Bahasa Itu Wanita Jalang!

February 14, 2014 at 6:31 pm | Posted in katarsis | Leave a comment
Tags: , ,

“My language is the universal whore whom I have to make into a virgin.”

—Karl Krauss

Bahasa itu perempuan jalang, kata Karl Krauss. Bahasa itu ibarat kata sudah ditiduri semua orang. Jadi kalo ada orang yang misi hidupnya adalah bikin bahasa jadi bener, jadi solehah, itu orang mungkin harus ditaro di keranjang yang sama dengan FPI dan Taliban. Kecuali kalo itu orang, seperti Krauss, kepengen bahasa jadi perawan, dalam artian: dia pengen bahasa jadi sesuatu yang baru, bukan semata konvensi, bukan semata kalimat ‘yang baik dan benar’, tapi kalimat yang belum dijamah siapapun sebelumnya, kalimat yang—dalam bahasa seksis Krauss—perawan. Ini boleh jadi wishful thinking saja. Sebuah paradoks. Bagaimana mungkin kita bisa menulis sesuatu yang sama sekali baru menggunakan kata dan kalimat yang harus bisa dipahami semua orang, yang dengan demikian harus pernah digunakan sebelumnya agar bisa dimengerti, agar bisa disebut kalimat. Ini saya bukan lagi menyoal upaya orang untuk menciptakan kata-kata baru, kata-kata yang entah gimana sering kali terdengar congkak. Baiklah. Saya harus akui: Diberkatilah mereka yang sibuk mencari kata baru sebagai padanan segala istilah asing, istilah baru produk budaya internet; tapi itu hanya apabila mereka tidak memaksakan temuan mereka sebagai yang paling betul dan tidak mencibir mereka yang memilih untuk mengadopsi bahasa asing saja. Karena temuan mereka belum tentu enak dipake. Kalo kata Stephen Fry, bahasa itu kayak pakean, bukan soal benar atau salah, tapi enak atau tidak enak, pantas atau tidak pantas—bagi si penutur (parole), dan juga mereka yang mendengarnya (langue). Yang ingin saya katakan dengan upaya menjadikan bahasa itu perawan adalah bahwa ada orang yang lebih berupaya mencari otentisitas, keaslian, keunikan dalam menulis, ketimbang sekedar taat pada aturan.  Saya berpikir, sama seperti Paman Fry, kalo bahasa itu mestinya bisa otentik meski ia tertambat pada kesepakatan sosial; bahasa mestinya bisa unik dan mewakili keseorangan setiap orang; bahasa itu menurut saya harus dilepaskan dari fasisme, dari mereka yang datang menyalahkan bagaimana Anda berbahasa, menyalahkan cara Anda menggunakan kata kerja dan kata benda dan pungtuasi dan lain sebagainya. Tidak ada aturan dalam berbahasa. Yang ada hanyalah kesepakatan yang sama sekali tidak mengikat dari pengguna bahasa tentang apa dan bagaimana bahasa itu dituturkan dan dituliskan. Yang tujuannya adalah bukan agar semuanya seragam, tapi agar semuanya mengerti. Kesepakatan ini bisa dilanggar kapan saja selama si penutur bahasa itu bisa mengatakan apa yang ingin dia katakan, dan orang lain bisa memahami sebagian besar dari apa yang ingin dia katakan. Kalo ada orang rebek protes, lempar kursi saja!

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: