gerbong renung

March 13, 2014 at 2:25 am | Posted in katarsis | Leave a comment
Tags: , ,
images

kendara paling nyastra

oh, diri yang bimbang, kereta ini tidak akan berhenti begitu saja dan meminta semua penumpang di dalamnya untuk segera turun di tengah jalan, melompat ke pinggiran rel yang penuh kerikil entah di bagian mana tangerang selatan, agar mereka bisa, untuk sekali itu saja, merenungkan hidup mereka yang masih begitu-begitu saja. kereta malam ini akan terus melaju; mengantarkan setiap pribadi pada hidupnya masing-masing, di stasiun lama itu lagi, stasiun yang mereka tuju sejak malam-malam sebelumnya. diri, dengarkan: jangan pernah meragukan kedalaman hidup orang lain; setiap orang punya bimbang, punya kecewa, punya mimpi, kecil atau besar, yang selalu datang meringis bila malam tiba bersama sepi, ketika dua mata ini malas terpejam, di atas tempat tidur atau di bangku panjang dari bambu di halaman depan, berbagi gelisah dan putus asa dengan tanaman dalam pot, bulan dan sebatang rokok sampoerna yang putih, ceking dan ringan. aku selalu pikir jalan hidup yang aku tempuh tidak terbuat dari plot yang bisa dibilang sempurna, dari cerita hebat dalam novel-novel pembangun jiwa di gramedia sana, di mana sang protagonis hidupnya tuntas, selesai dengan gilang-gemilang setelah mendapatkan beasiswa keluar negeri dan kemudian menjadi manusia yang lebih baik, lebih cerah dan cerdas dari tanah kelahiran mereka sendiri, dari kampung halaman mereka sendiri yang tidak pernah belajar untuk berubah dan berkembang, selamanya miskin dan terbelakang! ah, tau apa aku tentang bangsa dan negara, tentang sakit dan derita orang lain, tentang berlaku adil dan semua itu? aku hanya bisa berempati dan merasa kasihan; sesuatu yang saya sadari sama sekali tidak bisa dan tidak perlu dibanggakan, karena pram bilang itu tanda kelemahan—mereka yang lapar tidak akan jadi kenyang karena semua like saya di fesbuk, juga twit dan tulisan saya di blog. setiap hari saya biarkan anak-anak jalanan itu mencari uang di hampir setiap lampu merah di jakarta; kalo sore ada yang pulang sama bapak ibunya naik gerobak, gerobak yang entah akan membawa mereka kemana; saya tidak pernah tahu dan tidak ingin mencari tahu apakah mereka punya rumah dan hidup yang layak. siapa bisa jamin saya atau kamu lebih bahagia dari mereka? masak sih orang miskin tidak pernah tertawa, dan orang kaya tidak pernah menangis? dan lagi pula apakah ada bedanya tawa bahagia orang miskin dan tangisan sedih mereka yang hidupnya berlimpahan harta? empati, altruisme—saya hanya bisa merasakan gelisah dan derita yang saya alami; saya tidak akan pernah bisa menemani anak jalanan itu pulang dan melihat mereka bermimpi; saya tidak akan pernah berbagi ojek dengan mbak-mbak kantoran di jurangmangu dan mendengarkan segala gelisah dan ketakutannya yang tidak akan pernah dia tuliskan di fesbuk atau blog. orang hidup sendiri-sendiri; hidup masing-masing, tidak berhenti sampai semuanya usai, apapun akhirnya.

nb: saya sadar saya harusnya tidur aja di dalam gerbong; sayang harus berdesakan dan dipaksa untuk larut dalam renung yang tak berguna ini.

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: