APOTIK! APOTIK!

December 5, 2013 at 3:56 am | Posted in katarsis | 7 Comments
Tags:

indexBuat saya, bahasa itu bukan soal baik atau benar. Bahasa itu soal rasa. Kalo rasanya gak enak, ngapain dipaksain? Misalnya istilah apotik. Kalo dari dulu kita sudah biasa bilang ‘apotik’ kenapa harus dibilang salah dan dipaksa untuk bilang ‘apotek’? Katanya mereka, itu karena dari bahasa aslinya ‘apotek’ bukan ‘apotik’ dan kita bilangnya ‘apoteker’, bukan ‘apotiker’. Tapi kalo bilang ‘apotek’, saya malah geli lidahnya karena ingat ‘ketek’. Kata ‘apotik’ buat saya malah ada rasa kesehatannya, mungkin karena bunyinya sama dengan antibiotik dan suntik. Jadi, kenapa orang yang sebut ‘apotek’ itu ‘apotik’ dianggap salah dan karenanya bodoh? Bahasa itu buat saya bersifat alamiah, adalah bagian dari upaya manusia menjadi manusia. Bahasa bukan matematika, tidak ada rumus yang berlaku umum di mana saja kapan saja. Itu sebab, konon katanya kamus Oxford mengadopsi istilah ‘selfie’ atau ‘twerk’ atau ‘because’ dalam arti ‘karena’. Bahasa itu hidup. Menulis sesuai dengan aturan itu baik, tetapi menulis tidak sesuai dengan aturan juga tidak berarti jelek. Saya bisa tulis kalimat ini begitu panjangnya tanpa ada koma dan titik dan kemudianmenyambungnyatanpa spasi DENGAN HURUF KAPITAL dan apA sajA Saya mau saya kira tidak menjadi masalah yang terlalu besar. Saya bukannya benci sama polisi bahasa. Saya pikir kita memang harus punya aturan. Tapi karena kita hidup dalam sosial media sekarang, menulis menjadi medium keseharian untuk kita mengada. Dan menurut saya segala aturan bahasa Indonesia yang baik dan benar itu membebani. Kecerdasan berbahasa itu tidak ditentukan oleh seberapa taat kita pada aturan, tapi seberapa kreatif kita dalam mengutarakan dan menyampaikan apa yang hendak kita utarakan dan sampaikan. Jadi, jangan ragulah untuk menulis sekehendak hati. Urusan ejaan dan tata bahasa bisa dipikirkan nanti kalo mau menulis esai buat Kompas atau bikin lamaran kerja. Demikian uneg-uneg saya pada kesempatan kali ini. Tabik.

 

 

Advertisements

7 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Rasanya memang ada bedanya antara kesalahan yang mengundang kerancuan, tertib-eja demi kerapihan, dan kasus-kasus seperti “apotik”.

    Ini sudah langganan masuk daftar “kesalahan-kesalahan” tapi kita selalu ngeyel, jadi pesannya buat saya jelas: lengserkan “apotek” dan biarkan “apotik” menjadi yang resmi. Ra’yat sudah memilih.

  2. Mirip mirip dengan praktek dan praktik 🙂
    Kalau bukan untuk konsumsi resmi (karya ilmiah, tesis, dll) memang terkadang justru kreatifitas bahasa itu yang membuat tulisan menarik 😀

  3. Kalau bahasa Jepang, selalu ada revisi tia berapa tahun sekali untuk membakukan bahasa populer, jadi bahasanya selalu berubah. Buku pelajaran bahasa Jepang pun ikut berubah karena itu. Ini sudah banyak terjadi terutama untuk menyederhanakan tata bahasa yang tadinya panjang. Jadi sangat mungkin sekali di Jepang untuk Apotek berubah menjadi Apotik sebagai bahasa baku yang diakui, misalnya.

  4. Saya kira problem khas Indon lah. Tidak terlalu taat aturan bahasa bukan berarti lupa tujuan menggunakan bahasa. *belajarkomenserius*

  5. Sementara itu, status2 FB dengan isi “bahasa indonesianya [insert english] apa sih?” muncul dengan teratur di wall…

  6. zaman bukan jaman.

  7. Tapi kenapa penulisan apotek ko bisa jadi apotik. Kenapa bisa seperti itu


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: