blog dalam cermin

April 3, 2014 at 12:41 am | Posted in Catatan, katarsis | Leave a comment
Tags: , ,

ada yang sedang menanggalkan pakaianmu satu demi satu,
mendudukkanmu di depan cermin, dan membuatmu

           bertanya, “tubuh siapakah gerangan yang kukenakan ini?”
ada yang sedang diam-diam menulis riwayat hidupmu, menimbang-
           nimbang hari lahirmu, mereka-reka sebab-sebab
           kematianmu –
ada yang sedang diam-diam berubah menjadi dirimu

images

sang pujangga tua

sajak di atas adalah sajaknya Pak Sapardi Djoko Damono yang berjudul metamorfosis. katanya kritikus, itu sajak dia tulis untuk semua orang yang mencoba menganalisa beliau, menimbang-nimbang riwayat hidupnya untuk mencari benang merah dalam sajak-sajaknya, membacai semua karyanya yang banyak itu, agar bisa dipelajari gayanya, agar bisa ditiru! sang penyair mengerti, mungkin sedikit congkak, bahwa ada yang sedang diam-diam berubah menjadi dirinya. ini satu dari sekian banyak sajak Pak Sapardi yang membuat saya bengong; satu hal, tiga bait pertama sajak ini menurut saya luar biasa puitis. coba bayangkan, bahwa ada orang yang menanggalkan pakaianmu dan kemudian memintamu duduk di depan cermin. coba bayangkan apa yang kalian rasakan: melihat diri telanjang di depan cermin—bayangkan keterasingan itu, tubuh yang asing itu. sekalipun anda seorang penari telanjang, atau seorang eksibisionis-narsis-nan-cabul, melihat diri dalam cermin adalah pengalaman yang sering kali dan sangat bisa membawa diri pada keterasingan yang mendalam. itu karena hanya ketika kita bercermin, tubuh yang kita anggap diri sendiri itu seketika menjadi orang lain, tubuh ini terpisah dari keakuan kita. hanya ketika kita bercermin dan melihat apa yang tidak biasa kita lihat dalam keseharian dan kehidupan sosial kita, yang pribadi dan sosial menjadi berjarak. itu sebabnya, kita bisa bertanya, di kamar kosan yang sepi, pada bayangan kita sendiri di cermin itu: ‘who the fuck are you?‘ saya pikir ini gejala universal: apa saja yang di luar tubuh adalah orang lain. kalo imaji telanjang di depan cermin terlalu cabul buat kalian yang otaknya alim, mungkin adegan travis bickle dalam film taxy driver ini lebih relatable, bahwa ada jarak eksistensial antara kita dan bayangan kita sendiri, bahwa bayangan kita adalah orang yang lain. ayolah, sapa dia—dirimu yang hidup dalam cermin!

lalu emangnya kenapa kalo kita berhasil mengkonfrontasi yang asing dari kedirian kita; apa gunanya bercermin dan melihat semua kerut, jerawat, kutil, tahi lalat dan bekas luka itu? ya, mana tau, bisa jadi tak ada gunanya juga. tapi mungkin, paling tidak, kita bisa lebih mengenal yang asing itu; bukan untuk kemudian kita menjadi kenal sama diri sendiri, kita mungkin akan senantiasa merasa asing dengan tubuh kita sendiri. saya sendiri, sampai saat ini masih merasa aneh setiap kali saya lihat tangan saya sendiri: melihat dengan heran setiap lipatan, setiap bulu halus dan garis tangan! entahlah. saya pikir manusia tidak pernah tahu siapa dirinya; dan menyadari ketidaktahuan itu, mencoba untuk mengakrabi keterasingan yang tidak terbantahkan itu, menghadapinya sesekali dalam hidup itu bukan ide yang jelek. dan Pak Sapardi, entah sengaja atau tidak, mencoba untuk mengingatkan kita akan hal itu; membuat kita bertanya, ‘tubuh siapakah gerangan yang kukenakan ini?’ dan pujangga tua itu tak berhenti di sana, tentu saja. dalam dunia sajak Sapardi, manusia pun tidak hidup sendirian di muka bumi, ada orang lain yang diam-diam sedang menimbang dan menuliskan hidupnya; pada awalnya, aku pikir ini adalah tuhan; tuhan yang menuliskan nasib kita, sebab-sebab kematian kita. tapi saya pikir bukan itu; dalam kehidupan internet pada saat ini, mereka yang mendudukkan kita di depan cermin adalah blog!

blog adalah cermin adalah panggung adalah kamar rahasia dalam mana sebagian kita memilih untuk menyingkap yang asing dari diri sendiri; yang putus asa dalam diri, yang congkak dalam diri, yang romantik dalam diri, yang marah dalam diri; dalam hal ini yang dipaparkan bukan ketelanjangan tubuh, melainkan ketelanjangan pribadi, keakuan yang mungkin tanpa sadar terpapar bugil di jagad raya internet yang kian tidak mengenal batas ini. saya tidak akan pernah tahu, bahwa pada saat ini, detik ini juga ada orang yang sama sekali tidak saya kenal yang membacai blog saya dan kemudian menimbang-nimbang siapa saya, menimbang-nimbang riwayat hidup saya, apakah saya bahagia, apakah saya selalu muram dan putus asa. siapa yang tahu juga bahwa yang terjadi bukan sebaliknya; bahwa saya pun senang membacai blog orang lain, lalu menimbang-nimbang riwayat hidup mereka, mereka-reka keseharian mereka: jam berapa mereka bangun pagi? apa yang terjadi di kantor mereka pada hari itu? apabila blog adalah sebuah cermin transparan di mana setiap orang bisa melihat ketelanjangan mereka masing-masing; apakah internet kalo bukan kegilaan yang absurd? pernah terlintas dalam pikiran: siapa yang bisa jamin bahwa lelaki atau perempuan yang duduk di sebelah anda di kereta pada malam itu bukan pengelola blog yang biasa anda kunjungi? ada alasan kenapa bacain blog orang yang isinya bukan tips mencari uang di internet atau gosip Jokowi itu agen amerika bisa disebut stalking. tapi itu mungkin karena hidup begini singkat dan keharusan sosial dan segala yang penting dan urgen untuk dilakukan memang tak memberikan kita waktu untuk menyingkap segalanya (saya mengerti bahwa kenalan dan kopdaran bisa menetralisasi absurditas itu; bahwa itu akan mengakhiri semua keajaiban dari menebak-nebak hidup orang lain); karenanya kita pun harus berhadapan kembali dengan sebuah paradoks: di internet orang cenderung telanjang, tapi bukan telanjang bulat; selalu ada yang ditutupi, dan yang terpapar adalah diri yang biasanya tidak tampak di dunia luring—lalu sebaliknya, diri dalam dunia luring malah mengabur, atau bahkan sama sekali lenyap di dunia daring. kita pun memang tak ingin tahu lebih jauh, tak ingin tahu segalanya; kadang kita hanya igin bertanya dan mereka-reka saja tanpa pernah betul-betul ingin tahu apa jawabannya. tapi ini bukan berarti kita tak lagi telanjang di internet…tapi, ah baiklah, ini saya semakin muter-muter kemana-mana; poin saya adalah: dalam hidup, siapa yang tahu, pada setiap kata yang anda tuliskan di internet, di sosial media, akan ada yang menanggalkan pakaianmu satu demi satu, mendudukkanmu di depan cermin, dan membuatmu bertanya ‘tubuh siapakah gerangan yang kukenakan ini?’

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: