Tulis, Kicau, Mati

November 19, 2012 at 2:05 am | Posted in katarsis | 11 Comments
Tags: ,

efemeral

Itu Pram yang bilang kalo menulis adalah bekerja—bekerja untuk keabadian. Bapak kita itu benar, tapi ingat sobat: adagium itu cuma berlaku buat babon sastra macam dia orang, bukan bloger singit seperti kita ini, apalagi seleb twit yang suka pecicilan di di linimasa Twiter. Coba pikir: kalo toko buku saja kini lebih sering tampak seperti tempat pemakaman umum (TPU) bagi narsisisme dan segala angan kosong penulis mula yang tidak bisa menulis, tidak punya sesuatu apapun untuk dikatakan mengenai hidup dan kehidupan, apalagi Twiter, apalagi blog, sodara. Keabadian itu elusif, mainannya para dewa, manusia-manusia agung yang didewakan dan diabadikan oleh sejarah, laiknya Mozart atau Kurt atau Chairil atau, well, Yesus Putra Allah. Kita orang semua yang kepengin eksis di jagat Internet yang efemeral ini dengan semua twit dan postingan kita jelas bukan dewa, disebut manusia juga susah kayaknya. Kalo saya jalan-jalan di Internet, menelusuri linimasa trending topic di Twiter, saya tidak pernah melihat sesuatu yang begitu sia-sia, sesuatu yang begitu banal, sesuatu yang tidak akan bisa bikin orang jadi abadi; menulis di Internet itu bukan lah seperti apa yang Pram bilang. Mengapa oh mengapa, Twiter itu kadang bak toilet umum: toilet yang panjang di mana jutaan orang bisa buang hajat sepuas-puasnya, tanpa sekat, tanpa rasamalu; di situ orang bisa saling memuji siapa di antara mereka yang fesesnya paling bijaksana, paling bestari. Dalam tamsilan ini, twitwar tidak lain tidak bukan adalah perang feses. Ini menjijikkan. Tapi argumen saya masih tegak: tidak ada feses yang abadi.

Seperti Rafilus dalam novelnya Budi Darma, saya sudah mati berkali-kali mati di Internet. Saya pun selalu merasa blog ini, yang pernah mati sebelumnya, selalu berada di ambang kematian, seperti blog lama saya dulu, yang dengan tepat saya namai efemeral, yang sudah lama mati dan mungkin tidak akan pernah hidup lagi. Masalahnya dengan menulis di Internet adalah: apa yang bisa dikatakan dalam 140 aksara? Di sisi lain: siapa pula yang mau baca postingan blog yang panjangnya bukan main? Ini Internet: tl;dr adalah norma. Jadi susah. Ah, maafkanlah saya bila Anda entah karena alasan apa akhirnya harus mendengar keluhan saya tentang Internet untuk kesekian kalinya. Hanya saja, setelah bunuh diri di Febsuk, saya jalan-jalan di Twiter, dan harus melihat kawan-kawan yang saya kenal di dunia luring tampak begitu kecil, begitu banal, begitu seragam di dunia daring, tidak seperti dalam kehidupan sebetulnya, di mana mereka hanya berkata-kata bila mereka butuh berkata-kata, di mana kita bisa berasumsi bahwasanya mereka cerdas dan bijaksana—saya lihat akun Twiter senior saya dan tidak percaya dengan apa yang lihat: orang ini luar biasa dangkal, cara berpikirnya sederhana sekali. Kalo saya baca twit pemilik akun tiga macan dua milenia saya merasa lebih miris, dan tidak bisa membayangkan kok ada orang yang puja mereka, menganggap mereka seperti Zorro, menganggap mereka seperti pahlawan, dan anehnya ada orang yang merasa perlu melawan mereka dengan sikap yang sama bias dan taksedapnya. Saya benar tidak mengerti. Menulis di Internet memang tidak seperti apa yang dikatakan Pram, apalagi bila yang dituliskan itu hanyalah komentar banal tentang ‘current events’, peristiwa kekinian yang bakalan hilang dalam sekejap. Tapi saya tidak akan bunuh diri di Twiter. Makmum saya cuma ada delapan orang, beberapa di antaranya saya malahan tidak kenal sama sekali. Dan lagian, di Twiter saya langganan berita saja, melanggani lembaga. Yang bermasalah adalah blog ini. Saya baru sadar kalo blog ini punya pelanggan jauh lebih banyak dari makmum Twiter. Ini masalah. Terlalu rame. Rasanya mau tutup blog ini lagi. Tapi, ya, sudahlah. Semua laman jejaring sosial sama saja, they’re all reeling from ultimate vanity. Seleb twit atau bloger anonim yang cuma kepengin menulis. Sama saja.

Kita menulis. Kita berkicau. Lalu mati. Nothing special about it.

Advertisements

11 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Jadi kesimpulannya apakah benar blog ini akan mati juga?

  2. suatu saat, nanti. bukan sekarang.

  3. kemarin gus hapid (you know who lah) yang mau bunuh diri di gaza. Sekarang sampean punya blog mau dimatikan juga. Duh, begitu banyak keinginan mati di november ini..

  4. Saya ndak percaya ada orang bisa mati di blogosphere. Sudah sering lihat berbagai figur yang memutuskan “mati” tapi akhirnya hidup lagi. 😆
     
    IMHO sih, sejauh ente belum mati di dunia nyata, dijamin bakal datang lagi ke internet. Baik sekadar baca, numpang komen, atau total balik nulis pakai nama lain. I want to name this “Sora’s Law of Internet Resurrection”.
     
    *seduh kopi*
    *trust me, I know!*

  5. @agiek: gak, gak ini cuma lagi kangen ngeblog zaman dulu aja; waktu audiens saya adalah internet, bukan subscribers. followers itu agak distracting. jadi agak sadar gitu, gak nyaman.
    .
    @sora9n: kan ane dah bilang kalo ane udah “mati” berkali-kali. matinya virtual. i am now even thinking of returning to fesbuk as a new person. 😛 but that’s just a thought.
    .
    singkat kata ini tulisan karena kelamaan di twitter. that’s all.

  6. @ gentole

    singkat kata ini tulisan karena kelamaan di twitter. that’s all.

    Astaga. Pantesan… 😐
     
    Kalo itu sih ya jelaslah. Jangan sering-sering. Iklim intelektualnya nggak banget. 😐

  7. @sora9n: sebenernya saya lagi menikmati sisi positif twiter. itu feed berguna banget. saya jadi gampang apdet berita. sayangnya emang saya gak apdet berita lokal, situs berita asing aja, majalah-majalah budaya dan politik. smartphone itu benar-benar revolusi, changing a lot of things. tapi downsidenya saya jadi suka ngeliat trending dan ikut ngecek2 twiter yang rame di berita mainstream. dan begitulah. liat kawan sendiri, make you wanna kill yourself.

  8. Obviously, social media macam facebook, twitter, dan blog kan memang sebenernya fungsinya begitu, bersosialisasi. Urusan kondisi bersosialisasinya itu mau adem ayem, tentrem dengan angin diskusi yang sepoi-sepoi atawa carut marut, gemuruh rusuh dengan gedumbrangan genderang perang kan tergantung usernya.

    Sayangnya, memang ada sih beberapa (atau malah jadi mayoritas..) yang terlalu berusaha pada kesia-siaan belaka, terlalu terobsesi. Apa sih artinya kumpulan pixel dilayar monitor atawa layar smartphone kita? Tapi ya memang namanya ego manusia, pemakan segalanya. Sekumpulan pixel berbentuk jempol di Facebook, dengan sederet angka disampingnya saja sudah bisa bikin egonya orgasmik 7 hari 7 malam. :))

  9. Jangan mati dulu Bung ! ku mohon , jangan mati dulu Bung !

  10. Saya pikir adalah hal yang manusia ketika kita (manusia) ingin atau berusaha “ada” –dalam perspektif yang luas– dengan cara mereka masing-masing untuk menunjukkannya, entah itu yang dinamakan ber-sosial-isasi atau yang lain. akan ada masanya juga mereka (kita) akan bosan, dan akan ada masanya juga kita ingin ber-sosial-isasi (lagi) . Entahlah… semacam itulah mungkin.

  11. […] tidak pernah membela Twiter di blog ini. Saya bilang itu sarang buli. Saya juga bilang itu fana, banal, sebuah kesia-siaan. Oleh sebab itu, saya memutuskan untuk hijrah ke sana. Untuk apa saya belum tau persis. Tapi saya […]


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: