Atau untuk jualan kecap, kaya pria-pria hidung belang itu lho mas yang hobi jualan kecapnya kepada pemirsa dengan angan-angan surga-neraka, takut dosa kejar pahala? Diibaratkan kalau kata peribahasa mah yaitu bagai maju berderap mencapai buntung, tak ada tujuan nyata. Tak ada obyektifitas didalamnya. Pada dasarnya secara metodis mau agama, filosofi ataupun sains, sebenarnya mereka ini kan sama-sama memahami Ilmu atas hasil pantulan alam dimana alam adalah sebagai obyek dan manusianya sendiri berdiri sebagai pengamat/subyek, ((makanya saya suka banget lho mas sama postingan mas gentole di ‘Buat Kala dan Sekar’. Ada satu kutipan mas nulis kata ‘hasil pantulan’, Itu hal yang jarang saya temuin ada yang sampe berpikiran kaya gitu. Saya jadi berpandangan bahwa mas betul-betul memahami Ilmu pengetahuan buatan manusia ini secara obyektif berdasar standar/parameter Ilmu pengetahuan yang ada, yaitu idealism & naturalism))

    sehingga mau berdalih bagaimanapun sebetulnya mereka hanya bisa mengenal subyektifitas. Ini sebetulnya adalah kesalahan manusianya sendiri kenapa dunia ini menjadi begitu nista yaitu adalah konsekuensi logis atas hasil memahami Ilmu secara subyektif

  5. *Eh ralat mas: kalau gasalah bukan di ‘Buat Kala dan Sekar’, tapi saya pernah baca di salah satu postingan mas gentole di blog ini. Btw terima kasih mas sebelumnya 🙂 udah mau baca komen saya yang panjang di atas yang mungkin saja tidak berguna itu

  6. ^ itu ada di “tentang blog ini”. anyway, menulislah bung. ngeblog lah.

  7. ohiya yah saya agak lupa soalnya.. saya agak kurang suka ngeblog mas


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: