di stasiun kereta, puisi

November 23, 2012 at 4:13 am | Posted in iseng | 4 Comments
Tags: , ,

bukan stasiun, suka gambarnya aja

kalo ada orang merasa kebanyakan nonton film dan kemudian merasa hidup dalam sebuah film, saya merasa terlalu serius membaca puisi dan akibatnya sering kali merasa hidup di dalam puisi. bagi saya, dunia dalam mana saya tinggal adalah sajak tiga dimensi. kalo saya lagi di stasiun kereta, saya terbiasa melihat lingkungan sekitar seperti saya ini mahluk asing yang baru saja datang dari langit pada malam sebelumnya; misalnya saja, entah karena alasan apa, saya suka sekali memperhatikan batu kerikil yang tergenang air hujan di rel kereta; saya suka lihat warnanya, hitam kecoklatan atau coklat kehitaman, tampak begitu kasat direndam air hujan yang bening benderang. kadang saya dibuat heran sama kabel listrik yang menjuntai begitu panjang, begitu jauh, seolah saya tidak pernah tahu kereta ini ujungnya di mana, seolah saya ini adalah pengembara yang tinggal di negeri asing dan sudah lama sekali tidak pulang ke rumah. kadang saya ingin menelusuri rel sambil berjalan kaki, biar tau di mana rel itu berakhir (saya tahu, di tanah abang, tapi saya kerap sengaja melupakannya), atau sekedar untuk menelusurinya saja, menatap anak rel (apa ini istilahnya?) yang tidak berhingga itu satu per satu. ada banyak hal yang bikin stasiun kereta puitis. satu hal yang perlu saya katakan adalah bahwa stasiun adalah metafora dari kehidupan, atau lebih tepatnya lagi, dari status quo, dari the painful presence; derita masa kini yang selalu dihantui oleh masa lalu yang romantik, yang selalu mendamba masa datang yang kita pikir bakal lebih baik. entah kenapa orang selalu merasa romantik di stasiun. suatu kali saya merokok di stasiun palmerah pada jam sebelas malam; rasanya kayak tinggal dalam lirik lagunya iwan fals atau kumpulan cerpennya seno gumira malamnya malam;Β  biasanya saya bermain mata dengan bulan, sambil sesekali melirik awan dan langit yang pucat dan sendu, juga lampu neon yang terang meredup, tidak peduli angin atau asap rokok sampoerna saya. malam. sunyi. stasiun adalah tanah gersang tempat vladimir dan estragon menunggu seseorang yang mungkin datang mungkin tidak dalam drama legendaris menunggu godot; godot adalah seseorang atau sesuatu yang mungkin tidak akan pernah datang, tetapi toh kita tunggu juga, hanya karena kita begitu menginginkannya. seperti kereta yang telat hari itu. sepuluh menit keterlambatan bagi mereka yang begitu khusuk menunggu adalah 100 tahun kesunyian. di dalam kereta yang bergerak juga saya berasa hidup dalam buai khayal seorang pujangga, melihat segalanya dengan mata seorang penyair. dari dulu entah kenapa saya begitu terobsesi dengan orang asing. kalo saya berdiri di tengah keramaian di dalam gerbong yang sesak pikiran saya suka menebak-nebak orang di sebelah saya hidupnya seperti apa; dia tinggal di mana, kerja di mana, gajinya berapa, anaknya berapa, bahagiakah ia, apakah ia juga suka bercakap-cakap dengan dirinya sendiri; saya tidak bisa tidak membayangkan setiap orang dalam gerbong itu sebagai tokoh utama dalam novel mereka sendiri; bagi mereka, tidak ada yang lebih penting dari diri mereka sendiri, mereka adalah pusat dari semua yang ada. sekilas saya ingin menjadi mereka; berada di dalam tubuh mereka, menjalani kehidupan mereka, di rumah mereka dengan anak istri mereka. lamunan saya biasanya dipecahkan oleh kereta yang melaju dari arah berlawanan, yang membuat gerbong saya bergerak lebih cepat. suatu kali, saya tiba di stasiun dekat rumah saya hujan deras; seperti orang gila saya begitu girang dengan air yang berjatuhan dari langit; bekecibak di halaman stasiun. ada ibu-ibu lagi berdiri di pinggir loket, mungkin sedang tunggu jemputan. tukang ojek berhamburan ke dalam. mereka kuyup dan berisik. pada setiap tetes hujan yang jatuh ke tanah, pada bunyi hujan yang bergemuruh di atap stasiun, saya mempertanyakan kembali semuanya; kenapa saya berada di sini, kenapa ada air hujan, kenapa hujan malam itu, di situ di stasiun itu ketika saya berada di situ bersama ibu-ibu yang berdiri di pinggir loket, sementara tukang ojek berhamburan di dalam menawarkan jasa angkutan bagi mereka yang kebelet pulang. semua itu puisi. saya ada di dalamnya, menghidupinya.

4 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Tokoh utama dalam novel saya bukanlah saya, tapi alter ego saya. Saya yang benar-benar saya, tidak lulus casting πŸ™‚

    *larut dalam puisi*

  2. Saya terkadang bingung, membayangkan ulah pedagang kaki lima, itu jalan raya dengan dia punya jualan, lebih dulu jalan raya itu di buat.Gak ada yang merasa milik pribadi itu jalan raya, kecuali itu pedagang kaki lima dan supir angkot ugal-ugalan.
    Hidup itu nyata adanya, dapat di raba, di rasa-rasa-rasa…. gile ! loe gen..

  3. @agiek: sama saya juga pemeran utamanya adalah karakter pengelola blog ini. πŸ˜›
    @pulau tidung: emang itu pedagang kaki lima. katanya mau dipindahin sama jokowi. πŸ™‚

  4. @ Gen

    Pak Jokowi kalah tipis di tempatku, menang telak di Tugu Monas.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: