Tuhan, Celana Dalam di Dalam Panci Panas dan Segala Pertanyaan Besar Dalam Hidup Yang Mesti Kita Tunda Agar Kita Bisa Hidup

January 14, 2014 at 1:44 am | Posted in katarsis | 1 Comment
Tags: , ,
images

ilustrasi aja

Sop ayam Pak Min adalah sop yang enak sekali. Dia punya restoran selalu ramai dikunjung orang. Saya salah satunya. Kalo siang, kalo saya lapar, saya berharap saya ada dekat restoran Pak Min. Karena saya paham, hangat kuah dan lada sop Pak Min bisa buat perut jadi tenang, tenang seperti laut yang diam setelah badai. Tapi ada satu hal yang bikin saya gundah setiap kali saya injakkan kaki di restoran itu. Ini bawaan masa kanak, sodara, sebagai orang yang obsesif, saya selalu ingat kata abang saya: ‘Itu kan warung baso yang rame itu katanya sepi sekarang. Ketauan kalo di dalem pancinya ada celana dalemnya. Katanya buat jimat. Biar laku dagangannya.’ Hingga kini saya tidak pernah tahu kalo apa yang abang saya bilang itu benar atau tidak, faktual atau tidak. Karena saya belum pernah melakukan verifikasi—dengan tangan dan mata kepala saya sendiri. Meski saya sadar, ada banyak orang yang bisa kasih kesaksian soal itu. Sodara bisa baca kesaksiannya di internet. Ini kasus yang jamak ternyata. Bahkan Pak Wagub yang tidak tinggal di pulau Jawa pun pernah dengar dulu. Ini jadi soal. Itu pasti. Masalahnya dengan mitos ya itu; kita tidak pernah tahu pasti dia itu benar atau salah. Sementara perut saya lapar. Dan saya butuh makan; saya butuh kuah hangat dan  lada itu! Jadi, apa yang saya lakukan? Saya makan saja. Karena, kesatu, saya tidak tahu persis apakah betul ada celana Pak Min di dalam panci panas yang berasap sedap itu; kedua, saya sungguh lapar dan tidak punya waktu juga tenaga juga nyali juga kemauan juga muka yang tebel untuk melakukan verifikasi secara independen—bah, bahkan saya enggak berani nanya ke Pak Min: Pak, saya mau tanya, apakah mungkin dalam hidup bapak sekali atau dua kali atau sekarang pada saat ini ada celana dalam bapak atau istri bapak di dalam panci panas bersama dengan daging, tulang dan kaldu yang sedap itu? Saya bisa digebugin sama pegawainya yang banyak itu. Saya bahkan bisa dilaporin ke polisi. Untuk apa, untuk sebuah asumsi yang belum tentu benar? Untuk sebuah desas-desus yang dulu mungkin dihembuskan oleh tukang batagor yang dagangannya kalah laku sama tukang baso? Sungguh tidak bisa. Hidup begini singkat, dan perut begini lapar, apa perlu saya belagak sok ilmuwan gendeng yang memuja kepastian dan menunda lapar saya sampai saya yakin sepenuhnya bahwa tidak ada aroma dan bakteri celana dalam di dalam sop saya yang luar biasa lezat itu? Tidak. Saya butuh makan. Kepastian bisa menunggu. Untuk sementara, saya akan bersandar pada lompatan iman saja: bahwasanya semuanya baik-baik saja; bahwasanya sop ini tidak bersalah, bahwa semua benar dan baik adanya. Pertanyaan tentang celana dalam itu bisa saya tunda; yang mendesak saat ini adalah lapar  dan makan. Saya memang butuh jawaban, ilmiah atau tidak, bukan soal. Terlepas apakah jawaban itu sudah diverifikasi atau belum, jawaban adalah jawaban. Karena itu, saya makan saja sop itu dengan mengandaikan segalanya baik-baik saja; bahwa isu celana dalam itu adalah isu belaka, tanpa harus mempertaruhkan muka dan harga diri saya di depan pelanggan lain yang mungkin juga sama dengan saya: mengenyampingkan fakta bahwa ada rumor bahwa ada sebuah cerita tentang celana dalam penglaris; yang dilihat dari berbagai sisi pantaslah disebut sebagai gosip murahan belaka. Meskipun…[silahkan berargumen]

Celana dalam Pak Min dan istrinya adalah metafora dari pilihan kita untuk percaya kepada Tuhan. Bedanya adalah: di restoran itu kita membayangkan celana dalam itu tidak ada, sementara dalam beragama kita membayangkan Tuhan itu ada. Kita andaikan Tuhan itu ada, meski tak satupun dari kita pernah melihat-Nya, meski bahwasanya apa yang kita punya hanyalah lompatan iman, yakni sebuah dugaan yang kita emansipasikan levelnya menjadi apa yang kita sebut keyakinan. Apalah bedanya duga dan yakin; keduanya sama-sama gerak hati, bukan? Itu semua karena hidup begitu singkat dan ongkos untuk menjawab pertanyaan pelik terkait teologi terlalu besar untuk kita bayarkan; siapa mau hidup jadi santo di seminari, jadi sufi seperti Jalaludin Rumi, jadi filsuf gendeng yang tak bisa tertawa, atau yang paling mahal dari semua itu: jadi orang mati, seperti yang dulu pernah dikatakan guru ngaji saya, tentang Khalifah Ali yang menebas kepala seseorang agar ia bisa melihat Kebenaran. Ah, Tuhan, Kebenaran Absolut, Kenyataan Tertinggi; hanya bisa dibuktikan kalo kita sudah mati. Itu sebab, bukan karena apa-apa, hidup sudah begini penuh dengan berbagai keharusan yang mendesak, segala pertanyaan besar dan penting itu, seperti apakah arti hidup, apakah cinta itu, mestilah kita tunda. Karena hidup selain untuk dipahami juga untuk dijalani. Jadi Tuhan atau celana dalam—kita butuh iman, butuh pengandaian agar hidup jalan terus; dan kita hanya bisa berharap bahwa suatu saat segalanya akan menjadi terang. Sementara itu, nikmatilah sop ayam itu, nikmatilah ibadahmu yang khusuk itu.

Sampai jumpa.

Advertisements

1 Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Apapun itu, saya selalu mampir makan sop ayam pak min yang di Klaten. Kalau di Jakarta sih paling deket yang di Kembangan..


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: