semakbelukar

November 29, 2012 at 12:00 am | Posted in berbagi | 4 Comments
Tags: ,

mari kita lupakan sejenak perdebatan panjang siapa paling keren dan siapa punya selera paling bagus di jagad raya ini dan kembali berbicara tentang musik sebagai karya seni yang bisa bikin hidup kita orang lebih dari sekedar masak indomie jam dua malam (atau, untuk sebagian orang yang tidak perlu disebut siapa-siapanya, sekedar selonjoran di depan laptop, masturbasi.) saya mau nulis tentang semakbelukar. saya mau bilang kalo band ini beda dan karena itu band ini layak didengar oleh sodara pembaca blog saya yang tidak berguna ini—setidaknya sebelum band ini menjadi terlalu populer dan semua kebaruan yang mereka ciptakan menjadi terasa begitu banal dan membosankan. saya gak kenal mereka; saya juga gak tau apa mereka belagak keren atau enggak. buat saya itu gak relevan. yang pasti mereka menyembul di antara banyak seniman indie yang terlalu barat, terlalu borjuis, yang entah bagaimana membuat mereka seirama dengan para pemuja boyband korea yang semakin merajalela di negeri ini. saya gak bilang band ini ‘orijinal’. saya punya masalah dengan kata itu. lagian band ini seperti band lainnya di dunia yang kecil ini hanyalah menggali khasanah musik dari masa silam, yang ada di lingkungan sekitar, kemudian meraciknya, diberinya warna modern, bukan dengan bebunyian instrumen modern (tidak ada synthesizer), tapi dengan konsep atau gagasan musik yang menurut saya baru, atau setidaknya terdengar asing. dan mereka berhasil melakukan itu. kalo bukan orijinal, saya berani bilang kalo mereka menawarkan kebaruan dari meramu ulang apa yang disebut ulama NU: al-qadim as-salih, yang dulu yang baik. album mereka bisa didownload di situs hipster baik hati yang berbasis di yogyakarta. di bawah ini katanya video klip resmi mereka.

lagu ‘be(re)ncana’ menggugah saya sekali dengar. mungkin karena saya tergila-gila dengan akordeon. atau mungkin karena musiknya begitu minimal, begitu sederhana. cukup gendang, akordeon dan vokal (ada gitar juga kayaknya). atau karena saya emang sudah lama punya affair dengan musik melayu. sebagai orang jawa, saya entah kenapa lebih condong ke budaya melayu. dan band ini beneran menawarkan apa yang kita orang sebut musik melayu; asli, tradisional melayu, lengkap dengan cengkok vokal yang meliuk-liuk seperti orang ngaji, tapi dengan beberapa bid’ah yang membuatnya terdengar usang sekaligus baru, asing sekaligus akrab, satu hal yang kita inginkan dari karya seni yang baik. meski ‘tradisional’, semakbelukar bukan musik etnik yang terlalu avantgarde yang sama sekali tidak enak didengar. seperti saya bilang musik mereka masih akrab di telinga. setelah beberapa kali dengar musik mereka agak mirip dengan musik nasyid; kayak raihan. tapi juga mirip beirut, band amerika rasa balkan. kadang, di lagu lain yang judulnya ‘malasmarah’, band ini terdengar seperti sontrek video game zaman DOS dulu. selain musik mereka yang melayu, mendayu-dayu dalam kunci minor, lirik yang mereka tulis pun juga melayu, dengan diksi yang asli melayu, dengan permainan kata dan rima yang asli melayu, bahkan sekaligus dengan nuansa ‘ceramah’-nya. meskipun, kalo didengar lagi dan lagi, liriknya sepertinya penuh paradoks. overall, semakbelukar, yang dikepalai david hersya, mengingatkan saya pada amir hamzah, penyair pujangga baru yang meletakan dasar puisi modern di indonesia dengan menciptakan kembali gaya puisi melayu lama yang udah ditinggalkan rekan-rekan sejawatnya dulu dengan menulisnya sebagai puisi modern yang prinsip dasarnya adalah kebebasan mencipta, kebebasan mengutarakan apa saja dengan cara apa saja, untuk mencapai tujuan puisi itu sendiri: apakah itu perasaan kalut yang luar biasa, kerinduan pada yang dirindu, atau apalah. (njrit, gue sok tau banget ini. kampret banget. tapi, ah, what the hell!). coba dengar misalnya potongan lirik lagu ‘be)re)ncana’: terlahir dan terasingkan tak lantas menjadi (d)luka/hanya karena berbeda tak berarti hilang muka/karena sempurna itu hanya sebuah rencana/karena sempurna itu hanya sebuah bencana. gak mudah bikin sajak berima yang begitu lempeng kayak gini. salut buat si david, bikin ngiri aja.

4 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Saya ndak pernah ke Palembang, tapi setela melihat klip ini saya jadi percaya sama omongan beberapa kawan yg pernah ke sana, bahwa kota ini mirip sekali dengan Banjarmasin…

    Arghgh…
    *pesan tiket pulang*

  2. Denger ini kok jadi pengen kolak… Sebagai orang Melayu pun, yang begini ini tempatnya ya bulan puasa saja.

  3. Saya tidak kenal mereka, lagian koneksi internet di saya lagi lemot, jadi agak sulit untuk bisa menikmati lagu mereka.

  4. Semoga bisa diambil hikmahnya🙂


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: