Celana Raja

November 4, 2012 at 12:09 am | Posted in berbagi cerita, katarsis | 4 Comments
Tags: , , , ,

Rekan-rekan sekalian,

Tidak ada yang lebih komik dari mereka yang duduk manis di Salihara sambil mendengarkan Pak GM berceloteh tentang mazhab Frankfurt dan bahaya ‘rasio instrumental’ bagi masa depan umat manusia. Saya sendiri orang yang sering dianggap ‘intelek’ dan secara egois dan tidak adil menganggap diri sendiri lebih ‘intelek’ atau lebih “reflektif” dari banyak orang. Saya juga dulu sering mampir ke Salihara dan saya tahu betul bagaimana rasanya merasa pintar—mengamati instalasi seni kontemporer (padahal bingung itu patung apa coba, tapi tetep sok khidmat) atau minum kopi sambil baca jurnal Prosa (berharap ada yang liat dan dianggap intelek karena nongkrongnya di Salihara). Perlu ditegaskan. Saya enggak merasa jadi orang paling pintar. Saya hanya merasa pintar karena saya bisa duduk di sana mendengarkan ceramah Pak GM tanpa harus merasa asing dengan nama-nama besar dalam filsafat Barat yang disebut beliau seperti Kant atau Adorno atau Horkheimer. Anda tahu Horkheimer? Saya juga tahu namanya doang.🙂 Dan itu entah bagaimana bisa mendongkrak rasa percaya diri Anda. Misalnya dalam sebuah filem yang dianggap nyeni dan klasik ada joke yang referensinya Horkheimer. Respon Anda adalah: “Wah, Horkheimer. Mazhab Frankfurt! Haha, tau gue tuh.” Anda pasti merasa pintar, merasa jadi bagian dari segelintir orang di dunia ini yang sudah baca semua karya Horkheimer, meskipun sebetulnya Anda cuma tahu namanya doang, itu juga dari buku filsafat terjemahan, yang sebenernya sudah jadi pajangan saja di lemari buku setelah halaman ke dua pada bagian pengantarnya.

Coba liat itu video ceramah Pak GM. Coba liat di sana ada beberapa orang tua dengan gaya berpakaian yang sangat intelek. Iya, ada pakaian yang hanya dipakai oleh para cendekia, para budayawan. Ada topi apa itu yang biasa dipake pelukis Indonesia? Dan ada uban! Uban! Dan tentu saja ada Pak GM dengan gayanya. Jangan salah, saya hormat sekali sama Pak GM. Saya pikir dia emang bukan orang sembarangan. Tapi saya harus akui bahwa ada efek samping yang agak memalukan dari duduk manis mendengarkan Pak GM di Salihara atau membaca-baca kumpulan esainya yang terkenal itu: yakni ngerasa pinter atau intelek. Padahal, ya, maksudnya, apa ini perlu, ya? Maksud saya, merasa intelek. Saya ini orang yang terlambat bersentuhan dengan budaya pop. Saya terlambat baca bukunya Nick Hornby dan sadar kalo baca buku itu biasa aja (gak ada yang spesial dari baca buku, doesn’t make you nerdy, smart, cool or anything), kalo menulis itu kagak perlu yang terlalu nyastra dan intelek, begitu. Saya juga terlambat jadi pembaca reddit.com, dan—berkat Twitter (oh, ternyata Twitter berguna)—langganan semua situs berita dan situs apa saja yang bisa memberi saya perspektif sederhana dan praktis dari para intelektual Internet, yang suka humor, yang suka ironi, yang banyak dari mereka saya lihat gak perlu merasa intelek — biasa saja, seperti ikan kecil di samudra mediokritas. Saya ada kenal dengan beberapa bloger yang mungkin ga lulus kuliah atau mungkin kagak kuliah atau yang sedang kuliah S2 di sini atau di luar negeri dan semuanya menurut saya punya pandangan menarik tentang manusia, negara, moralitas, dll. Iya mungkin mereka cuma dianggap ‘keramaian’. Tapi duduk manis di ‘pusat budaya; seperti Salihara juga tidak berarti ‘dalem’ juga. Saya bukannya sinis sama orang-orang yang intelek. Seperti saya bilang, saya juga kadang suka sok intelek dan dianggap intelek. Kadang malu sendiri. Bukannya apa-apa. Saya tahu apa yang saya tahu. Saya tahu betul, seberapa dalem saya memahami segala seluk beluk persoalan manusia, negara, dunia, dll. Kadang emang bukan substansinya sih. Kadang emang ini tabiat manusia aja. Merasa pintar membuat manusia merasa lebih besar dari yang sebenarnya. Sama persis dengan merasa keren, atau berwibawa, atau derajatnya lebih tinggi, dll. Delusi ‘baju baru sang raja’ itu bisa menjangkiti siapa saja, dengan derajat yang berbeda-beda pula tentunya. Ada yang ringan, ada yang overdosis— yakni mereka yang kagak sadar kalo mereka itu sebetulnya lagi jalan-jalan ke mall-mall yang keren di Jakarta kagak pake celana, atau paling tidak resletingnya kebuka. Tapi intinya sama aja. Semua itu delusi. Duduk manis di Salihara sambil denger Pak GM khutbah soal humanisme dan kemudian terbengong-bengong mendengar pengalaman Ulil tinggal di negara bagian ‘paling kiri’ di Amerika Serikat sana selama lima tahun mungkin bakal bikin kita orang jadi merasa pintar. Toh mereka berdua selebritas. Tapi saya pikir gejala itu tidak ada bedanya dengan orang di video ini. Asli.

4 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Bukannya itu sama saja dengan para netter yang -dengan segala referensi ala wikipedia- juga menunjukkan kelas wawasannya, kelas gaulnya, kala berposting atau berkomentar? Ini zaman copy-paste, sertifikasi intelektualitas seinstan cetakan printer over the air:mrgreen:

  2. “sertifikasi intelektualitas seinstan cetakan printer over the air

    haha iya bener… membuat orang cepatt sekali menarik kesimpulan mas tanpa harus mendalami habis satu buku untuk mencari pembenaran🙂

  3. Pandai- pandailah membawa diri , agar, kelak, kita, semua jangan sampai……..

  4. @alex, setokdel: iya makanya.meskipun mungkin bisa dibedain juga sih. kalo orang intelek jaman dulu mungkin ga sesinis zaman sekarang. mungkin karena mudah sekali sok-sokan/ngegugel segala hal di internet jadinya begitu.
    .
    @pulautidung: iya betul itu, bung.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: