kolase dengue

February 28, 2014 at 2:56 am | Posted in katarsis | 3 Comments
Tags: ,

indexyang paling bisa bikin hati ciut di rumah sakit itu bukan lah darah atau kematian itu sendiri; tetapi suara-suara yang mengingatkan kita pada hidup, hidup yang bila disituasikan, disandingkan dengan kebinasaan, tampak begitu menawan, sekalipun pada saat itu kamu lagi mengaduh, melenguh atau bahkan menangis dan menjerit-jerit seperti orang kesetanan. adalah suara-suara di balik tirai yang selalu membuat saya terjaga; apakah itu ranjang yang menderit, atau sekedar batuk di tengah malam. kadang, kalo lagi sepi sekali, saya bisa dengar sebuah percakapan rahasia, antara si pasien dan seseorang entah siapa yang menganggapnya cukup berarti untuk ditunggui; boleh jadi itu pacarnya, suaminya, istrinya, kakaknya, adiknya, sahabatnya, bapaknya, tetanggannya, entahlah. kadang saya mengerti mereka bicara apa; kadang saya hanya merasa percakapan itu serius, mungkin hutangnya segunung, atau penyakitnya lebih parah yang dipikirnya. kadang saya dengar lelucon. kadang saya dengar gelak dan tawa; sesuatu yang sekilas membangkitkan rasa rindu pada sembuh, pada hidup di luar sana, di luar rumah sakit. tapi ada kalanya, seperti kejadian tempo hari, ada saya dengar dari balik tirai yang melindungi saya dari pandangan, seorang lelaki paruh baya menantang semua orang berkelahi; dari celah tirai, saya lihat pelipisnya berdarah. saya dengar seorang wanita tua berteriak: “ampun, ampun, ampun!”. saya tidak tahu bagaimana ceritanya; yang jelas suara-suara itu tiba-tiba berhenti dan semuanya kembali menjadi sunyi. dan saya kembali menatap langit-langit, lalu selang infus dan kantongnya. sampai kapan saya berada di sini? entah kenapa saya selalu berpikir bahwa saya akan berada di sana selamanya. rumah sakit adalah tempat paling sempurna untuk menjadi obsesif kompulsif. di kamar itu saya berpikir: pasti ada orang yang pernah menghembuskan nafasnya yang terakhir di  kamar ini. hell, pasti ada juga yang pernah memutuskan mati di ranjang ini, di tempat saya berbaring; saya membayangkan dia lagi berjuang dengan rasa sakit, pikirannya berkecamuk, dan akhirnya memutuskan untuk menyerah pada nasib. saya membayangkan kematian yang sunyi. malaikat-malaikat berdatangan tanpa lonceng, menunaikan tugasnya dalam diam. hal ini, terasa begitu absurd. rasanya seperti membayangkan ranjang hotel di mana engkau menginap pernah digunakan pasangan selingkuh bercinta, melenyapkan diri mereka dalam kesenangan yang rahasia dan terlarang. bedanya mungkin, yang terbayang bukan orgasme, tapi detik-detik terakhir sebelum segalanya menjadi gelap untuk selama-lamanya. saya selalu bertanya: apakah mereka yang pergi tau bahwa mereka telah pergi. pada satu malam dari beberapa malam saya berada di rumah sakit itu, saya bermimpi saya berada di sebuah tempat yang sering saya kunjungi waktu belum menikah dulu, yakni plaza semanggi. tapi saya tidak tahu bahwa itu plaza semanggi. karena di sana sepi; hanya ada saya dan perasaan yang sama ketika saya nonton film inception. saya berputar-berputar di sekeliling mall itu, mencari jalan pulang, dan entah gimana sampai pada sebuah lorong yang membawa saya ke sebuah pantai dan menemukan satu, dua tiga tubuh saya terkubur di sepanjang pantai; yang terlihat hanya wajah saya. awalnya saya hanya merasa bingung, lalu jadi takut dan diserang oleh rasa panik yang luar biasa. saya pun berteriak, bertanya entah kepada siapa: “am i dead? am i dead? am i dead?”. demam yang tinggi tidak cuma bisa mengacaukan tubuhmu tapi juga pikiranmu. i’m so glad it’s all over now. tapi apa iya? hidup itu mirip film horor. yang menghantui tidak pernah benar-benar pergi. the devil is never really dead.

3 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Semoga lekas sembuh mas Gen.

  2. Thanks, Sudah balik menulis. :))

  3. mengajarkan bahwa sakit itu mahal , namun sehat lebih mahal lagi!!


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: