Apa Bedanya Tahu Makan dan Makan Tahu? Kalo Anda Suka Tahu Ya Mestinya Anda Tahu Kalo Tahu Makan Tahu Itu Bukan Makan Tahu

December 18, 2012 at 5:26 pm | Posted in katarsis, refleksi | 1 Comment
Tags: , ,

Kalo Anda lagi makan enak, saya yakin Anda bisa tahu, bisa rasakan kalo makanan itu enak. Tapi saya ragu Anda tahu sebetulnya apa yang bikin makanan itu enak. Misalnya rendang itu enak. Terus, enaknya itu kenapa? Karena dagingnya? Karena kelapanya? Karena cabenya? Atau apa? Anda boleh bilang rendang itu enak karena perpaduan berbagai bumbu yang bisa kita jabarkan sekali gugel. Tapi saya yakin, anda gak tau sebenernya takaran pas yang bagaimanakah yang bisa bikin rendang itu enak. Anda boleh tau takarannya, katakanlah begitu, tapi kayaknya Anda tidak punya gambaran mental dari setiap rasa yang anda rasakan dari rendang. Rasanya daging itu bukan sesuatu yang asing; tapi bagaimana dengan bumbu lain? Apa anda bisa membedakan rasa kemiri dan rasa laos dari rendang yang anda makan di restoran padang tempo hari? Kalo anda gak tau, ya tidak apa-apa. Ini sama sekali bukan masalah. Ini bukan tes kejiwaan untuk menentukan Anda itu normal atau tidak. Dari mula saya udah reka kalo Anda bakal bilang: ngapain juga mikirin susah-susah? yang penting itu rendang enak dimakan dan bisa gue makan! Iya, saya juga mikir begitu. Tapi saya gak bisa berhenti mikir: kalo misalnya saja saya tau setiap bumbu yang saya makan, kalo saya tau setiap anasir rasa yang bikin rendang itu enak bukan kepalang, apa saya bakal punya pengalaman yang sama sekali berbeda ketika menyantap rendang lagi nanti? Ini penting buat saya; karena entah gimana pengetahuan itu buat saya lebih dari sekedar tau atau knowing saja. Maksudnya begini, saya bisa suka musik; lalu saya dengar musik, terus saya bilang, wah enak! That’s it. Tapi kalo saya tahu pada nada apa lagu itu dimainkan, atau pada situasi apa si pengarang lagu menuliskannya, atau dengan instrumen apa melodi yang melenakan itu dibunyikan, semuanya bakal terasa sama sekali lain. Dalam lagu Famous Blue Raincoat karangan Leonard Cohen, misalnya, saya hanya bisa tenggelam lebih jauh dalam melankoli ketika saya tahu bahwa lagu itu tentang atau ditulis Cohen untuk seseorang, entah siapa, yang telah merebut kekasihnya. Saya sering bertanya, kalo misalnya saya tidak pernah baca puisi dan tidak pernah patah hati atau tidak pernah tahu artinya dan rasanya melankoli apakah saya masih bisa menikmati lagunya Cohen yang itu? Kalo bicara selera, ada banyak hal yang bisa jadi faktor kenapa sesuatu itu bisa begitu rasanya, bukan begini atau begono. Ibaratnya, setiap dari kita seperti menemukan diri kita sendiri secara terus-menerus bukan hanya oleh pengalaman dan pengetahuan yang kita punya, tetapi juga oleh pengetahuan dan pengalaman yang merupakan perpaduan di antara keduanya, yang berlangsung terus tanpa putus. Dalam hal ini, pengetahuan memang punya peran penting untuk menentukan bagaimana rasanya hidup. Tapi saya masih suka bimbang.

810055_FATSPEARENEW

Tofu or not Tofu

Membaca hidup lewat sastra mengajarkan saya banyak hal. Misalnya kemarin waktu saya baca cerpennya Nikolai Gogol yang judulnya The Diary of a Madman, seketika saja saya ingat semua orang yang bikin saya kesal di kantor; seketika saja semua pengalaman menyebalkan itu muncul lagi dengan rasa yang sama sekali lain. Dan saya yakin jua kalo pada suatu ketika saya terjebak dalam situasi yang sama lagi ketika saya merasa seperti orang gila yang dituliskan oleh Gogol, maka pengalaman itu, ketika saya mengalaminya, bakal terasa sangat-sangat lain atau lebih intens, hanya karena saya tau gimana rasanya jadi orang gila, atau dianggap gila alias tidak normal sama orang lain. Sampe sekarang saya juga suka bingung sendiri, apa orang yang suka membaca buku tebal-tebal atau mendengarkan musik banyak-banyak untuk mengerti betul apa hidup itu bisa dianggap hidup lebih lama, hidup lebih banyak dari mereka yang selama hidupnya hanya hidup saja; maksudnya tidak mencoba untuk mengevaluasinya lewat Leonard Cohen atau Milan Kundera: jadi cuma pacaran, kerja, kawin, punya anak, rapat RT, tidur sama istri, bangun tidur, kerja dan begitu seterusnya sampe habis usia? Satu alasan kenapa orang yang punya bakat seni itu jiwanya sakit adalah karena hanya dalam sakit kesadaran itu bisa manteng. Dalam sakit orang merasa waktu seolah berhenti dan kepala tidak bisa tidak berhenti bertanya. Beda dengan kesenangan yang selalu lewat begitu saja. Itu karena kesenangan sensual yang kita rasakan itu tidak kita pikirkan; kita rasakan saja, tidak kita renungkan dan makanya jadinya lewat begitu saja. Beda dengan rasa sakit. Bagaimanapun, karena itu sakit, harus lah dipikirkan, direnungi dalam-dalam. Itu sebab saya dan banyak orang di dunia ini bisa akrab dengan sakit. Buat sebagian orang, kebahagian itu hanya bisa dirasakan kalo diutarakan kembali; seperti konon katanya perempuan soal seks; ada hal-hal yang memang terasa lebih intens ketika direka ulang di kepala. Tuhan atau evolusi memanglah kejam—kadang kebahagiaan memang hanya bisa dirasakan secara penuh dalam retrospeksi, seperti misalnya kalo kita lagi pantengin lagu tahun 1990-an di Youtube; datang semua memori tentang suatu masa ketika semuanya begitu sederhana; bahkan jalan kaki ke sekolah aja bisa jadi nostalgia yang bikin hati lara. Padahal waktu itu, ketika kita lagi jalan sekolah dulu, kitanya ngedumel!!

Jadi gimana? Apa bedanya menghidupi hidup dan mengetahui hidup? Adakah orang yang hanya menghidupi hidup dan tidak pernah mau tahu hidup itu apa?  Adakah orang yang hanya ingin mengetahui hidup dengan membaca semua buku menonton semua film mendengar semua lagu hanya untuk berkhayal tentang hidup dan tidak pernah sungguh-sungguh hidup? Entah. Orang yang merasa bijaksana pasti bilang: yang penting seimbang, antara thinking about life and living life. Saya, mungkin, hanya merasa bahwa hidup yang diketahui, hidup yang direnungi, hidup yang dipikirkan sepertinya bakalan terasa lebih intens ketimbang hidup yang dijalani sebagaimana adanya, sebagai sesuatu yang terberi, yang dialami tanpa banyak tanya, tanpa banyak mikir. Kalo saya makan tahu saya mau bener-bener tahu saya lagi makan tahu dan mencoba untuk merasakan setiap rasa yang ada; jadi saya tahu kalo saya lagi makan tahu, tahu makan tahu. Ujung-ujungnya ya sama-sama kenyang, sama-sama ngerasa enaknya tahu, tapi enaknya mungkin beda, meskipun kenyangnya mungkin sama.🙂 Gak tau saya ngomong apa ya? Ya sudahlah. Kebanyakan mikirin hidup ini saya.

1 Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Ada yang tahu sama tempe kebanyakan tahunya. yang jelas, tahu dan tempe selain murah, enak dan bergizi.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: