anonimitas

March 23, 2014 at 5:52 pm | Posted in katarsis | Leave a comment
Tags:

dua hal yang paling saya takutkan di masa kanak adalah perayaan ulang tahun kawan sebaya dan HUT kemerdekaan. itu karena saya yakin saya akan dipermalukan di depan orang banyak—saya tidak berani bicara di depan orang banyak, apalagi disuruh nyanyi; malu saya. dan semua perlombaan itu; lomba balap karung, lomba panjat pinang, lomba makan kerupuk, pokoknya semuanya, itu apa kalo bukan skenario orang dewasa untuk menciptakan semacam hiburan, bahan tertawaan di masa ketika mereka seharusnya mengenang pahlawan yang ditembak mati kompeni? mempermalukan anak-anak itu mudah sekali; mereka terlalu goblok untuk sadar kalo mereka sedang dipermalukan. saya enggak. saya gak mau dipermalukan; karena itu saya biasanya kabur kalo ada panita 17-an datang, atau kalo ada undangan kawan sebaya yang merayakan ulang tahun. kebijakan ini berlaku hingga kini; sampe sekarang saya masih menganggap keramaian dan situasi ketika saya harus bicara atau tampil di depan orang banyak sebagai sesuatu yang mengerikan. saya akan selalu sadar bahwa saya sedang dinilai, sedang ditimbang-timbang; dan saya tidak mau itu. saya mau duduk saja di bagian paling sepi di pesta itu, ngobrol sama orang kesepian, atau ngemil keripik singkong. atau, kalo memungkinkan, pulang saja ke kosan: internetan atau tidur. di dunia maya pun sama saja; ada alasan kenapa saya lebih suka pake nama lain, bukan nama asli. meski saya sadar kalo ada orang yang kenal saya, kalo ada orang yang mau cari tahu dan bisa tahu siapa saya, saya merasa lebih nyaman kalo saya dipermalukan sebagai oang lain, kalo saya dinilai sebagai orang lain, karena saya berpikir apapun yang saya katakan, apapun yang saya tuliskan, bisa jadi sangat memalukan, sesuatu yang tak mungkin saya katakan secara sadar. saya anonim bukannya sok seleb atau apa; meskipun, kadang saya pikir bagaimanapun di dunia luring saya terkait dengan lembaga di mana saya berkerja, saya terkait dengan kawan dan keluarga saya, sehingga ada hal-hal yang gak mungkin bisa saya katakan sebagai pribadi yang terbelenggu dengan harapan-harapan lingkungan di mana saya tinggal; pada akhirnya, memang, kehidupan ini, dunia ini adalah sebuah perayaan ulang tahun besar-besaran dan setiap hari saya dipaksa untuk nyanyi di depan mereka, di depan masyarakat yang selalu menilai. boleh jadi ini membuat saya menjadi seorang yang palsu, yang munafik, tapi apa iya orang bisa selamanya semaunya; pasti ada adab atau aturan apapun itu yang dipatuhi secara sukarela. lagian tak perduli juga saya dibilang palsu atau apa. menyenangkan hidup begini. anda boleh saja tidak setuju pendirian saya; saya tidak perduli juga hormati itu. sebaiknya memang saling tidak perduli menghormati saja. kalo nggak ngerti, ya, susah.

 

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: