Tentang Buddha, ‘Hot Pants’ dan Moralitas Dalam Seni Fotografi: Esai Bloger Intelektuil Dengan Subtitel Kriptik Dan Nyastra

May 31, 2013 at 12:50 am | Posted in iseng, katarsis, kebudayaan | 1 Comment
Tags: , ,

Hidup adalah ikan asin, hanya bermakna bila ada sambel terasi.”

Albert Camus dalam The Myth of Sisyphus

BLT0sJ1CUAATtEu.jpg_large

Biang kontroversi

 — Fotografi itu apa saya buta sama sekali tapi saya rasa ada baiknya kalo saya mulai esai intelektuil ini dengan mengutip esais Amerika Susan Sontag sekedar untuk menakut-nakuti Anda. Lagian, apa lah artinya esai yang filosofis, nyeni dan nyastra tentang fotografi tanpa menyebut esais kesohor dan kenamaan yang betapa tragisnya dan oh-betapa-memalukannya-oh-tuhan! pasti belum pernah Anda dengar seumur hidup Anda yang dangkal dan sama sekali tidak intelek itu (ngaku! ngaku aja lah Anda sama saya!)? Kata Sontag, dalam karyanya yang fenomenal, On Photography, fotografi secara fenomenologis dimengerti sebagai ikhtiar tak berkesudahan dalam memahami, mengambil jarak atau, katakanlah, mentransendensikan secara transformatif subteks-subteks yang tidak terkatakan tapi kecil-kecil dan samar-samar dari sebuah konsep pelik yang disebut oleh para filosof Eropa semacam Lacan, Latour, Badiou, Mamat dan terutama Ujang, apalagi Ujang, sebagai peristiwa, kejadian; sebuah enframing, atau distansiasi, sebuah terasi, adalah keremangan yang berlalu di dalam kereta kesadaran subyek, predikat dan obyek; sebuah kalimat lengkap; adalah kereta odong-odong, seni yang eksistensiil, transformatif, konstipatif, abdul latif, ajebrew-jebrew.

Sampai sini saya kira Anda masih belum bisa mengikuti tulisan saya, tapi Anda pikir Anda mesti terus membaca karena Anda gengsi gak mau merasa bego karena tulisan intelektuil saya. Atau mungkin, dalam hati kecil Anda, Anda pikir saya sudah gila. Itu karena Anda belum atau malah tidak tahu apalagi baca bukunya Daniel R. Bersak yang berjudul Ethics in Photojournalism: Past, Present and Future atau Pangrumat Basa Sunda Pikeun Murid SD ­Jilid 2 mahakarya Dede Koswara dkk., kelompok filosof Cianjur yang pemikirannya kental dengan pengaruh gagasan-gagasan Roland Bhartes, bapak besar semiotika, sebuah cabang ilmu atau filosofi yang Anda kagak bakalan bisa ngarti biar udah baca berkali-kali juga, sampai Anda bingung dan lalu membatin frustasi: “ini apa gue yang bego atau ini orang emang cuma ngemeng aja ga jelas juntrungannya?” Saya yakin Anda juga pasti belum pernah dengar mahaguru kita James Natchwey atau, katakanlah,  Oscar Matuloh, seorang tokoh besar dalam dunia fotografi Indonesia yang saya juga mau sebut namanya di sini biar esai ini lebih terdengar intelektuil dan elitis. Saya kenal dengan Oscar waktu saya bekerja di Antara dulu. Oscar pernah bilang ke saya, “Saya mau ke Pasar Baru!”. Waktu itu saya nanya ke beliau, “Mau kemana, Mas?”.  Sungguh, bagi saya jawaban beliau lebih mencerahkan dari apa yang James Natchwey dulu bilang, saya parafrase, ngapain bawa kamera kalo bukan untuk ngejepret foto? Oscar, secara lebih jauh dan lebih subtil, berusaha mengajarkan saya bahwa sebuah foto harus punya tujuan, seperti dia yang kala itu mau pergi ke Pasar Baru. Saya kira pantas untuk direnungkan bahwa fotografer yang baik, dalam situasi apapun, harus punya tujuan, harus punya “Pasar Baru”-nya masing-masing. Walaupun Natchwey ada betulnya juga, apalah artinya kamera kalo bukan untuk moto, apalah artinya gelas kalo bukan untuk minum, apalah artinya sendok kalo bukan untuk makan, apalah artinya pulpen kalo bukan untuk nulis. Ini selaras dengan apa yang Soren Kierkegaard dulu bilang, “Bangku itu ada agar kita bisa duduk di atasnya” atau Sartre yang bilang ke gebetannya, filosof feminis Simone De Beavoir, “Selama hidup ini tidak bisa kita beri arti, selama orang lain hadir sebagai neraka, sendok akan selalu digunakan untuk makan, bukan begitu?”

816px-Raden_Saleh

Damn, bitch, I’m fabulous!: Hipster Raden Saleh. Self pic before it was cool.

Sampai sini esai saya pasti sudah terasa begitu panjang dan membosankan, dan saya yakin Anda lupa sudah berapa nama orang mati yang saya kutip hanya untuk mengatakan kalo kamera foto diciptakan untuk mengambil foto. Saya merasa seperti Obama ketika dia beri pidato di depan ribuan orang, ketika dia bilang: “Langit itu biru, awan itu putih, celana SD itu merah, Syahrini itu norak.” Atau persis dengan apa yang dikatakan Sutan Sjahrir di Banda Neira dulu, “Air laut itu asin.” Saya ingin menyebut beberapa nama orang lagi. Tapi kasian Anda..sudah pergi sana. Blog ini sama sekali tidak intelektuil, sama sekali tidak punya pesan tersembunyi buat mereka yang berkebudayaan dan berkebestarian (wtf, istilah apa ini??). Tapi kalo Anda penasaran sebenernya apa poin esai ini; apa hubungannya dengan Buddhisme dan celana pendek ketat buat cewe-cewek dan etika fotografi. Saya kira kita bisa mengambil hikmah dari lukisan Sujojono yang berjudul Tjap Go Meh. Dalam lukisan itu sang maestro menggambarkan emosi yang meluap-luap, seolah dia mau bilang, dari lubuk hatinya yang paling dalam, “Mind your own business, you motherfuckers! Get a life!

Seperti Chairil Anwar bilang dalam sajak-sajaknya, “Screw you“.

1 Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Masih ada yang kurang, ”sayur asamnya” ….
    Suatu saat, bangku akan berevolusi menjadi Meja. Dia akan menanggalkan sandaran – sandaran pada tubuhnya, yang di rasa kurang nyaman untuk di jadikan alas, taplak.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: