sabda bahagia bagi mereka yang terasing: sebuah risalah untuk malam yang sepi dan segala harapan yang tidak terpenuhi

March 20, 2014 at 7:57 pm | Posted in katarsis | 5 Comments
Tags: , ,

«بَدَأَ اْلإِسْلاَمَ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ غَرِيبًا فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ»

free-vector-stranger-with-a-tail-clip-art_111527_Stranger_With_A_Tail_clip_art_hightmuhammad sang nabi dikatakan pernah bersabda: islam bermula dalam keterasingan dan akan berakhir dalam keterasingan; oleh sebab itu, berbahagialah mereka yang merasa diasingkan. guru agama saya bilang ini artinya, pada akhir zaman nanti, yang boleh jadi maksudnya adalah hari ini, pada detik ini juga ketika saya menuliskan postingan ini, orang islam yang islamnya dianggap sejati oleh nabi adalah mereka yang islamnya dianggap tak wajar, dianggap abnormal—adalah mereka yang menjadi pariah di negeri mereka sendiri, diasingkan oleh orang kebanyakan, diasingkan oleh keseragaman! saya tidak tahu apa hadistnya sahih; saya lebih tidak tahu lagi apa secara historis, secara faktual nabi pernah betul-betul mengatakannya. sekilas, saya merasa nabi elitis. apakah mungkin, pada masa kenabian dulu islam begitu hipster, dianut oleh segelintir orang yang jengah dengan berhala yang terlalu mainstream, lalu islam sendiri kemudian menjadi mainstream dan beberapa abad kemudian menjadi sangat, sangat mainstream dengan milyaran pemeluk di dunia, dan kemudian pada masa-masa yang krusial sebelum kiamat, sebelum bumi terbelah dan gunung-gunung berterbangan seperti anai-anai, islam menjadi hipster kembali, dimiliki oleh segelintir orang saja, oleh mereka yang menolak keseragaman yang sesat?

saya bukan ulama, bukan seorang fakih apalagi muhadisin. saya tak punya pemahaman yang koheren dan solid atas sabda itu; kadang saya merasa hadist itu hanya jadi alat saja, jadi dalil bagi firqoh-firqoh yang ada untuk membanggakan diri secara culas; kelompok salafi terutama, dan juga mungkin kelompok harakah lain yang merasa ideologi, fikrah dan manhaj dakwah mereka adalah yang paling dekat dengan kualitas generasi pertama islam, generasi terbaik yang dibimbing oleh nabi sendiri, yang diberikan kebijaksanaan ilahi dan berada dalam pengawasan jibril. saya—sama sekali tidak mengerti apa yang baru saja saya katakan tadi. oleh sebab itu, saya sebetulnya merasa janggal, karena hingga kini, lebih dari 15 tahun sejak saya pertama dengar hadist ini, saya masih terpesona dengan redaksinya. entah kenapa saya menyukai kata ‘keterasingan’; dan frase ‘berbahagialah orang-orang terasing’ atau fatuba lil ghurabaa entah bagaimana selalu menentramkan hati saya. mungkin karena kalimat ini mengingatkan saya pada sabda bahagia nabi isa ketika berkhutbah di bukit: atau mungkin itu karena … bagaimana bila redaksinya kita ubah sedikit; bukan untuk mengganti-ganti kata nabi, tapi untuk sekedar berefleksi saja; bagaimana bila hadist ini kita baca begini: ‘hidup bermula dalam keterasingan dan akan berakhir dalam keterasingan. maka berbahagialah mereka yang hidup dalam keterasingan.’ dalam bahasa arab sendiri, kata gharib itu diartikan sebagai ‘strange’ yang berada dalam satu medan semantik dengan kata ‘weird’ atau ‘aneh’. itu sebab, kadang ingin saya ganti kalimat terakhir hadist ini menjadi: BERBAHAGIALAH ORANG-ORANG YANG ANEH! ini bodoh, tentu saja; kenapa mereka yang hidupnya terasing harus merasa bahagia; apalah pula artinya bahagia? saya coba jelaskan: saya menulis esai amatiran ini karena saya tahu bagaimana rasanya terasing, atau diasingkan, dianggap aneh, dianggap tak sama, dianggap berbeda, dianggap tidak normal. saya pun mengerti bagaimana rasanya merasa diri terasing, menganggap diri aneh, tak sama, abnormal, lain dan janggal, tak seperti mereka—sekelompok manusia imajiner yang saat ini saya yakin lagi minum kopi atau makan-makan di mall bersama kawan-kawan mereka yang selalu ada, selalu bisa memberi makna pada eksistensi mereka di dunia. saya sadar setiap orang punya kesialan dan keberuntungannya masing-masing; bahwa orang lain mungkin mendapatkan apa yang tidak kita dapatkan, dan begitu juga sebaliknya; tetapi perasaan terasing dan nelangsa karena harapan yang terasa hampa sering kali hadir terlepas dari kondisi-kondisi itu; keterasingan—adalah sebuah anugrah; karena saya percaya bahwa hanya dalam kondisi itu manusia bisa merasakan dan memahami hidup; karena siapa yang tahu—boleh jadi benar: bahwa hidup bermula dalam keterasingan dan akan berakhir pula dalam keterasingan. saya kira kita harus bisa mengakrabi keterasingan yang kita hidupi ini; sungguh tidak ada alasan lagi untuk senantiasa meratapinya, nona.

5 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. kalo boleh saya pilih, kata ‘keterasingan’ diganti dengan kesendirian. menurut sebuah ayat yang tidak saya ingat yang mana, tiap manusia pada akhirnya akan menghadap tuhannya secara sendiri-sendiri. demikian

  2. ^ hahaha ya boleh juga.🙂

  3. Jaman sekarang itu menganut prinsip ‘ora edan ora keduman’. Orang di luar prinsip itu adalah orang aneh, asing.

  4. saya jadi mikir. mungkin, kalo saya jadi muslim seperti kebanyakan. jadi orang harokah a,b,c dan seterusnya, saya justru jadi malah tidak mengamalkan hadits itu ya? hehe… kata asing itu perlahan jadi aneh juga kedengarannya. sebenarnya, asing kata siapa. kalo saya ada di komunitas partai bapak menkominfo atau di komunitas hatihati yg berbendera arroya-arriwa, saya pasti disebut anomali dan janggal.saya mungkin juga dianggap sesat. bahkan terang-terangan teman saya dari kelompok hati itu bilang: get ur self straight sis. artinya, saya mungkin udah dianggap gila oleh dia.apa maksud dari hadist itu adalah kita jadi orang gila? haha…

    btw, saya suka sekali tulisan Anda…mungkin karena saya juga rada-rada sinis dan skeptis. anyway, saya senang menemukan blog ini. eh, saya bukan hipster loh walaupun selera saya ga sama dengan banyak orang dan sebagian besar orang yg kenal saya bilang saya anomali dan janggal…

  5. @asam: mungkin begitu, mas. @raudika: hipster juga gapapa kok.😛


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: