Allen, Dylan, Dylan

February 3, 2014 at 11:13 pm | Posted in katarsis | 3 Comments
Tags: , ,

MEREKA ITU DEWA DI MATA SAYA. Tapi kalo saya ditanya siapa di antara keduanya yang paling gedebug jatuhnya, maka saya harus bilang itu Dylan—Bob Dylan, bukan Dylan Farrow. Saya sebetulnya bukan pemuja Dylan. Saya hanya punya beberapa dari album dia di laptop; plus satu dua lagu lawasnya yang masih sarat muatan ‘idealisme’-nya, yang liriknya bisa dibaca sebagai sajak-sajak. Itu sebab, meski semakin kemari saya lebih dekat sama Leonard Cohen dan Tom Waits, Dylan masihlah seorang dewa, yang biarpun karyanya tak seperti dulu lagi, masihlah dipuja sebagai orang tua yang punya legacy dan tetap berkarya. Tapi kini Dylan sudah ikut jejak Iwan Fals. Saya tak mengerti juga. Kalo dulu mereka jadi lambang perlawanan; kenapa kini setelah menjadi tua, mereka seperti tidak mau mati, tapi malah menyerah sama nasib, jadi bintang iklan buat Chrisyler dan Top Coffee. Yang paling sedih mungkin keduanya berupaya untuk tetap idealis dengan bawa-bawa nasionalisme. Tapi bukan tanpa ironi. Iwan, misalnya. Dia bilang kalo Top Coffee itu kopinya orang Indonesia, padahal dalam iklan itu diceritakan kalo kopinya buatan orang Italia (sebetulnya produk lokal), dan merknya pun ambigu nasionalismenya: top coffee? Saya dengar juga Chrysler pun sekarang dikuasai oleh FIAT, perusahaan Italia. Jadi, blah, ini mereka kenapa? Bagi mereka, mungkin, kematian semakin akrab. Dan saya yakin mereka juga tak perduli kita ini siapa; anak baru kemaren yang naif dan sok idealis? Dan ini mereka juga udah lama jualan: jadi kenapa baru protes sekarang?  Adapun Allen, dia bisa dibilang satu dari sedikit seniman yang konsisten dengan apa yang dilakukannya, Memang filmnya tidak sama semuanya; tentu beda film-filmnya dia yang lucu di masa awal dulu dengan yang serius-serius (termasuk Blue Jasmine), tapi saya yakin kita bisa tebak mana filmnya Allen, mana bukan. Lalu ini ada klaim dari anak angkatnya bahwa Pak Woody itu child rapist. Saya pikir Dylan—Dylan Farrow, bukan Bob Dylan—gila juga memulai surat terbuka yang dia tulis dengan bertanya, lo suka film Woody yang mana? Disturbing. Tapi Allen gak sendiri. Banyak seniman yang kena tuduh penjahat kelamin. Sebagian tetap dianggap sebagai tertuduh, yang lain terbukti. Sebut saja Oscar Wilde dan Abu Nawas. Dalam kasus Allen, susah buat nebak; yang jelas tuduhannya serius, ditulis oleh korbannya sendiri, tapi Allen sendiri menyangkal. Lalu seberapa damaging ini tuduhan? Mungkin parah. Tapi di mata saya, Allen masih punya kredibilitas sebagai pembuat film, karena tuduhan ini, meski sangat serius dan membuatnya layak dihukum dan dicerca, tak terkait dengan karya dia. Adapun Iwan dan Dylan, dosanya dalam berkesenian lebih besar: selling out. Sebetulnya gak apa-apa seniman cari uang: tapi ini kan ikon budaya perlawanan! Jadi, kesannya ada yang salah, ada yang sebetulnya tabu malah diumbar-umbar. Mungkin emang seniman dan karyanya mesti dipisahkan. Sampe sekarang saya masih benci sama Morrisey, meski lagu-lagunya dia udah jadi sontrek hidup. Setidaknya Dylan dan Iwan gak ada di Twitter. Kalo udah di Twitter, sudahlah jatuh betul mereka dari langit. Eh, atau sudah berkicau mereka di linimasa? Ah, sudahlah. Gak penting.

Advertisements

3 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. setuju. banyak yang setelah kasus ini keluar, lalu bilang atau ngetweet “ah i wont watch his movies anymore” “males saya nonton filmnya” “saya jarang nonton film dia dan setelah kasus ini ternyata tindakan saya benar ga nonton film dia” dan lain lain.

    mungkin itulah kenapa cintai karyanya, bukan orangnya. kalau orangnya itu ya orang, bisa salah. bisa ga sebaik yang kita kira. namanya juga manusia macam macam.

    kalau karya ga pernah salah. film-film woody emang keren (walau baru nonton beberapa)

    banyak juga yang menyama-nyamakan woody dengan kasus sitok. pendapat anda gimana? btw, saya senang (sekaligus kaget) anda main ke blog saya. terima kasih untuk rekomendasi lagu indra lesmananya 🙂

  2. ^ saya gak terlalu tau karya sitok sih. belum pernah baca bukunya, cuma sekilas dua kilas, gak terlalu suka. jadi ya kalo emang kriminal ya kriminal aja. tapi kalo ada sempat baca buku dia secara serius ya mungkin gak akan segitu terpengaruhnya sama apa yang dia lakukan.
    .
    emang itu saya merekomendasikan lagu indra lesmana ya? itu lagu bukannya udah terkenal banget? udah jadi klasik? 😐

  3. wahahaha…. baru tahu loh. dan itu memang lagu sedih. mungkin karena beban hidup yang menghimpit jadi terasa dalem lagunya. maklum saya dari generasi mendatang jadi tak begitu tahu menahu soal lagu indonesia lawas seperti itu 🙂


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: