Gue Bukan Wiji Thukul

September 30, 2013 at 5:05 pm | Posted in katarsis | Leave a comment
Tags: , ,

wiji thukul

Gue bukan Wiji Thukul. Gue satu dari milyaran orang yang bisa nulis di Internet. Gue bukan aktifis. Bukan buronan intel. Bukan buronan Kopasus juga. Buronan mertua juga bukan. Gue gak pernah mengorganisasi masa untuk melawan penindasan—apapun itu, otoritarianisme Orba atau preman pasar. Gue bukan Wiji Thukul. Gue gak pernah menulis puisi untuk melawan tiran. Gue bukan orang berani, seperti Thukul. Gue bukan orang yang mau bergerak, mau repot konfrontasi sama penguasa demi tegaknya apa yang Thukul sebut ‘kebenaran’. Gue bukan Wiji Thukul. Gue suka nulis puisi, tapi puisi gue puisi yang kebangetan egois—gue suka ngejar kereta kalo siang, kalo malam naik ojek dari stasiun ke rumah, ngebayangin indomie, lalu tidur sama anak dan istri. Laiknya borjuis. Gue ini borjuis kecil, kalo kata Thukul. Gue, gue bukan Wiji Thukul. Bukan. Gue bukan si penyair begeng, kriting, item, kucel, dengan mata bengeup abis digetok aparat itu—yang kini abadi dalam benak gue setiap kali gue mau mengenangi hari-hari terakhir Pak Harto di pucuk kuasa. Gue bukan Wiji Thukul—yang hidupnya adalah puisi itu sendiri, yang hilangnya, matinya, menjadi mitos yang bakal terus menghantui gue yang cuma bisa ngomel, curhat, nulis di Internet. Gue, gue bukan Wiji Thukul.

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: