kebajikan nyinyir

October 15, 2013 at 7:21 pm | Posted in iseng, katarsis, kebudayaan | Leave a comment
Tags: ,

saya membayangkan saja—membayangkan

kalo mereka bertanya kepada saya: hoi, masalah lo apa? ini jawaban saya: masalah gue itu lo, man, lo dan semua orang yang gayanya dan tingkahnya patut disinisin, patut dinyiyirin. kalo mereka bertanya lagi, kali ini mungkin sedikit bekhutbah, ngapain ngurusin orang lain? atau apa emang ada manfaatnya nyinyirin orang? saya bakal bilang saya tidak tahu—tapi saya bakal menambahkan juga kalo sesuatu yang tak berguna bukan berarti jelek, bukan berarti perlu dijauhi. kita tidak pernah tau, kali aja hal-hal terbaik dalam hidup itu berawal dari segala hal yang tak berguna; begadang, misalnya, atau main tetris. seperti banyak hal lainnya dalam hidup, kita tak betul-betul tau apa yang kita inginkan dan lakukan. ada banyak kalanya ketika kita melakukan sesuatu karena ingin saja, tanpa motif dan alasan jelas. meskipun dalam kasus menyinisi dan menyinyiri orang, sering kali orang emang gak kuasa menahan jengkel saja. mau tak mau mesti disalurkan. nah, berhubung ada sosial media, gratis dan mudah, saya mau gimana lagi? koprol dan bertapa di kali ciliwung?

0949071-susilo-bambang-presiden-sby-sby-620X310

anda mau koprol dan bertapa di kali ciliwung?

tapi masak iya gak ada gunanya sama sekali?

baiklah. karena saya lagi gak ada kerjaan, dan saya kagak bisa koprol dan males ke ciliwung (jauh, bung!), saya mau ajukan proposisi kalo nyinyir itu penting dan banyak sekali gunanya. salah satunya adalah—sinisisme bisa jadi katalis menulis yang baik. dan kalo udah sampe tahap sinis yang nyinyir (bawel kayak mbak-mbak TKW di bandara, ngebacrit hal yang sama secara berulang-ulang), itu artinya ente bakal sering berlatih menulis; kalo ente rajin baca, itu bacritan makin lama bisa makin bermutu. salah duanya adalah—sinisisme dan nyinyirisme melatih ente untuk punya pendapat, punya posisi, punya strong opinion mengenai sesuatu. dan itu, sadarilah, bukan suatu hal yang buruk juga. boleh jadi emang pendapat kita salah, dan kita mungkin goblok banget udah salah malah nyinyir. memalukan, tapi, ya tak apa. toh nanti juga sadar sendiri. 😛 setidaknya kalo salah akhirnya diberitahu salah, daripada diam dan tidak pernah tahu apakah pendapat kita yang kita pendam sendiri itu benar atau salah, karena tak pernah sekalipun teruji. kalo ente jenius mungkin gak apa-apa. tapi kalo cuma manusia biasa, manusia medioker seperti kebanyakan kita—gimana?

jadi sebenernya masalahnya apa dan di mana?

masalahnya menurut saya adalah: sinisnya gimana? nyinyirnya gimana? dan yang lebih penting: nyinisin siapa? nyinyirin siapa? saya gak bilang kalo sinisisme itu ada tingkatannya, atau bahwa ada sinis putih dan sinis hitam. buat saya segala macam sinis dan nyinyir itu baik dan benar tergantung yang punya mata. saya hanya ingin menggarisbawahi bahwa sinis dan nyinyir (yang kini hampir menjadi sebuah sinonim) itu akarnya skeptisisme. dan saya berani bilang kalo skeptisisme itu adalah sebuah kebajikan, sesuatu yang banyak manfaatnya! bagi saya, skeptisisme adalah pengakuan kalo kita emang manusia belaka, manusia biasa, bukan orang paling pintar, bukan tuhan, bukan malaikat, bukan orang paling tahu mana yang paling benar, mana yang paling baik. itu sebabnya, objek dari sinisisme itu biasanya adalah orang-orang yang self-righteous semacam agamawan dan aktifis lingkungan yang kadang minta dipentung. itu karena sebagai orang yang sinis kita tidak lagi menganggap kebenaran sebagai sesuatu yang absolut, yang tidak bisa dikritik dan ditawar-tawar lagi. tentu saja menjadi sinis sama sekali bukan berarti tidak mau melakukan apa-apa; seorang skeptik tidak serta-merta meragukan semuanya. seorang skeptik bisa saja menjadi advokat skeptisisme dan hidup secara normal; mereka bisa jatuh cinta, menikah punya anak dan pengen punya rumah sendiri. hanya saja, harus diakui bahwa memang ada hal-hal dalam hidup yang layak diragukan kesahihannya, sesuatu yang layak untuk disinisi, dinyinyiri sampai mati. tapi kita sinis bukan hanya karena kita sinis, tapi karena kita skeptis. itu sebab kita mesti punya dosis humility yang cukup. sinis bukan berarti sok tau, sok paling bener—kadang, sinis hanya berarti gue gak yakin lo ngerti/jujur (dengan) apa yang lo bilang/kerjain.

internet-trolls

bukan ini maksud saya tentunya

gak semua hal dalam hidup ini layak disinisi tentu saja. kalo ada orang cacat berjuang demi hidupnya dan berhasil mendapatkan apa yang ia inginkan, kita mau sinis gimana? tapi kalo ada orang yang kemudian membesar-besarkan pencapaian orang cacat itu, mengaku terharu dan bilang: ‘seharusnya kita semua malu!!’—ya, itu, apa boleh buat, adalah satu obyek sisnisisme yang paling empuk, jamak. apalagi di zaman sosmed kayak gini; sekalipun ente betul-betul berbuat kebajikan buat oang lain, kalo ente umbar di sosmed, orang mudah jadi sinis, setidaknya meragukan motif ente: ini orang ikhlas atau cuma kepengin moles citra diri? mungkin agak susah kalo saya sebutkan semua contoh kasus sikap yang layak disinisi. mungkin begini, ini saya mungkin asal ngomong aja, tapi bagi saya obyek sinisisme setidaknya terbagi dua: yakni mereka yang naif dan mereka yang sok atau belagak. yang terakhir tentu lebih parah penyakitnya; karena sudah naif—sok pula. dosis sinisnya tentu harus lebih tinggi. mereka yang naif biasanya adalah keramaian yang percaya pada kebenaran tunggal yang belum teruji, keramaian yang secara tidak sadar patuh pada kehendak kolektif yang kesahihannya, kemurniannya layak dipertanyakan. kadang saya suka gak tega mensinisi mereka (mereka yang mudah terharu itu, misalnya); tapi ya apa boleh buat, karena keramaian yang buta ini kadang mudah sekali jadi tiran, jadi buli kolektif. sementara orang ‘belagak’ itu ya mungkin lebih banyak ragamnya; saya udah males kasih contoh (baca saja blog ini, kalo mau aja). lagian, saya percaya bahwa sinisisme dan nyinyirisme itu sejatinya adalah proses yang alamiah: lo tau kapan lo harus sinis sama orang; lo tau kapan lo merasa jengkel sama mereka yang mengaku sebagai penebar kebijaksanaan, sama mereka yang menulis dengan istilah-istilah besar dan keren (ada banyak sekali alasan untuk meragukan mereka yang cuma pengen dilihat keren, pinter dan lain sebagainya—apalagi di internet). ada banyak cara dan alasan untuk menjadi sinis dan nyinyir. pastikan ente melakukan itu bukan untuk gaya-gayaan, bahwa ente bisa mengoreksi orang lain. ente sinis dan nyinyir karena ente mempertanyakan klaim dan asumsi mereka. kalo mereka menyebalkan dan ente senang bisa meledek mereka, itu—itu anggap saja bonus. 🙂

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: