pujangga gramed

June 22, 2013 at 4:44 pm | Posted in katarsis, SOC | 3 Comments
Tags:

poetaku selalu bertanya mengapa mereka, para penulis itu, menulis sajak-sajak yang mereka tuliskan. sajak-sajak itu apa mereka tuliskan karena mereka ingin ‘bisa’ menulis sajak dan disebut penyair? aku pikir dunia sudah sempit oleh pena para pujangga. entah sudah berapa buku kumpulan puisi yang diterbitkan di negeri ini, entah ada berapa judul antologi puisi aku temui di gramedia, oleh pengarang entah siapa, menulis sajak entah apa, aku hanya bisa menemui kata-kata yang dirangkai begitu rupa, tidak mengerti aku artinya apa, tidak ada efeknya sama sekali di dalam hati, di dalam kepala kecuali bahwa sajak-sajak itu sangatlah membosankan. aku selalu bertanya mengapa mereka, para penulis itu, merasa perlu untuk ‘menerbitkan’ sajak-sajak mereka—tulisan-tulisan mereka, karya-karya mereka dikumpulkan begitu rupa untuk dijual di toko buku dengan harga yang tidak seberapa. itu semua, untuk apa? aku selalu bertanya bila mereka, para penulis itu, yang biasa memberikan pelatihan menulis atau malah membentuk komunitas menulis itu, pernah tahu getirnya kalah, getirnya sepi, getirnya hidup—getirnya sakit hati! aku selalu bertanya bila ada yang disebut ‘tips’ atau ‘teknik’ dalam sajak, seolah sajak adalah kegiatan memasak atau menulis lamaran kerja. dalam sajak, memahami dan menjalani hidup adalah tujuan. jadi tak perduli apa kata profesor sastra tentang metode kritik sastra yang baik dan benar. tidak ada yang mengajarkan kita untuk menangis, tidak ada yang mengajarkan kita bagaimana caranya berduka, tidak ada yang mengajarkan kita tentang kesunyian; kenapa kita butuh seminar untuk memahami sajak, untuk menjelaskan kenapa kita butuh sajak? kenapa tidak kita biarkan saja kita jadi manusia dengan menulis dan membacai sajak-sajak yang manusia? apanya yang teknis dan perlu dianalisis dari kehendak manusia untuk bertanya dan menulis, ‘kematianmu akan begitu panjang dan sunyi/ketiadaan yang panjang dan sunyi.’ — a.h.

Advertisements

3 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Pujangga Toko Gunung Agung mana…? :3

  2. oh toko gunung agung masih ada ya? hahaha

  3. ^
    masih, oom. kapan hari kemarin saya cipokan di dalam mobil, di parkirannya 😛


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: