kau adalah apa yang kau caci; tips dasar memilih dan mencaci orang/sesuatu secara baik dan benar agar supaya kalian tidak saya kutuk sebagai begawan internet/kelas menengah kampungan

January 30, 2014 at 11:39 pm | Posted in iseng, katarsis | 12 Comments
Tags: , , ,
images

larangan ada untuk dilanggar

pada malam ini saya ingin tahbiskan kalian semua wahai gembala twiter dan fesbuk indonesia sebagai begawan internet yang serba cerah pandangan hidupnya; saya doakan pada malam ini juga masih banyak orang-orang goblok di internet yang bisa kita ledek rame-rame agar palus yang kadung mengeras di kepala kita ini bisa dipuaskan, dan malam ini kita semua bisa tidur pulas dalam kesadaran yang menyejukkan bahwasanya mereka yang salah dan norak di internet tahu kalo mereka salah dan norak; dan bahwasanya internet juga tahu kalo kita adalah begawan yang insya allah keren dan layak dikagumi. dan tentunya pada malam ini juga saya harap masih banyak pejabat korup dan politisi sinting yang bisa kalian umpat dengan segala bentuk sarkasme yang kalian punya agar kalian bisa duduk di depan laptop dan tablet kalian dengan agungnya, menginsyafi diri sebagai orang-orang yang kudus—bebas dari korupsi, bebas dari kebobrokan moral. adilnya kita akui sajalah; kita butuh obyek bulian; saya butuh, anda juga butuh, kita semua butuh. kita semua suka ngritik orang, doyan betul sarkas, doyan betul nyeramahin orang. kalo anda mengaku tidak begitu, besar kemungkinan anda bohong, atau anda tak tau apa yang anda katakan. dari sejak manusia mulai sadar akan tempatnya di dunia—sebagai penguasa, sebagai khalifah di muka bumi!—, sejak manusia mulai melihat pada cerita-cerita untuk mencari jawab atas berbagai misteri eksistensial, kita semua sudah dilatih untuk membenci dan mencaci; ada alasan kenapa kita robohkan berhala-berhala, ada alasan kenapa kita kutuk iblis dalam doa kita, ada alasan kenapa kita asingkan mereka yang berdosa. itu semua karena diam-diam kita memuja diri sebagai  bukan berhala, bukan iblis, bukan pendosa (bukan orang goblog di internet, bukan pejabat yang tidak becus!). oleh karena itu, setelah sekian lama saya  ngalor-ngidul di internet, menghayati bisingnya komentar-komentar di setiap blog juga fesbuk dan twiter, saya berkesimpulan bahwasanya setiap orang mesti dinilai dari apa yang dicacinya dan bagaimana dia mencacinya. tunggu dulu, bung, ini bukan persoalan etis, persoalan baik dan buruk; perkara baik dan buruk terlalu fasis dan totalitarianistik buat saya; terlalu serius, terlalu dogmatis untuk dijadikan bahan tulisan di blog; ini, saya katakan saja, adalah soal norak dan tidak norak. di internet, orang tidak dinilai sebagai baik atau buruk, tapi norak atau tidak norak, lame or cool. nuah, setelah prolog panjang ini, saya mau mengutarakan beberapa hal penting di bawah ini; yakni beberapa obyek bulian dan cara membuli yang menurut saya norak bukan kepalang, dan selaiknyalah si pelaku disiram kopi bekas semalam.

2010031204535214

udah gak zaman nyarkasin FPI dan islam garis keras. udah gak ada poinnya sama sekali. teman fesbuk dan pengikut twiter anda sudah mafhum dan mereka yang kalian kritik gak bakalan denger. dan lagipula kalian pun mungkin sama bigotnya. setiap orang punya nilai yang dia pikir layak dibela mati, tak perduli masuk akal atau tidak. buat kalian itu kebebasan dan dunia bebas polusi, buat mereka itu lingkungan bebas miras. bedanya kalian mungkin gak punya pentungan saja. saya gak bilang FPI bener terus dan gak perlu dibenerin; tapi nyarkasin FPI dan ekstrimis keseringan itu norak, sama sekali gak progresif. nyalahin pemerintah dan ‘sistem yang bobrok’ itu mudah. adalah penting untuk senantiasa bersikap kritis terhadap pemerintah; itu sudah jadi hak dan kewajiban kita sebagai warga negara; tetapi mbok ya kritiknya harus jelas; kalo komplennya masih berkutat pada cacian ‘pemerintah gak becus!’ dan ‘pemerintah gak perduli rakyat!’ kayaknya itu udah kayak malesin dengernya. karena orang yang kita pilih itu politisi, bukan teknokrat, maka besar kemungkinan mereka gak becus dan gak perduli rakyat. mbok ya kalo mau kritik bikin ulasan kebijakan yang enak dibaca, bukan ‘ah betapa goblog dan korupnya pejabat kita!’. we know that, we’ve heard enough. masih ngeledekin selera dan tontonan orang lain, seriously? bahwa ada selera dan tontonan yang norak itu sudah tak bisa dipungkiri lagi. YKS emang norak. tapi gak perlu petisi lah. apa yang anda lakukan itu lebih norak lagi dari YKS. miley cyrus, justin bieber, tifatul sembiring, ani yudhoyono, ahmad dhani, roy suryo, agnes monica, rhoma irama, dan semua musuh internet nomer satu lainnya itu sudah jadi sembako cacian internet. ibarat kata udah terlalu mainstream ngeledekin mereka. apalagi kalo ledekannya dan caciannya makin kagak jelas dan gak subtansial alias remeh temeh yang digede-gedein. sekali dua kali bolehlah buat senang-senang tapi kalo keseringan kok kayaknya gak bener; kayak gak ada kerjaan aja begitu. kayak kita seneng banget bikin mereka tambah terkenal. kayak mereka jadi lebih penting dari yang seharusnya. kayak kita sebetulnya diam-diam memuja mereka. kayak, well, we are their big fans! seperti yang saya bilang kalian adalah apa yang kalian benci dan caci. kalo caciannya ani yudhoyono yah apa mau dikata. eh, kecuali farhat abbas! always, always hate farhat abbas; hating him will always be cool. menjelek-jelekkan indonesia dan orang indonesia tidak sama dengan swa-kritik. negara kita dan warganya memang punya banyak kekurangan dan kelemahan tapi ya ndak perlu semua kelah keluh bahwasanya negara kita itu begini dan begitu sementara di negara sana begana dan begono; gak punya adablah, kejamlah, gak bersihlah, bodohlah, apalah semuanya; dan itu semua karena apa? karena satu dua berita dari media masa yang dipoles-poles sama sosial media. komplasensi itu bukan tabiat yang baik; tapi senantiasa menganggap bangsa ini payah itu menyebalkan; apalagi kalo kalian merasa bukan bagian kebobrokan itu; merasa jadi bagian kecil yang tercerahkan. dan yang terakhir adalah menghina dina kelas menengah sebagai norak padahal dia sendiri kelas menengah norak. dan itu persis apa yang saya lakukan pada saat ini. saya memang norak dan kampungan. selamat malam!

Poskrip 1: Eh, ini jadi malah gak ada tipsnya ya? Haha. Lupa saya. Eh, gak tau ding. Saya pikir orang yang nyarkasin GM dan kawan-kawannya pun sudah menyebalkan. Udah ngawur. Mencaci hipster pun sudah kehilangan ruhnya, sudah kehilangan relevansinya. Mungkin gak usah lah. Jangan mencaci. Gak baik. Nanti dosa.😛

Poskrip 2: Tadi di kamar mandi saya baru ingat; ada baiknya kalo kita punya obyek cacian. Jadi, itu poskrip yang pertama lupakan. Tapi kita harus betul-betul sadar lagi benci sama siapa. Saya pikir orang yang benci Radiohead dan meledek Radiohead mungkin bisa dianggap lebih ‘berkelas’ ketimbang mereka yang seumur hidupnya mencaci Kangen Band dan Ahmad Dhani. Ya, seperti ente pastinya tampak lebih intelek sedikit kalo obyek kritisismenya adalah GM, bukan Rhoma Irama. Keuntungan dari kapasitas kita untuk membenci sesuatu adalah kita harus bisa mengkritiknya secara benar—supaya telak, supaya bisa bencinya bisa dijustifikasikan. Maksudnya, kalo kita sebel sama sesuatu kita pikirin betul-betul kenapa kita benci sama itu yang kita sebelin. Seperti yang dilakukan Karl Krauss, the Great Hater dari Austria, anda harus menghabiskan banyak waktu membaca apa yang anda benci agar anda cukup kompeten dan otoritatif untuk melakukan kritik terhadapnya. Jadi anda mungkin harus introspeksi selama ini sebelnya sama siapa: sama Olga Syahputra atau siapa. Resikonya ya kita bakal menjadi seperti mereka yang kita benci. Seperti yang dibilang Om Kundera: ‘Hate traps us by binding us too tightly to our adversary.’

12 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Jangan mencaci. Gak baik. Nanti dosa.😛

    *mencatat*

  2. ^ sudah saya revisi di poskrip dua😛

  3. Membaca post bersangkutan, saya merasa sebagai salah satu yang ditahbiskan.😀
    Twitter sudah dideaktivasi, Fesbuk digunakan hanya karena ada grup jurusan yang sering dipakai untuk informasi perkuliahan. Saya berusaha sekeras-kerasnya untuk bertobat. Mohon dibantu.
    Salam kenal.🙂

  4. ^
    Buset gen, dapet umat…:mrgreen:

  5. Ngg, ‘kan cuma merasa. Hehe.

  6. @silvyavyaa: waduh nak kamu usianya berapa? ini blog orang tua. jangan sering-sering mampir ke sini. nanti gak punya temen. :))
    @jensen: ya ini jadi gak enak.😛

  7. Agak jlebb ya, Pak. Kok main usia.😦 Gini-gini saya dipanggil Ibu lho. Well, karena dilarang, baiklah.

  8. waaah maaf, maaf. gak bermaksud apa-apa. cuma liat foto avatar manalah tau seperti apa dirimu di dunia luring. namanya juga internet. itu juga bukan melarang tapi mengingatkan kalo sedikit sekali sikap positif di blog ini. tapi ya terserah mbaknya mau ngapain aja di internet. saya bisa apa toh?

  9. Maaf juga ya, Pak. Kesannya saya anak muda yang sensi. Saya nggak tersinggung, ‘kok. Yup, it’s ok. Terima kasih untuk penjelasannya.

  10. Masih otw menuju nirwana akunya kk :3

  11. Kelas menengah norak. Kelas menengah ngehek. Blah…Blah…Blah… Padahal dirinya sendiri kelas menengah. Buat indoprogress kayaknya nih ya? :3

  12. Reblogged this on Berbagi Laman Apik.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: