Semoga Engkau, Sandal

February 6, 2013 at 1:01 am | Posted in katarsis | 3 Comments
Tags: ,

Hubungan saya dengan sandal saya sebenarnya biasa saja. Pada suatu hari, seperti lazimnya banyak orang, saya beli sepasang sandal baru karena sandal saya yang lama entah hilang entah rusak. Merknya Carville. Hitam warnanya. Sandal ini hanya bertahan selama beberapa hari saja. Kali itu saya lagi nyetir mobil, entah bagaimana saya baru sadar kalo sandal saya tinggal satu, tinggal yang kiri. Yang kanan entah ada di mana, mungkin jatuh, mungkin dicolong tuyul. Entah. Saya ketawa saja waktu saya sadar kaki saya nyeker sebelah. Untung di mobil. Terpaksa saya beli sendal baru. Sengaja, saya beli sendal dengan model dan ukuran yang sama. Beberapa bulan kemudian, anak saya sudah mau setahun usianya, saya pulang kerja bawa barang titipan dagangan istri dari kantor. Kagak ada plastik. Jadi agak repot. Paketnya lumayan besar. Waktu kereta datang, orang masuk berebutan, saya jadinya kerepotan, berupaya naik ke atas kereta sambil menjaga keseimbangan paket di tangan. Jadi, jatohlah sandal saya yang saya yang sebelah kiri. Jatuh ke bawah gerbong kereta. Tidak mungkin bisa diambil kecuali saya tunggu keretanya lewat. Waktu itu di Palmerah sudah jam sepuluh malam. Kereta selanjutnya jam setengah dua belas. Mau tidak mau saya naik kereta dengan kaki nyeker sebelah. Pada saat itu, saya pikir saya sudah lepas dari kutukan Bad Luck Brian, saya pikir saya sudah berhasil mengatasi social awkwardness saya. Ternyata tidak. Saya di kereta. Banyak orang. Tidak terlalu banyak sih. Cukup sedikit untuk bisa melihat saya nyeker sebelah, tapi cukup banyak untuk membuat saya merasa sebagai total jackass. Ini kali kedua saya jadi bahan tertawaan batin di kereta. Dulu sekali, saya pernah salah masuk gerbong khusus buat perempuan. Saya beneran tidak sadar. Di gerbong itu saya ketemu kawan lama yang saya lupa namanya siapa. Saya tanya, “eh, kayaknya kenal, ya.” Lalu, jawab dia, “eh, lo di kereta perempuan.” Dengan bodohnya saya langsung kabur. Bukannya basi-basi atau apa. Bukannya tenang dan meneruskan pertanyaan saya, saya malah kabur. Saya yakin perempuan itu dulu tetangga kosan saya. Tapi saya lupa namanya siapa. Dan kebodohan saya berlipat-lipat kalo sudah berurusan dengan berbicara dengan orang lain yang setengah saya kenal. Lalu, semalam saya pulang dengan kaki nyeker sebelah. Saya tahu itu bukan sesuatu yang sungguh lah hina. Tapi Anda bisa bayangkan bukan: nyeker, di kereta AC, bersama para penumpang kelas menengah dengan tablet dan ponsel pintar mereka, yang entah gimana semuanya seperti seumuran dengan saya, seolah mereka adalah kawan di sekolah dulu yang dengan senang hati menertawakan saya. Untungnya, saya pulang bersama kawan, dan untungnya kawan saya baru saja beli sandal jepit. Saya tahu ini kebetulan yang luar biasa. Sandal itu dikasih ke saya, tetapi setelah sekitar lima belas menit of social awkwardness yang luar biasa. Awalnya saya ingin meninggalkan sandal sebelah kanan saya sebagai simbol dari keinginan saya untuk meninggalkan kebiasaan buruk saya yang sering bikin saya malu jadi orang. Tapi akhirnya saya bawa pulang juga. Di rumah, saya coba iseng lihat di rak sepatu sandal saya yang sebelah hilang dulu. Dan ternyata pas. Sandal saya dulu hilang yang sebelah kanan. Dan kini sandal saya hilang sebelah kiri. Jadi, pas. Ini ibarat janda dan duda yang made for each other. Awalnya saya pikir, konspirasi alam semesta kali ini sudah keterlaluan ngerjain saya. Tetapi ternyata keapesan saya juga berujung pada kisah bahagia dua buah sandal yang kehilangan pasangannya. Ini mungkin saya lebay. Tapi bersatunya kedua sandal itu seperti melambangkan sesuatu dalam hidup saya, entah apa, saya juga tidak tahu. Saya emang sering kehilangan sandal sih. Ini jelas pertanda saya orang yang sangat ceroboh. Dulu hilang sandal di motor, lalu di mobil, sekarang di kereta. Tapi bersatunya dua sandal yang sama-sama kehilangan pasangan ini rasanya kok ada yang lain. Mereka punya kesamaan nasib memang, dibeli sama orang yang gampang kehilangan sandal, sesuatu yang sama sekali tidak saya banggakan. Saya merasa seperti alam semesta sedang bercanda dengan saya. Tapi ya mungkin semua ini cuma peristiwa acak saja dalam hidup yang semuanya serba kebetulan, yang tidak ada artinya sama sekali. Apapun, semoga engkau bahagia sandal, semoga kali ini langgeng, sehidup semati.

3 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. tapi yg satu umurnya beberapa hari, yg satu beberapa bulan. jadi keliatan buluk sebelah dong? :p

  2. Nyekerman…..!

  3. aku masih menyimpan sandal jepit warna hitam sebelah kanan yang putus pasangan, jika dirimu punya yang sebelah kirinya, marilah kita sandingkan, siapa tahu mereka kan langgeng bersama..


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: