Nelayan Orba

April 27, 2013 at 5:16 am | Posted in berbagi, iseng, katarsis | 9 Comments
Tags: ,

Tak kan ada ikan gurih di meja makan/Tanpa ada jerih-payah nelayan/Daging ikan sumber gizi bermutu tinggi/Diperlukan semua manusia/Reff :/Tiap malam mengembara di lautan/Ombak badai menghadang dan menerjang/Pak nelayan tak gentar dalam darmanya/Demi kita yang membutuhkan pangan/Terima kasih pak nelayan

Selalu ada cara bagi Youtube untuk memantik kenangan—untuk mereka kembali dunia yang telah hilang, dunia yang pernah ada di masa silam, dunia yang entah kenapa selalu kita rindukan. Kali ini saya dibuat rindu oleh sebuah video yang diunggah oleh Mbak Vivi Sebayang. Dia siapa saya enggak tahu menahu. Yang jelas, kita punya kenangan yang sama, yakni beberapa lagu ‘mendidik’ yang pernah kita lihat di waktu kecil dulu. Salah satunya adalah ‘Nelayan’. Lagu ini mengingatkan saya pada Indonesia yang serba tenang dan tentram di  masa Orde Baru, pada Indonesia yang saya kenal sebelum saya tahu persis apa bedanya MPR dan DPR, pada Indonesia sebelum FPI, sebelum Jakarta Globe dan kelas menengah ngehe, sebelum selebritas dan gerombolan tengik sosial media mengutuk-ngutuki negeri ini. Saya sadar, tidak semua orang bahagia di masa itu. Dan saya memang tidak hendak menghidupkan kembali hasrat kembali pada masa Soeharto dulu. Saya hanya tersadar betapa saat ini saya tidak lagi pandai menghargai jerih payah orang lain. Waktu kecil dulu, saya terharu betul sama lagu Nelayan ini. Liriknya begitu lugas, mengena di hati tanpa ada pretensi menjadi puitis. Saya jadi ingat ikan cue yang dimasak ibu dulu. Saya makan sepulang sekolah. Pake nasi dan kecap, semuanya begitu sempurna. Itu sebab lagu Nelayan begitu mengharukan. Coba baca lagi lirik di atas, atau setel lagi videonya, dan coba bayangkan para nelayan itu. Semakin tua, kita memang semakin terbiasa dengan segala yang di waktu kecil bikin kita kagum dan haru. Saya agak sebal dengan diri saya kini karena berpikir: nelayan hanya ingin mencari uang, apa yang dilakukannya itu 100 persen egois, tidak perlu perasaaan mengiba itu! Lalu saya ingat ratusan orang yang harus mati di Bangladesh karena harus bikin bahan pakaian orang-orang kaya di Eropa dan Amerika. Lalu saya ingat blood diamond dan semua kengerian sistem ekonomi dunia yang tidak adil. Itu satu sebab saya benci menjadi dewasa. Waktu kecil dulu, kalo dengar lagu ini, yang terbayang hanya para nelayan yang sedang melaut, berjalan di tepi pantai dengan tangkapan mereka ketika senja menguning di cakrawala, adalah siluet yang sangat romantik. Dulu saya percaya betul bahwa para nelayan itu tulus, bahwa mereka ‘tak gentar dalam darmanya—demi kita yang membutuhkan pangan’. Saya ingin merasa begitu lagi. Saya mau punya empati yang bersih dari sinisisme orang kota yang egois dan jauh dari ketulusan. Saya akui saya memang tidak bisa tidak sinis dengan, misalnya, profesi guru yang semakin hari semakin terkomodifikasikan. Entah bagaimana ada disonansi di dalam hati ketika saya dengar kembali lagu Jasamu Guru. Jasa mereka memang tidak terkira harganya; lalu kenapa saya protes kalo sekolah SD yang bagus mahal sekali hari ini? Bayangan saya tentang guru yang ada di novelnya Andrea Hirata lenyap seketika setiap kali saya berdebat sama istri saya soal masa depan pendidikan anak saya yang usianya masih satu tahun. I feel bad. Saya gak mau begitu. Saya emang gampang gondok sama orang lain; tapi saya juga orang yang merasa manusia kalo saya punya empati sama orang lain, apalagi yang tertindas oleh nasib. Menurut saya Pak Nelayan, Pak Tani dan Pak Guru adalah pekerjaan yang pada hakikatnya mulia, terlepas dari motif sesungguhnya dari mereka yang memilih untuk menjalani profesi itu, juga terlepas dari seberapa besar mereka minta bayaran. Tapi, entahlah, mungkin ini karena saya terlampau romantik, tidak mampu menahan kenangan yang tumpah ruah setiap kali saya nonton video Youtube yang mengusik perasaan rindu pada yang sudah lalu. Dan ini si Mbak yang pake baju ‘geek rule’ dengan wajah 1990-an (maaf, Mbae, I don’t mean to offend you if you happen to stumble upon this blog) membuat nostalgia itu terasa aneh dan lain dan absurd, persis dengan apa yang saya tulis dulu tentang senam SKJ. Oh, Youtube. Bajingan sekali kamu.

Advertisements

9 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Pak Nelayan, Pak Tani dan Pak Guru adalah pekerjaan yang pada hakikatnya mulia, terlepas dari motif sesungguhnya dari mereka yang memilih untuk menjalani profesi itu

    …dan dokter puskesmas yang dikirim ke berbagai desa sama ‘Eyang Kakung‘. 😛 Seriously unsung heroes. Harus mendidik masyarakat, mengobati orang, plus terbentur birokrasi carut-marut…
     
    (disclaimer: obviously, bukan pengalaman saya. cuma meneruskan cerita anggota keluarga)

  2. ^ oh iya tentu ada banyak profesoi-profesi lain yang bisa dianggap mulia. tiga profresi yang disebut di atas karena ada lagunya aja. 🙂
    .
    btw, kemana aja woi!??? 😛

  3. Cari penyegaran, masbro. Yang lebih dekat keseharian. Sometimes the internet exhausts me…

    […] selebritas dan gerombolan tengik sosial media mengutuk-ngutuki […]

    ^^^ Dan ini juga ndak membantu. 😆

  4. Iya sih. Saya juga jadinya labil when it comes to socmed. Tapi kalo blog masih agak konsisten. 🙂

  5. saya juga nyari-nyari aslinya, tapi gak dapat-dapat. kira2 di TVRI, tuh video masih awet gak yah?

  6. tapi apa cuma ada di TVRI ya? bukannya ada di TPI juga dulu? ini kan tahun 1990an. sudah agak banyak TV swasta. saya nyari-nyari gak ketemu juga. akhirnya si mbak ini yang mau nyanyiin sendiri. 😛

  7. Wah ada tamu di kolom komentar…

  8. panjang umur buat Mbak yang nyanyi, itu do’aku 🙂

  9. Walaupun cuma nelayan, kalau dengar lagu itu sepertinya menyenangkan.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: