jakarta, adalah

December 17, 2013 at 1:38 am | Posted in curhat, katarsis, ngoceh | 2 Comments
Tags:
Jakarta

not a pretty sight; but that’s home

orang jakarta itu emang bajingan semuanya; ga bisa ngantri, tukang gebugin pembantu, suka marahin pelayan restoran, gak tau sopan santun kalo naik eskalator, pokoknya tidak beradab, tidak berbudaya—mereka berperangai buruk! mereka yang pernah tinggal di luar negeri, yang sudah melihat betapa ‘baiknya’ bangsa lain, sudah barang tentu merasa miris dalam hati: ‘oh, gila, ternyata mereka lebih ramah dari kita, lebih ‘timur’ dari kita, lebih ‘islam’ dari kita! oh, ternyata selama ini kita ditipu oleh slogan-slogan basi, bahwasanya orang indonesia ramah senyum, suka gotong royong, dlsb!’ dan kemudian mereka, warga indonesia yang pernah tinggal di luar negeri itu, berujar, memberi nasehat seperti ibu guru zaman SD dulu, bahwa ‘alangkah baiknya’ kalo kita menjadi seperti mereka; kalo kita bisa ‘mempraktikkannya setiap hari’—semua itu agar kita, maksudnya orang jakarta, bukan orang daerah, bisa lebih berbudaya; bisa lebih beradab! orang jakarta emang mesti diceramahin setiap hari karena penyakit moralnya sudah begitu akut; ini kota yang sakit!

kenyataannya jakarta emang adalah kota yang sakit; dan saya mencintainya seperti seorang perempuan sinting yang tidak bisa lepas lelakinya, lelaki—yang—juga—sinting. setiap kali saya ke luar negeri, atau ke provinsi lain di negara kepulauan ini, ke tempat-tempat yang jauh dari tempat saya tinggal, saya selalu ingat jakarta, atau jabodetabek, dengan segala kebrengsekannya, dengan segala keakrabannya; saya ingat tukang rokok yang ada di perempatan jalan itu; atau ibu-ibu tukang nasi uduk di pertigaan jalan dekat kosan saya dulu; juga pangkalan ojek, tukang tambal ban, warung rokok, jalanan padat ketika matahari turun di barat, dan menyibakkan sinar kuning oranye yang bikin jakarta, meski tadi saya tamsilkan seperti ‘lelaki sinting’, tampak lebih cantik dengan segala kesemrawutannya. kacau tapi puitis, kekacauan yang jelita. saya ingat malam-malam di stasiun kereta; dengan lantainya yang kotor, dengan para pengamen, anak-anak punk yang dekilnya minta ampun, juga pengasong—mereka yang tidak perduli aturan; saya ingat mereka ada juga yang mengemis minta uang; seperti anak-anak yang bilang ‘semir, pak, semir, pak’, mengiba dan meminta; kita, pun, seperti menganggap semua itu wajar adanya; seperti tidak ada yang bisa kita lakukan selain menerima keadaan itu, bahwa perubahan mungkin akan terjadi nanti, bukan sekarang. di dalam hati kita memaklumi, bahwa pengamen buta yang melanggar aturan itu, setidaknya pada malam itu, pada jam itu, bisa mencari nafkah di sana; saya kadang memberinya uang, kadang tidak. entah itu membuat saya menjadi orang baik atau orang jahat; kota jakarta adalah kota yang taksa, kota yang tak selalu bisa dipahami, meski sering menjengkelkan; seperti di kala jam sibuk; keluar gerbong itu susahnya minta ampun, seolah pengumuman “dahulukan penumpang yang turun” dituliskan dalam bahasa yunani atau sebagai persamaan teori relatifitas. oh, jakarta, betapa bajingannya, betapa brengseknya engkau!

biarpun demikian; kota ini masih dihuni manusia; manusia yang saya yakin masih bisa beramah tamah (dalam bentuknya yang mungkin tidak familiar, tidak dipahami mereka yang lama tinggal di luar negeri, atau di luar jakarta), adalah manusia yang juga punya nurani; yang siap membantu mereka yang berada dalam kesulitan. adalah sifat dari kota-kota besar di dunia untuk menjadi impersonal, untuk menjadi egois. saya membayangkan new york dan new delhi seperti itu. tapi apa itu membuat mereka, yang tinggal di jakarta, menjadi orang-orang yang betul-betul tidak beradab? entahlah, mungkin iya, mungkin enggak. yang jelas saya kerap bertanya apa betul mereka yang tinggal di kota lain yang sebanding dengan jakarta itu juga lebih ramah, lebih punya moral, lebih beradab…?

2 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Nice reading. Saya yang capek melihat lalu lintas jakarta setiap hari, pada akhirnya nyerah dan memilih menjadikan semua rutinitas pagi sebagai hiburan, bahan tertawaan hingga sampai kantor. Kalau terlalu dipikirkan, bisa mati muda kita di jakarta ini.

  2. […] berperadaban dari Jakarta yang dekil dan kampungan! Tapi, tapi, tapi kami tidak pernah protes. Hanya saya kali yang protes. Kami tidak pernah melaporkan mereka ke polisi. Dosen-dosen kami tidak pernah menghukum mereka. Dan […]


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: