kacang rebus dan teori segalanya

January 29, 2014 at 1:09 am | Posted in katarsis | Leave a comment
Nafas_Penjual_Kacang_Rebus_Keliling_1_

gambar nyolong dari sini

kita mulai saja dari kacang rebus. dari mana asalnya kacang rebus? dari dalam tanah; lalu suatu hari dicabut sama petani kacang; dibawa ke pasar, dijual dan kemudian dibeli sama tukang kacang rebus; selanjutnya direbus dan lalu dibawa jualan di sekitar stasiun kereta palmerah. di sana, di stasiun itu, ada saya lagi berdiri: bertanya-tanya pada diri sendiri: dari mana asalnya tukang kacang rebus, dengan gerobaknya, warna-warni gerobaknya, ruang kosong dalam mana dia ada bersama saya, lampu jalan, angin dan pepohonan, langit dan bintang dan bulan, dan satpam? kenapa ada ini ada bukannya tidak ada, tidak ada yang entah seperti apa dan bagaimana kalo semuanya tidak ada. kalo ada itu memang ada, seperti adanya saat ini, kenapa adanya yang ini bukan yang lain; seperti apakah ada yang sama sekali lain? kebetulan. katanya, jawaban terbaik dari kenapa dunia yang kita hidupi dan kenali ini ada itu adalah karena di semesta yang lain, pada waktu yang sama, segala yang ada di sini itu tidak ada, kalopun ada maka adanya itu lain, tak sama. jadi adanya semua ini, hukum alam yang bekerja, susunan atom, juga sifat dari semesta dan materi, mood swing megawati, semuanya itu kebetulan belaka, evolusi panjang yang menjadikan kupu-kupu dan laron dan semut dan tikus got yang tinggal di pinggiran rel kereta seperti mereka saat ini. kata alan lightman, para pemikir kosmos menduga bahwa semesta itu tak cuma satu; bahwa semesta yang kita hidupi ini hanyalah satu dari semesta yang tidak berhingga; semesta yang ‘ada’ di dalam kontinum ruang-waktu yang tidak berhingga; yang bila diandaikan sebagai sebuah lapangan besar pastilah ada di sana semesta-semesta lain; bumi-bumi lain di mana olga syahputra adalah presiden indonesia dan barack obama sebahat tukul arwana. kalo sudah mikir begitu, rasanya remeh sekali segala hal yang terjadi di bumi ini; ini emang renungan kelas menengah, renungan pekerja yang diasingkan kapitalisme.

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: