Kejatuhan Roma

December 22, 2012 at 3:44 am | Posted in berbagi, refleksi | 10 Comments
Tags: , ,

My name is Ozymandias, King of Kings:/Look on my works, ye mighty, and despair!’/Nothing beside remains. Round the decay/Of that colossal wreck, boundless and bare,/The lone and level sands stretch far away”.

Ozymandias, sebuah soneta oleh Percy Bysshe Shelley

ToRomeWithLove1

That’s Monica. Not the usual la femme fatale?

To Rome With Love. Film ini biasa aja buat saya; tidak sebagus filmnya yang lain, tapi Woody Allen selalu bisa menggugah, selalu bisa bercerita tentang kondisi manusia yang tidak asing buat saya, sekalipun film-filmnya dibumbui banyak hal yang sama sekali tidak masuk akal atau surreal. Film ini terdiri dari empat film yang ditumpuk jadi satu; ada empat plot yang berbeda, yang sama sekali tidak ada hubungannya. Kalopun ada, benang merahnya adalah kota Roma dan satu konsep yang lumayan kabur: Ozymandias melancholia.

Menurut Internet, melankoli Ozymandias adalah perasaan nelangsa atau depresi yang disebabkan oleh kesadaran bahwasanya hidup itu sebentar alias efemeral, topik yang sudah berulang kali saya bahas. Ozymandias adalah tokoh dalam sajak dengan judul yang sama oleh penyair abad ke-19 yang saya kutip di atas. Dia adalah ‘raja para raja’ yang pernah jaya dan kini hidup dalam sebuah inskripsi belaka. Tampaknya Woody hendak mengaitkan Ozymandias dengan kejatuhan peradaban Roma, bagaimana kolosium yang dulu pernah jadi lambang kejayaan kerajaan paling berkuasa di masa lampau itu sekarang tinggal cerita saja, sebuah lokasi wisata. Roma adalah metafora. Apa yang hendak dikatakan oleh Woody adalah kondisi manusia yang efemeral, bahwa apa yang kita miliki saat ini, sebetapapun hebatnya, bakal tidak akan ada lagi seperti kekasiaran Romawi kini tiada, karena memang demikian hidup. Selama ini saya selalu berpikir karena hidup cuma sebentar, saya mesti bersyukur. Itu saya kira benar, dan masih jadi sesuatu yang bisa saya pegang. Tapi tetap saja ada sesuatu yang tidak bisa saya abaikan, yang diutarakan secara puitis oleh Woody, bahwasanya kesementaraan itu kadang tidak bikin kita jadi mau bersyukur, tapi malah membuat sesuatu itu menjadi tidak berarti, menjadi tidak penting. Pendek kata, sesuatu yang fana itu memang tidak layak untuk disyukuri. Dalam film To Rome With Love, melankoli Ozymandias mendera dua orang arsitek (John dan Jack) yang diperankan oleh Alec Baldwin dan Jesse Eisenberg. Keduanya boleh jadi orang yang sama. Dalam film itu, Jack kesengseum sama cewek yang istilahnya anjrit keren banget bernama Monica. Ini cewek, diperankan sedemikian polosnya oleh Ellen Page, adalah tipe cewek saya. :mrgreen: Buat seorang romantik seperti Woody, sangat mudah untuk bikin orang yang juga kebangetan romantik seperti saya jatuh cinta pada si Monica, perempuan yang bukan cuma sensual, tapi juga intelek. Kami—saya, John dan Jack—tidak perduli bila dia itu pseudo-intellectual. Woody mengatakannya secara eksplisit kalo si Monica ini cendekia karbitan, kerjanya name-dropping penyair dan seniman hebat. Masalahnya, Jack udah suka banget sama Monica dan hendak meninggalkan pacarnya, yang adalah sahabat Monica juga. Tapi tiba-tiba saja si Monica memutuskan pergi; apa yang sebelumnya adalah sesuatu yang sangat berarti, yang mungkin bisa dianggap abadi, ternyata fana, meaningless; she’s just another girl he used to know.

woody-allen_2324414b

Sudah tua sekali. Still agonizing about life.

Film itu bercerita juga tentang kefanaan popularitas. Jadi dalam film itu ada orang biasa yang suatu hari bangun pagi dan menjadi selebritas. Semua hal yang sebelumnya banal buat dia malah jadi sesuatu yang besar. Ini jelas mengingatkan kita pada infotainmen di TV, dan semua berita seleb lainnya. Leopoldo, dimainkan oleh Roberto Benigni, awalnya membenci popularitas itu sampai akhirnya dia tidak lagi jadi populer dan kemudian merasa nelangsa karena tidak ada lagi yang ingat sama dia. Ada lagi dua cerita lain, tapi saya males nulisnya. Nonton sajalah. Kata kuncinya melankoli Ozymandias, suatu hal yang bikin kita bahagia tapi fana, yang karena itu entah malah membuatnya jadi berarti dan tidak berarti pada saat yang bersamaan. Buat Woody, ini mungkin katarsis bagi kesulitannya menghadapi usia tua; dia sudah tua sekali; rambutnya sudah putih, dan dalam film itu dia bilang kalo dia belum mencapai apa yang dia inginkan sebagai seorang seniman. Setelah sekian tahun, sudah setua itu, Woody masih mengatakan hal yang sama tentang payahnya hidup, tentang the agony of existence. Itu mungkin sebab saya suka banget sama film-film dia; boleh jadi saya ini intelektual palsu, seperti banyak orang lain. Saya tidak perduli. Saya nyambung aja sama film ini, yang paling tidak sudah bikin hidup sedikit lebih terang.

 

Advertisements

10 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Sudah nonton Midnight in Paris?
    http://inasaf.blogspot.com/2012/01/midnight-in-paris.html

  2. sudah. sudah saya review berikut komentarnya di blog orang.

  3. Ahhhh Ellen Page…

  4. Ellen Page… *,*

  5. @pak guru, amd: how do you guys see her in juno?

  6. Dirty hipster—insufferable. But still, Ellen Page. Makes it more than bearable.

  7. Apapun, asal ada Ellen Page saya jabanin. Biarpun yang se-gross Super pun…

  8. *kebanyakan “pun”…

  9. oh the other “pun” was not intended?

  10. kok lo review film ini, gak lama setelah gw tonton. memang filmnya gak sebagus film woody yg lain. tapi tetep, woody-ist gitu loh. seringnya sesuatu yg indah itu akhirnya meaningless.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: