Hantu Freud atau Kenapa ‘HIMYM’ itu Dalam Pandangan Amatir Saya Lebih Mirip ‘Kera Sakti’ Ketimbang Pendahulunya ‘Friends’

March 12, 2013 at 9:09 am | Posted in berbagi, iseng, katarsis | 5 Comments
Tags: , , ,

Saya tidak pernah belajar psikologi secara formal. Dan semua yang saya tulis di bawah ini saya dapatkan Indosiar, Internet dan VCD bajakan. Jadi, itu disklemer, sodara.

Season_1_Poster

Kita semua setuju kalo serial How I Met Your Mother (HIMYM) itu sangat lah mirip dengan serial pendahulunya, Friends. Meskipun, kita mungkin tidak selalu sepakat siapa adalah siapa, siapa mirip siapa di kedua serial itu. Maksudnya, apakah Ted itu Ross atau Chandler? Apakah Chandler itu Ted atau Marshall atau Barney? Entahlah. Yang pasti, bagi saya Ted adalah Sun Go Kong, Barney adalah Tie Pat Kay dan Marshall adalah Wu Ching. Dalam banyak hal, serial HIMYM lebih mirip Kera Sakti ketimbang Friends. Kenapa? Begini…

Tiga Pribadi Dalam Satu Orang

Sudah lama saya memutar film HIMYM dan Friends sebagai semacam bekal atau katakanlah panduan untuk melewati usia 30-an, yakni satu fase sinting dalam kehidupan individu ketika ia dipaksa untuk memilih antara menikah, beli rumah, punya anak dan betulin jemuran atau tinggal di kosan sendirian, nyetok promag, mengoleksi video porno, menulis novel gelap tentang cinta dan kematian, jadi seniman bohemian, mati muda dan kemudian melegenda. Saya sudah pilih yang pertama (I don’t regret this decision but, well, life is not always a walk in the park, right? And, face it, you’re not Kurt Cobain! You’re just another loser seeking refuge on 9gag). Nah, karena saya lumayan sering nonton kedua serial itu, tampak bagi saya kalo keduanya menarik bukan karena semua karakternya itu sepantaran dan sezaman sama saya tapi karena keduanya bercerita tentang apa dan bagaimana sebenarnya menjadi manusia — yang lepas dari konteks budayanya (ini bukan soal New York); maksud saya, come on, saya hendak membandingkan HIMYM dan Kera Sakti, bahwa keduanya punya beberapa kemiripan di mata saya; benang merahnya adalah Freud.

Saya bukan pengikut Buddhisme, tapi film Kera Sakti berkesan sekali buat saya; adalah kisah yang memang layak dijadikan legenda untuk terus diulang-ulang, seperti Musa di Laut Merah, Yesus di kayu salib, Muhammad di Mekkah, Sunan Kali Jaga di Pulau Jawa, Sidhharta di Nepal(?), etc. Kita semua adalah Biksu Tong. Kita semua sedang melakukan perjalanan ke Barat mencari kitab suci (alegori dari mimpi-mimpi kita, cawan suci kita). Dalam perjalanan itu, Sang Biksu ditemani oleh Go Kong, Pat Kay dan Wu Ching. Atau, dalam bahasa gembong psikoanalisa Sigmund Freud, ego, id dan super-ego. Saat ini, teori Freud sama sekali tidak bisa dianggap ilmiah; karena apa yang disebut ‘alam-bawah-sadar’ sebetulnya tidak bisa diukur secara empirik. Kalo otak kita dibuka, kita tidak akan menemukan apa yag disebut ego dan super-ego dan id itu. Maksud saya, para neuro-scientists tidak atau belum bisa mengkonfirmasi teori Freud.  Biar begitu, apa yang saya tangkap dari Freud bisa saya lihat dalam kehidupan sehari-hari, dalam film Kera Sakti dan HIMYM. Di dunia nyata, kita semua adalah Ted sekaligus Barney dan Marshall. Ted adalah Go Kong—ego, yang menurut Freud adalah bagian dari kita yang melulu berurusan dengan dunia nyata, dengan pengambilan keputusan yang bersifat rasional dan pragmatis. Dalam diri setiap lelaki, bahkan Biksu Tong sekalipun (apalagi AA Gym, Anis Matta dan ustad PKS lainnya), ada juga sosok Barney dan Pat Kay, yakni sosok womanizer. Pat Kay adalah personifikasi dari Id, atau dorongan naluriah untuk merasakan yang enak-enak. Hanya saja, tidak semua orang bisa seperti Barney dalam film HIMYM karena kita dibatasi oleh super-ego, oleh Wu Ching dan Marshall. Bagaimanapun, apa yang dilakukan Barney tidak serta merta bisa disebut moral dan rasional. Marshall dan Wu Ching adalah suara moral yang sekalipun sering kali labil, punya peran penting dalam memberi pertimbangan ketika Go Kong dan Pat Kay kalap.

w

Barney dalam tradisi China

Hantu Freud dalam Dunia Kita

Freud memang tidak pernah mati. Dalam bukunya Specters of Marx, Jacques Derrida bilang kalo hantu Marx (semangatnya, idenya, atau apalah) selalu datang kembali sekian dekade setelah kematiannya. Hal yang sama dengan Freud. Meski teorinya sudah dicela-cela (oleh murid-muridnya sendiri sekalipun), pemikirannya masih menghantui sampai sekarang. Dalam kasus saya, ini semua karena Slavoj Zizek. Adalah Zizek yang bilang kalo Marx Brothers (mereka ini pelawak, bukan sodaranya Karl Marx) itu adalah personifikasi dari triad kepribadian yang diutarakan Freud bertahun-tahun yang lalu. Dan adalah juga Zizek yang bilang kalo tiga lantai rumah dalam film Alfred Hitchcok yang berujudul Psycho adalah juga perlambang dari id (basement), ego (lantai dasar/ruang tamu) dan super ego (kamar tidur atau musolla?). Mungkin ini hal yang sederhana sekali. Saya tahu. Manusia memang begitu adanya. Dan Freud hanya mengutarakannya saja. Lebih jauh, sebenarnya kalo kita lihat teologi Kristen (Bapak, Yesus, Roh Kudus), sekilas ada benarnya juga si bapak Yahudi ateis itu. Mungkin karena Freud belajar dari sastra; toh, tragedi Yunani punya peran penting bagi perkembangan teorinya Freud. Anyway, saya gak kompeten untuk menjelaskan Freud. Saya cuma mau bilang kalo film Kera Sakti dan HIMYM itu mirip sekali. Dan saya kira kita semua begitu; di dalam diri selalu ada pergulatan antara Ted, Barney dan Marshall, antara Go Kong, Pat Kay dan Wu Ching. Dan mungkin tidak ada di antara kita yang seratus persen Pat Kay atau seratus persen Go Kong atau seratus persen Wu Ching. Tidak ada orang yang bener-bener suci atau bener-bener jahat. Jadi itu mungkin alasan yang baik tidak segera mendewakan atau mengibliskan orang lain. Jokowi atau LHI, mungkin sama saja.

Tl;dr atau males baca istilah ribet psikoanalisa? Film Kera Sakti dan HIMYM itu sama-sama berbicara tentang hakikat orang yang terbagi menjadi pikiran (Ted, Go Kong), hati (Marshall, Wu Ching) dan palus (Barney, Pat Kay) Sebagian dari diri kita adalah Ted, sebagian lainnya adalah Barney dan Marshall. Jadi, jangan asal menilai orang.

Advertisements

5 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. film kera sakti di indosiar itu ya. waktu buddha bercerita “hidup itu ibarat senar kecapi” itu yang paling berkesan buat saya. selain itu, cerita dewi kwan-im yang dulunya ternyata pria ( sori spoiler bwt yg blm nonton ) 😀

  2. Saya tidak nonton HIMYM atau Kera Sakti, tapi skema trio Freudian itu banyak dipakai di fiksi dan ada didokumentasikan di TV Tropes juga.

  3. Aduh, ini pemaksasan namanya…!
    Jadi, ada orang baik yang selalu cenderung kepada kebaikan, sebaliknya, ada orang jahat yang selalu cenderung kepada kejahatan.
    jadi, orang baik jika tidak berbuat baik bukan berarti dia jahat. Sebaliknya, orang jahat jika dia sedang tidak berbuat jahat bukan berarti dia berbuat kebaikan..

  4. @azarel: ya yang cerita dewi kwan in juga berkesan buat saya.
    @pak guru: sebagian kok kayak agak dipaksakan ya. 😛 sebenernya bukan cuma fiksi sih. itu kan, bagi saya, berlaku juga di kehidupan nyata. 🙂 yang paling pas kayaknya filmnya hitchcock itu. kalo kera sakti itu kan predates freud, makanya agak gimana gitu

  5. @iwan: kira-kira begitulah mas. 🙂


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: