manusia lain

December 19, 2013 at 1:15 am | Posted in katarsis | Leave a comment
Tags:

saya lebih suka menyebutnya manusia lain.

????????

di atas kereta; foto dari kompasiana

itu karena selalu ada kesan subversif dan sinister dari frase ‘orang lain’—yang entah kenapa selalu saya pahami sebagai orang asing yang mengancam kebebasan, kedirian kita. manusia lain itu—beda. meskipun, pada sejatinya, frase itu merujuk pada entitas yang sama, pada objek yang sama, yakni manusia yang bukan kita, manusia yang berada di luar alam pikiran dan perasaan kita, manusia yang tidak merasakan kesedihan dan sakit gigi kita, manusia yang dalam bahasa percakapan kita sebut, well, orang lain. bedanya ada pada persepsi yang dibentuk oleh frase itu; ketika saya menyebut manusia lain, saya membayangkan orang yang berada dalam situasi eksistensial yang sama dengan saya; manusia yang dihantui oleh pelbagai ketakutan hidup; manusia yang terjebak pada ambiguitas keberadaan; manusia yang tidak bisa mengatasi konflik moral di dalam batinnya; manusia yang tidak mengerti mengapa ia merasakan a dan bukan b, atau c dan d; manusia yang, sering kali, secara sadar melakukan kesalahan-kesalahan, menyesal, dan kemudian merasa begitu nelangsa karena tidak bisa mengerti kenapa segalanya terjadi begitu saja, seperti bencana alam yang menelan banyak korban, atau kopi panas yang tumpah di meja tamu tempo hari—kopi itu panas kita sudah tahu, tapi itu tak membuat kita tak terkejut seperti orang bodoh ketika kita mengabaikan semua logika hanya untuk memastikan bahwa kopi itu panas!

frase manusia lain adalah pengakuan atas persamaan derajat; bahwa siapapun orangnya, seberapapun menyebalkannya mereka, seberapapun bejatnya mereka, mereka adalah manusia juga; manusia lain tidak semestinya kita nilai sebagai lebih jelek atau lebih buruk; karena who the fuck are we to judge other people? saya membayangkan sitok srengenge dan semua perempuan yang dia lukai; saya membayangkan angelina sondakh, anak-anaknya dan setiap anak jalanan yang hidupnya susah karena korupsi yang masif dan tidak berkesudahan. saya membayangkan kalo di balik semua itu, di balik semua peristiwa dan dendam dan kutukan dan segala apa yang kita harapkan tidak perlu dan tidak akan terjadi lagi, ada manusia yang luka, bergelut dengan kerasnya hidup dan batinnya sendiri, dalam sunyi, sepi dan sendiri.

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: