gila atau/dan lapar

July 6, 2013 at 4:02 am | Posted in katarsis | Leave a comment
Tags: , ,

pujangga paman sam charles bukowski harus memilih di antara dua: bekerja di kantor post atau jadi menulis sajak dan kelaparan. dia pilih kelaparan. untung, dia jadi sukses dan terkenal. mungkin dia tidak sukses secara finansial. dia bukan ginsberg atau auden yang minta 1,000 sampai 2,000 dolar untuk satu sesi resital sajak. mungkin, entah saya tidak tahu, dia juga tidak puas secara emosional dengan apa yang dia lakukan. yang jelas dia sudah ambil pilihan. pilihan yang jauh lebih baik dari menjalani hidup sebagai pegawai di sebuah kantor dan jadi sinting karena kerjaan, karena melakukan hal yang sama berkali-kali, melakukan hal yang sama yang tidak dia suka berkali-kali, melakukan hal yang sama bersama dengan orang-orang yang dia tidak suka berkali-kali. dia memilih lapar. ironisnya, mungkin dia tetep aja, dalam banyak cara, dianggap gila. lapar dan gila.

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: