Medioker Sedunia, Bersatulah!

January 20, 2013 at 12:53 pm | Posted in katarsis | 13 Comments
Tags: , , , ,

I will speak for you, Father. I speak for all mediocrities in the world. I am their champion. I am their patron saint. Mediocrities everywhere… I absolve you… I absolve you… I absolve you… I absolve you… I absolve you all.

Halo, tuan. Salam sejahtera di mana saja Anda berada. Saya adalah—manusia medioker. Saya bukan orang yang tulisannya bisa Anda temui di Harian Kompas, di Koran Tempo, di jurnal sastra paling wahid, atau bahkan di situs JakartaBeat sekalipun. Saya orang biasa saja. Lebih jauh, saya ini orang yang serba pas-pasan. Dalam hidup, satu-satunya keterampilan yang mungkin bisa saya banggakan sebagai manusia adalah mengeluh. Tetapi kali ini saya tidak hendak mengumbar keluh dan kesah. Risalah singkat ini, yang saya tuliskan bersama dengan keraguan pada diri sendiri yang semakin hari semakin tebal, adalah persembahan kecil-kecilan dari saya untuk semua medioker di luar sana, di jagat raya Internet. Dengan risalah ini, saya ingin menyapa dengan hangat semua kita yang tidak pernah rengking satu di sekolahnya; semua kita yang tidak diterima di sekolah favorit, semua kita yang tidak lulus UMPTN dan SMPB, termasuk kalian, ya, kalian yang berkali-kali daftar beasiswa ke luar negeri hanya untuk berkali-kali mendapatkan surat penolakan dan secercah harapan aspal; coba tahun depan, coba tahun depan, coba tahun depan. Saya ingin sekali membalas surat itu; mungkin lain kali, Bapak Yang Baik, bilang saja terang-terangan: kalian tidak cukup brilian, kalian tidak cukup berbobot, kalian tidak layak. Jangan coba lagi tahun depan. Dengan risalah ini saya ingin kita mengheningkan cipta sejenak untuk setiap buku filsafat buku sastra buku politik yang kita beli dan tidak habis kita baca karena kita sudah bosan membacanya, bukan karena sering, tetapi karena kita sama sekali tidak bisa paham isinya apa. Kita harus betul-betul tundukan kepala untuk kemampuan bermain gitar kita yang pas-pasan, suara kita yang pas-pasan, dan yang lebih menggelikan dari semuanya itu: selera musik kita yang pas-pasan. Mari kita panjatkan doa bagi kesukaan kita yang memalukan pada lagu-lagu mainstream; pada lagunya Toto, pada Tito Sumarsono, pada Cyndi Lauper, pada Oasis, pada Firehouse, Noah, Ahmad Dhani, Bebi Romeo dan bahkan, ya, bahkan Agnes Monica. Kita telah disadarkan: seberapapun kerasnya kita mencoba dan mencoba, tidak ada yang kita capai selain frustasi, selain kebencian pada diri sendiri, pada dunia, pada Tuhan, seperti musisi Antonio Salieri di atas, patron kita, leluhur kita. Anda tidak harus berhenti melakukan apa yang Anda lakukan; tetapi pada batas tertentu, memang tidak ada yang bisa dilakukan lagi selain mengakui bakat orang lain dan berhenti menyangkal kenyataan bahwa kita medioker, bahwa memang kita bukan anak kesayangan para dewa. Dan itu, sodaraku sekalian, adalah memang sesuatu yang menyakitkan, sesuatu yang tidak bisa kita terima, seperti dosa-dosa masa silam, rasanya getir dan mendidih-didih di dada. Itu sebab kita butuh pengampunan. Dengan risalah ini, marilah kita berhenti sejenak, agar bisa melihat ke dalam diri, untuk kiranya memaafkan mediokritas kita, mengakui keterbatasan kita. Kita memang medioker. Kita bukan jenius. Kita bukan prodigi. Kita adalah pecundang. Kita adalah orang kebanyakan. Kita sungguhlah biasa saja. Kita tidak punya alasan untuk besar kepala. Kita tidak punya alasan untuk meratapi kegagalan kita yang semakin tidak penting ini.

Yuk, mari, semuanya. Kita katakan pada dunia. 🙂

i-ama-fucking-loser

Marilah kita ampuni diri sendiri.

13 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Oh, fuck.

  2. Bravo! Sebaiknya lekas bikin buku anti-motivasi. Saya beli. 😀

  3. mari merayakan kekalahan!

    saya suka sekali note kali ini.

  4. Juga: ini kalau jadi film atau apa dan jadi narasi pembukanya kok kayaknya mantap ya. Asal jangan di akhir film narator jadi murtad ke dunia pelangi gara-gara diubah seorang manic pixie dream girl.

  5. Dengan risalah ini, saya ingin menyapa dengan hangat semua kita yang tidak pernah rengking satu di sekolahnya

    Jangkrik! Situ tau aja 👿

  6. Gila, sekarang saya tidak merasa buruk menjadi biasa saja!

  7. Sampai segitunya !

  8. Mas gen, coba sekali-kali baca bukunya OM Bob Sadino.
    Untuk urusan kepuasan perut gak perlu melambung tinggi ke langit.

  9. Dengan risalah ini, saya ingin menyapa dengan hangat semua kita yang tidak pernah rengking satu di sekolahnya; semua kita yang tidak diterima di sekolah favorit, semua kita yang tidak lulus UMPTN dan SMPB,

    *sembah* termasuk saya yang sudah rajin ikut snmptn tapi enggak pernah lulus, 😆

  10. intinya nrimo !

  11. tuh kan sentimen sama jakartabeat. i knew it! 😀

  12. @grace: ati-ati keselek, neng.
    @difo: haha ga bakat bikin buku.
    @inayah: mari, mari kita rayakan.
    @shelling ford: idem.
    @taupiggy: bagus. mission accomplished.
    @wisatamurah: segitu mas/mbak semana emang?
    @pulautidung: waduh, bob sadino? nanti saya coba.
    @setokdel: saya ga pernah ikut smptn sebenernya.
    @naifkonservatif: betul sodara.
    @alia: lah emangnya situs berbahasa indonesia mana yang lebih hip dari jakartabeat? enggak ada. 🙂

  13. yang jelas : salam super ahahahaha 😀


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: