bloger sinting mana?

June 6, 2013 at 5:44 am | Posted in katarsis | 4 Comments
Tags: , ,

mana yang sebetulnya menghambat saya dalam menulis, bahwa saya terlalu waras atau terlalu gila untuk menulis, saya sama sekali tidak tahu. kata susan sontag, kali ini saya ngutip dia beneran, orang kudu bisa jadi minimal dua dari empat macam orang agar bisa menulis secara baik. satu, dia harus sinting; dua, dia harus tolol; tiga, dia harus genit (tulisannya mesti punya gaya); empat, dia harus nyinyir (tukang kritik!). saya pikir saya udah gak sesinting dan setolol dulu, dan saya juga udah capek ngritik. dan lama-lama males juga menulis dengan banyak macam renda dekorasi yang tidak perlu. katanya sih, yang penting sinting untuk bisa menulis dengan baik, karena orang kalo kurang sinting tulisannya seperti tertahan, terlalu formal, tidak natural—singkatnya, membosankan. ini kali meungkin sebab blogosfer jadi agak sedikit membosankan, karena semakin hari bloger sinting semakin langka. yang tersisa bloger-bloger waras yang suka menulis tentang bagaimana membuat kopi di hari libur, atau menulis tentang bagaimana membantu anak-anak yang kurang mampu. itu bagus sih, saya pikir emang perlu, tapi sebagai tulisan sama sekali tidak menggugah; eh, tapi mungkin menggugah buat orang lain, entahlah. apa yang saya tuliskan ini juga mungkin hanya menarik buat saya, atau malah sama sekali tidak, karena mungkin saya hanya menulis karena ingin menulis. misalnya waktu subuh tadi, saya menulis begini:

saya tidak lagi membaca buku. saya tidak lagi menulis puisi. saya hanya duduk di depan laptop, kadang di depan televisi, atau, bila ada keinginan, di tepi jendela, melihat langit dan awan lagi. hidup sudah lama berjalan. hingga kini, semuanya masih tidak berjawab. saya sudah lupa sama anak-anak palestina yang tinggal di jalur gaza; sudah tidak ingat lagi dengan anak jalanan di lampu merah sebelah gedung DPR, sebelum rel kereta api dekat palmerah. saya ingat, mereka itu dekil, baju mereka dekil; yang kecil apalagi, dekil pipinya lebih-lebih karena ingus jadi bubur debu jalanan. itu apa karena saya kini sudah jadi lebih dewasa, lebih sabar, lebih bijaksana? tidak. dari dulu saya gak percaya orang semakin tua semakin bijak. usia tidak membuat mereka yang duduk di kursi kekuasaan berhenti mencuri. usia tidak bikin mereka jadi lebih pintar juga. sampe hari ini saya pikir saya masih sama begonya dengan saya sepuluh tahun lalu ketika saya lihat jalanan kota dari jendela bus patas 45 dari blok m ke tangerang, membayangkan semua yang telah terjadi, semua yang bakal terjadi, sambil menghayati kekinian saat itu, cahaya senja yang menyala, orang-orang yang ada di dalam bus, orang-orang yang ada di pinggir jalan.

tulisan itu tidak saya selesaikan karena saya pikir sama sekali tidak ada yang baru dari apa yang saya tuliskan itu. kalo memang ada yang baru, kok rasanya tidak menarik. kayaknya dulu seru menulis, misalnya tentang apa jadinya kalo upin dan ipin itu ateis, atau apa jadinya kalo tuhan itu adalah seorang wanita, atau kenapa saya malas kerja, dan apa hubungannya itu dengan berbagai macam konsep filsafat yang bisa ditemui dalam budaya pop. misalnya, sekarang ini. hari ini, yang adalah tanggal merah, saya harus kerja. malasnya, depresinya bukan kepalang, seolah hidup saya berantakan, seolah hidup ini tidak ada artinya, hanya karena saya benci kerja, benci orang lain, benci basa-basi. tapi ini sudah tidak menarik lagi? apakah suatu saat semua penulis akan kehabisan bahan tulisan? situasi orang mungkin beda-beda. kalo anda misalnya anak gadis berusia 12 tahun suka sama coboy junior dan tidak suka debat agama atau apa saya mau bilang apa? kalo anda orang tua yang tidak pernah kenal budaya pop, tidak pernah tahu kurt cobain atau pure saturday, saya mau bilang apa? masak iya semua orang harus pernah dengerin nick drake dan  doyan novel-novelnya fitzgerald? kalo saya hanya bisa menulis begini, bukan tentang PKS atau geologi dan apalagi fashion atau hal lainnya yang lebih menarik, mau gimana lagi? ah, saya emang semakin hari semakin waras. saya mungkin gak lebih pintar, gak lebih bijaksana dari saya ketika awal-awal menulis dulu, tapi saya semakin waras. tak lagi sinting seperti dulu. dan itu mungkin satu hal yang membuat saya sedikit demi sedikit membenci tulisan saya sendiri.

4 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Kamu gak bisa bilang, kecap buatan kamu atau tetanggamu itu lebih manis dan gurih. Kamu cuma bisa bilang, matahari disiang ini terik sangat.
    Jadi, kamu memang tidak mampu membuat kecap, apalagi matahari..

  2. Idem dengan postingan ini. Dimengerti begitu copy ganti. Kriiik. Kriiik.

  3. go-blog eheheheh😀

  4. nah nah nah


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: