ágnōstos theós

June 17, 2013 at 1:21 am | Posted in katarsis | 1 Comment
Tags: ,

669879-6-allah-calligraphy

allah harusnya ada di luar kata; harusnya ada-nya dia tidak seperti yang selalu mereka bilang; tidak seperti yang selalu kita bayangkan. dia, allah yang tidak dikenal, adalah allah yang hanya bisa diyakini, bukan dipahami, suci dari prasangka manusia yang serba nisbi. tapi saya mafhum manusia mana bisa hidup tanpa kata, tanpa prasangka. ada sebab masjid-masjid didirikan, dan sajak-sajak dituliskan. kita butuh representasi atas segalanya, apalagi untuk semua yang tidak terperikan itu. itu sebab orang biasa mengatakan dan melakukan sesuatu sebagai tanda kasih, tanda hormat, sebagai ungkapan duka dan suka, dlsb. seperti yang diceritakan dalam kitab suci, bangsa yunani dulu pernah menuliskan sebuah mezbah untuk allah yang tidak dikenal—mereka sebut dia ágnōstos theós [ἄγνωστος θεός]. mereka butuh mezbah itu, mereka butuh allah yang tidak dikenal, karena di kala itu allah direpresentasikan sebagai dewa-dewa yang terlalu manusia, seperti zeus, dewa bapak, dan ares, dewa perang yang galak. tetapi meskipun mereka ingin lepas dari allah yang keruh oleh prasangka manusia, toh bangsa yunani masih juga butuh ikon: yakni, ágnōstos theós. hal yang kurang lebih sama terjadi di jazirah arab sebelum nabi dilahirkan; ketika kata ‘allah’ diciptakan. dalam bahasa arab, ágnōstos theós adalah allah—allah yang bukan berhala-berhala yang kala itu ada, allah yang adalah allah, allah yang bebas dari khayalan orang kala itu. dalam bahasa indonesia, ágnōstos theós  adalah tuhan. god, dalam bahasa inggris. allah dalam ‘pengertian’ ini adalah allah yang diandaikan ada, allah yang bukan untuk diperdebatkan ada dan tidak adanya karena pengertian ada dan tiada serta kemungkinan ada dan tiadanya dia diandaikan berada di luar jangkauan pemikiran manusia—apa yang bisa indra kita dapati hanya materi saja, dan allah sejatinya bukan materi. dalam salat saya berupaya untuk dekat dengan allah yang tidak dikenal ini; dalam salat saya mendapatkan keteduhan; islam (berserah diri) jadi alat, jadi sarana, jadi medium antara saya dan ágnōstos theós. kalo hidup sudah jadi misteri, kalo hidup sudah tidak lagi bisa dipahami, kalo hidup hanya menawarkan absurditas, allah sebagai sebuah pengandaian, betapapun tidak masuk akalnya, bisa jadi obat, bisa jadi keping terakhir yang bisa menggenapi segala yang ganjil dari hidup.

Advertisements

1 Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Maka, dengan perkataan apalagikah kamu akan percaya !
    “ Apabila nafas telah mendesak ke tenggorokan, dan dikatakan (kepadanya): ‘Siapakah yang dapat menyembuhkan?’, dan dia yakin bahwa sesungguhnya itulah waktu perpisahan (dengan dunia), dan bertaut betis (kiri) dengan betis (kanan), kepada Rabbmu lah pada hari itu kamu dihalau.”
    Merdeka… !


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: