Jangan remehkan warga Aceh

February 11, 2014 at 2:10 am | Posted in katarsis | Leave a comment
Tags: , , ,

Peringatan. Postingan ini agak serius.

Siapa yang marah-marah karena berita Aceh wajibkan perempuan bukan Islam pake jilbab? Itu berita salah. Dan kalo Anda baca berita ada perempuan bukan Islam di Aceh dihimbau pake jilbab, dan Anda merasa itu absurd dan kemudian merasa akal sehat Anda terganggu, itu berita juga salah. Atau paling tidak, sumber yang digunakan tidak kompeten bicara syariah. Anda tidak percaya? Silahkan riset sendiri. Bisa lewat internet, kok, karena berita bantahan atas laporan itu dari orang yang layak dikutip ada tersebar di jagad maya. Memang. Syariah Aceh adalah momok. Saya kira warga Aceh harus maklum kalo orang luar jadi bertanya, jadi kuatir dan malah berlebihan sinis. Karena sebagian besar mereka tidak tahu dan bahkan mungkin fobia terhadap syariah. Ini pun alamiah. Tak bisa dipungkiri. Dengan pelaksanaan hukum rajam dan potong tangan dan cambuk di negara lain (walau hanya ada di Iran dan Afghanistan kalau tidak salah), kata syariah sudah bikin orang gerah. Tapi saya kira kita juga harus adil. Di Aceh, pelaksanaan syariahnya seperti apa? Syariah di Aceh bukan kopian plek-plek dari syariah zaman awal Islam dulu. Syariah Aceh adalah perangkat hukum yang terinspirasi oleh tradisi Islam; pun tak semua gagasan syariah diadopsi. Buktinya, tidak ada qisas (hukum eye for an eye) dan rajam dalam qanun acara syariah di Aceh. Itu sudah jadi keputusan. Saya tidak akan kasih link soal ini. Silakan cari sendiri di Internet, atau tanya sama orang di Aceh langsung. Saya pikir penting untuk melakukan riset sendiri terlebih dulu untuk melihat apa itu syariah Aceh sebelum kita ngomel-ngomel di Twiter dan Fesbuk. Satu hal mesti diingat: syariah Aceh adalah keputusan warga Aceh yang diambil melalui proses demokratis. Jangan lupa, di Aceh ada pemilu. Dan proses pembahasan syariah pun dilakukan secara demokratis—dilakukan di lembaga legislatif dengan pertimbangan-pertimbangan dari orang luar, bahkan termasuk juga LSM yang memperjuangkan hak-hak minoritas. Tentu saja. Ini tidak membuat produk syariah Aceh menjadi demokratis. Bisa jadi sama fasisnya dengan hukum syariah di negara lain. Karena tabiat politisi di mana pun hampir sama: cenderung pragmatis, rakus dan egois. Secara prinsipil saya pikir syariah yang dijadikan hukum positif itu salah dan terlalu beresiko karena persoalan syariah itu persoalan yang kompleks; buktinya Aceh masih harus memilah mana yang bisa diterapkan dan mana yang tidak. Di satu sisi ada baiknya bahwa pemerintah Aceh bersikap eklektik, tapi di sisi lain ada kekhawatiran bahwa syariah ini jadi terlalu karet dan malah jadi alat untuk melanggengkan kekuasaan siapa pun yang sedang pegang kuasa. Sebetulnya ini bisa terjadi di mana saja. Di tingkat nasional ada banyak pasal karet; pasal-pasal dari UU yang tidak demokratis. UU ITE, misalnya. Toh, kita yang peduli kebebasan sudah bersuara meminta UU itu direvisi. Hal yang sama saya kira terjadi juga di Aceh. Saya kira tabiat warga biasa di mana-mana sama, tak mau ditindas dan tak akan diam melihat ketidakadilan. Kalo ada yang salah dengan syariah; apakah warga Aceh akan tinggal diam? Kalo syariah Aceh sudah betul-betul jadi tiran bagi perempuan dan kelompok minoritas, apakah warga Aceh akan tinggal diam? Saya tidak ingin meremehkan mereka yang tinggal di Aceh; mereka bukan kaum barbar. Mereka juga sama dengan kalian. Mereka punya akses internet, mereka juga punya universitas, mereka juga bisa baca buku. Saya kira tidak ada alasan untuk menganggap mereka yang tinggal di luar provinsi Aceh itu otomatis lebih pintar dan tercerahkan. Itu pikiran ngawur. Tapi ini bukan berarti bahwa orang di luar Aceh dilarang mengkritik. Saya kira kritik itu baik dan perlu. Selama kritik itu dilakukan dengan baik (didasari oleh fakta dan alur berpikir yang jernih) dan bukan semata upaya untuk mendiskreditkan syariah Aceh dan warga Aceh, saya yakin kawan-kawan di Aceh mau mendengar. Intinya jangan kritik sesuatu yang kalian tidak tahu. Riset dulu, pelajari dulu, jangan marah duluan. Dan juga, jangan remehkan warga Aceh.

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: