Onani Berjama’ah dan Kartel Selera

February 23, 2013 at 3:33 pm | Posted in curhat, gak jelas, iseng, katarsis | 8 Comments
Tags: , ,

Catatan Pembuka: Arti Seni Bagi Saya

Bagi saya sebagai orang awam, orang sembarangan, kesenian adalah segala apa saja yang bisa saya cerap secara indrawi; apa saja yang bisa mengasingkan saya dari banalitas keseharian; yang membentuk jarak imajiner/psikologis antara saya sebagai subyek dan diri saya sendiri, realitas, dunia, cinta, tuhan, melankoli, dlsb. — Kesenian adalah segala apa saja yang bisa bikin kita orang mengerti apa artinya, apa rasanya terlempar ke dunia dengan segala misterinya, dengan segala dimensinya; untuk hidup, menjadi manusia di setiap peluang dan batasnya; untuk jatuh cinta dan kemudian patah hati, untuk bermimpi dan kemudian putus-asa, hilang harapan, tanpa ampun; untuk jalan-jalan ke negeri asing atau, mungkin, tidur-tiduran di sofa sambil garuk selangkangan, nonton Glee, untuk menjadi pecundang paling wahid di dunia atau menertawakan setiap pecundang yang ada di muka bumi; pokoknya semua hal yang bisa terjadi pada setiap orang —siapa pun ia—sebelum kita semua menua, sakit-sakitan, mati dan kemudian tinggal bersama cacing-cacing di dalam tanah. — Kesenian buat saya adalah alat untuk memahami sekaligus menciptakan realitas dalam mana kita bernafas dan menangis, alat untuk memahami sekaligus mendefinisikan kemanusiaan manusia, apabila kita menginginkannya, bila saja kita mau bertanya, mau larut dalam renung. Demikian arti seni bagi saya, pengelola blog gratisan ini.

Seni Sebagai Fakta Sosial, ‘Circle Jerks’ dan Kartel Nilai

Abaikan pendapat saya di atas. Seperti sudah saya bilang lagi dan lagi, saya ini bukan siapa-siapa; saya hanya orang biasa, seperti Anda, ‘sembarang orang’ yang boleh jadi ngelantur; ngawur kesana dan kemari. Dalam dunia yang sesungguhnya, dalam kehidupan sosial kita, kesenian adalah apa yang dikatakan seni oleh para kritikus, oleh para pengamat kesenian, oleh music writers, pengamat sastra yang hasil tulisannya dicetak di media masa besar; di koran, di majalah atau jurnal bergengsi, dan apa yang kini disebut webzine, yang kian hari kian hip; di situ seni dijadikan bahan ocehan, di situ seni yang dianggap ‘bagus’, meminjam istilah Katolikisme, dikanonisasikan. Mereka adalah orang yang punya anggapan bahwa sastra dan musik itu sama dengan teknik nuklir; hanya segelintir orang yang ‘kompeten’ saja yang bisa menulis tentangnya, seolah sembarang orang menulis seni itu bisa memicu bencana kemanusiaan yang luar biasa dahsyatnya. Ini tentu bukan soal. Ini malah bisa jadi hal baik bila pada akhirnya media itu berfungsi untuk menyaring mana yang bagus dan mana yang jelek, mana yang punya nilai dan mana yang murahan. Toh, kita memang tidak hidup sendirian saja di muka bumi ini (meskipun, saya pikir pada sejatinya setiap orang itu sendirian dan kesepian). Yang jadi soal adalah bila para penulis musik dan sastra itu menjadi hegemon; bila mereka kemudian beronani secara berjama’ah dan menjadi gerombolan mastubator, istilah baratnya circle jerks, yang saling memuaskan palusnya masing-masing (supaya jelas, di sini palus adalah metafora dari ego, dari pride). Ini jadi soal, meskipun tidak serius-serius amat, karena bila itu yang terjadi, apa yang kita dapatkan dari komunitas kesenian hanyalah segerombolan orang yang saling memuji sebagai bentuk konformitas belaka; karena adanya budaya Jawa yang ‘enggak enakan’ itu atau yang lebih buruk lagi: favoritisme. Kalo para penulis seni itu menjadi hegemon dan busuk, karena sudah jadi ‘kartel selera’, we’re going to have a bad time. Kartel dalam kesenian adalah praktik kolutif sekelompok tastemakers untuk mengendalikan harga/nilai sebuah karya seni, yang berakibat pada menjamurnya novel dan band yang overrated! Ya, masalahnya mungkin gak seserius masalah garis kemiskinan, AIDS atau tingkat kematian ibu dan anak, tapi ya jadi gondok aja, gondok setengah mati lah. Karena sesungguhnya tidak ada yang lebih menyebalkan dari segerombolan orang yang merasa lebih punya selera dari orang lain seperti mereka itu orang terpilih atau dewa-dewa yang sedang membusungkan dada mereka di menara yang tertinggi, padahal sebenarnya mereka tidak lebih sophisticated seleranya sedikitpun dari tukang becak yang lagi tidur dengan lelapnya di tengah hingar-bingar musik dangdut.

Baiklah, lalu Anda mungkin bertanya, ini maksudnya apa; apakah skena musik dan sastra di Indonesia sudah begitu adanya; sudah dikuasai circle jerks, di mana orang yang seharusnya menuliskan seni  malah terlibat dalam orgi muji-memuji yang  sama sekali tidak terpuji? Jawabannya adalah, dengan segala hormat saya katakan: iya.

Skena Sastra Indonesia Dewasa Ini; Di Sekitaran Tempo dan Salihara

155990_475

Peluncuran Novel Pulang karya Leila Chudori. Kata teman membosankan.

Saya tahu kalo T.S Eliot itu berkawan baik dengan Ezra Pound, editornya. Saya juga mengerti bila H.B. Jassin juga kenal baik dengan Chairil Anwar, penyair gila yang bakatnya sudah tidak diragukan lagi. Saya mengerti bila seniman sah-sah saja punya komunitas, boleh saja saling berkawan, antara editor, esais, penyair dan novelis dan bahkan wartawan sekalipun. Hanya saja, komunitas ini, atau perkawanan ini semestinya tidak menjadi halangan bagi kritikus untuk bersikap gamblang dalam menilai sebuah karya sastra. Saya mengerti betul, bila soal ini soal yang njlimet, soal yang tidak bisa segitunya aja dikatakan mana yang baik dan mana yang benar. Hanya saja selama ini saya sangat jarang sekali mendapatkan ulasan yang sejalan dengan pandangan saya tentang khasanah sastra dewasa ini; yang menurut saya sangat lah membosankan. Saya pikir itu karena saya terkena sindrom ‘Golden Age’, berpikiran kalo hanya seni yang sudah tua saja yang bagus dan dalam; yang kontemporer hanyalah repetisi dan kopian yang buruk dari masa silam; inovasi yang tidak lebih dari bid’ah yang tidak perlu. Tetapi tidak juga. Mungkin, selama ini memang susah mencari karya bagus karena dewa-dewa yang dianggap sebagai tastemaker sudah melalaikan peran utama mereka. Kita sebut saja Goenawan Mohammad. Saya pikir dia orang punya selera cukup bagus untuk merekomendasikan novel atau puisi baru mana saja yang layak kita nikmati, tetapi entah kok rasanya yang kita dapatkan adalah rekomendasi atas kawan-kawan dan ‘binaan’ Pak GM saja. Sejak lama saya berpikir kalo komunitas Salihara dan Tempo itu tiran. Pernah suatu kali, kawan saya dibulli, dikatain tidak ngerti sastra, tidak ngerti apa-apa, hanya karena dia bilang beberapa karya tulis lingkaran Salihara itu jelek; tak pelak, saya melihat mereka sebagai circle jerks; sastrawan yang lagi saling beronani secara berjama’ah.

Skena Musik Lokal Dewasa Ini: Apa Yang Terjadi di Jakartabeat

Hal yang sama terjadi juga di skena musik lokal, bil khusus skena musik indie. Karena industri musik arus utama yah sudah tidak bisa diapa-apain lagi; tujuan akhirnya adalah uang, dan tidak ada yang bisa dikritik soal itu. Saya mengendus ironi; komunitas musik independen malah semakin kehilangan indepedensinya, karena mereka sudah jadi besar, karena mereka kini adalah arus-utama. Dan ironisnya lagi, mereka jadi begitu karena mereka melakukan sesuatu yang memang seharusnya mereka lakukan dengan konsekuensi yang tidak murah, yakni membentuk dan membangun komunitas. Sebagai orang yang klaustrofobik, sebagai orang yang socially awkward, sebagai orang masa kecilnya dibulli di rumah dan sekolah, bagi saya komunitas adalah setan paling jahanam di muka bumi. Komunitas adalah tempat di mana orang diterima dan dibuang; sebuah tempat di mana orang harus belajar untuk melihat diri sendiri dan membandingkannya dengan orang lain, untuk kemudian memodifikasi apa yang sudah kita anggap sebagai bawaan lahir biar bisa lebih konform dengan apa yang menjadi arus utama di komunitas itu. Di dalam sebuah komunitas, orang belajar untuk menjadi normal, untuk taat pada keseragaman. Pendek kata, komunitas pada hakikatnya adalah hegemon bagi individu. Saya melihat ini sebagai sesuatu yang tidak terelakkan, tetapi juga bukan sesuatu yang statik. Dalam komunitas ada dinamisme, ada power struggle untuk menentukan siapa yang bakalan jadi dominan, yang paling populer, yang paling dihormati untuk menentukan apa yang harus dijunjung dan apa yang harus dicela-cela dengan hati yang membara. Dalam konteks skena musik lokal, masalahnya adalah tidak adanya power struggle yang bisa menghasilkan pusat-pusat baru, atau pinggiran-pinggiran baru yang lebih menarik, karena sepertinya komunitas indie yang ada sekarang entah gimana tampak seperti homogen dan hegemon. Saya boleh jadi salah. Toh ini bukan penelitian.

angsa_serigala

Indie bangetlah pokoknya ini Angsa dan Serigala.

Tapi kalo saya lihat situs Jakartabeat (masih banyak webzine lainnya, tapi saya kira kini JB yang terbesar) dan baca sekilas dua kilas tulisan para kontributornya, saya tidak melihat ada kritik yang sudah selayaknya dilemparkan bagi seniman indie lokal (di beberapa situs lain korbannya masih Ungu atau Nidji). Ini hampir sama persis dengan apa yang terjadi dengan “komunitas sastra” Indonesia. Saya adalah orang yang semakin hari semakin bosan dengan Efek Rumah Kaca (ERK) dan saya tidak melihat band indie semacam Angsa dan Serigala layak mendapat tempat di skena musik lokal dan lepas dari kritik hanya karena mereka sudah jadi kopian yang sangat buruk dan amatir dari Arcade Fire. Itu mungkin karena para penulis musik di sana sudah jadi bagian dari komunitas; boleh jadi siapa memproduseri siapa atau penulis siapa kenal dengan seniman siapa. Sumpah. Hingga kini saya tidak bisa paham kenapa ERK bisa digambarkan dengan segala bentuk superlatif; paling terhormat lah, paling kreatif lah, dlsb. Dugaan saya adalah beberapa penulis di sana sudah tidak lagi bisa menulis dengan bebas, karena berbagai alasan, salah satunya adalah conflict of interest. Pada akhirnya komunitas itu berubah menjadi circle jerks juga, lingkaran masturbator. Saya menyalahkan Facebook dan Twitter untuk ini. Sosial media bikin orang jadi begitu; apa artinya komentar dan jempol kalo bukan untuk ngelus-ngelus ego orang lain? Mereka yang punya kecenderungan sama cenderung berakhir begitu itu bila mereka berkumpul di berbagai situs sosial media, susah untuk dihindari. Saya juga begitu kalo sudah mesbukan.

Catatan Penutup: Jadi Poinnya Adalah?

Ini catatan ringan saja. Jangan terlalu dianggap serius. Saya orang yang berpikir kalo tidak ada kompetensi dalam mengulas musik dan sastra; tidak ada orang yang punya keahlian menentukan bagaimana caranya membaca The Great Gatsby buah tangan F. Scott Fitzgerald atau bagaimana mendengar Famous Blue Raincoat-nya Leonard Cohen dengan baik dan benar. Karena memang setiap orang sudah diberi fakultas untuk mencerap apa saja; untuk merasa, untuk terkejut dan tergoda. Ini bukan berarti saya menihilkan keterampilan seseorang dalam menulis sastra dan menulis musik; saya akui itu penting juga dan saya bersyukur bila memang ada orang-orang yang memang mendedikasikan hidupnya untuk itu. Hanya saja keterampilan itu tidak membuat mereka menjadi hegemon, karena orang tidak perlu diajarkan untuk merasakan kengerian para seniman akan kematian, seperti halnya kita tidak perlu mengajari tukang becak untuk berjoged pada musik dangdut. Belum lagi kemungkinan bahwa mereka yang dikatakan kompeten menulis seni itu pun tak selalu bisa diandalkan, bahwa mereka mungkin cuma lagi onani bareng. 😐

8 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Kalo Oscar gimana, mas? 😀

  2. @Beca: Wah itu saya tidak tahu. :p

  3. Coba bikin subredditnya.

  4. jangan percaya tulisan BEST SELLER pada buku. trus dari beberapa pengalaman, yang memberikan edensor ituuuu “teman-teman” 😀
    makin malas ke toko buku….

    ERK, saya ndak terlalu suka. saya melihat mereka seperti membuat lirik terlebih dahulu dan memaksa kalimat-kalimat itu cocok mengenakan nada sekenanya. telinga saya tidak terlalu menikmati mereka, tapi berbeda dengan MELBI atau FRAU. Nada-nadanya pantas, serasi dengan kalimat yang membuatnya mengalir.Jadi heran sih, ada temanku sendiri yang tergila-gila ma ERK. tapi itu selera ehehehehe

  5. @pakguru: ente saja.
    @inayah: lah kalo bestseller sih emang jangan harap, marketing itu. oh suka ya frau. saya malah mendapatkan frau agak terasa maksa. tapi ya ini soal selera emang hahaha.

  6. Bagi saya sebagai orang awam, orang sembarangan, kesenian adalah bla bla bla bla bla

    Dan saya pun bertanya dalam hati, “awam?”

  7. @amd: lah kan bener kan awam. awam itu dalam bahasa arab artinya khalayak, bukan kelompok khowas, atau elit. karena gak terafiliasi dengan komunitas atau lembaga pendidikan manapun, ya saya jadi bagian dari khalayak. dan khalayak boleh punya pendapat juga kan?

  8. Benar – benar tidak mengerti aku dalam hal ini…


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: