Ateisme Yang Sentimentil

November 2, 2012 at 11:11 pm | Posted in katarsis | 10 Comments
Tags: , , ,

lagu ini adalah lagu ateis (atau agnostik, atau deis) paling spiritual dan paling romantis yang pernah saya dengar. saya dengar lagu ini kalo saya ingat anak saya yang masih kecil. kalo saya lagi kangen sama bola matanya yang bundar dan permai, kalo lagi gemes sama jari tangannya yang begitu kecil dan mungil. dari dulu saya sudah sentimentil, gampang terharu, gampang meleleh. dan dari dulu juga saya merasa disandra oleh gagasan tentang tuhan yang—meminjam istilah Pak GM—tidak pernah selesai, oleh gagasan tentang allah yang selalu menyisakan tanda tanya. orang bilang itu tanda kekufuran, saya bilang itu mungkin wujud penghambaan, satu sikap yang sekalipun dianggap sama dengan kurang pendirian sebetulnya lahir dari semacam kesadaran, atau katakanlah perasaan bahwasanya saya ini kecil, tidak tahu apa-apa tentang allah dan semua gagasan tentang takdir, surga dan neraka. lagu ini bukan lagu yang nyeni menurut saya. lagu ini sebenarnya lagu cinta biasa yang bisa dinikmati siapa saja. hanya saja, lagu ini menyentuh buat saya karena saya seperti disadarkan lagi kalo agama itu memang bukan soal logika, kalo iman kepada yang tiada terperi itu yang dibutuhkan cuma cinta, sebuah ekstrimitas. tentu ini sama sekali tidak membuktikan tuhan itu ada atau menjustifikasi agama-agama di dunia. orang bisa jadi ateis dan jatuh cinta. orang bisa cinta mati pada sesuatu dan tetap sinis dengan agama. tapi ya, itu, agak susah. kalo saya ingat anak saya; kalo saya ingat matanya yang bundar dan permai, musnah sudah semua akal sehat, mentah semua argumentasi filosofis, hilang segala paradoks yang bikin gagasan tentang tuhan itu luar biasa konyol. karena, ya itu, biar pun anda tidak percaya malaikat itu ada, anda bisa melihatnya di mata orang yang anda kasihi, dan sebilanya malaikat itu ada anda pasti ingin dia selalu menjaga orang yang anda kasihi itu dalam situasi apapun selama hidupnya. seberapapun ateisnya anda, kalo anda punya perasaan, selalu ada tempat buat allah, secara hipotetis paling tidak. ya, kan?

Advertisements

10 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. salam kenal mas dari Pontianak tadi nemu linknya di kotak komentar sebuah blog 🙂

  2. Hi, salam kenal juga, kalo begitu.

  3. tapi ya, itu, agak susah. kalo saya ingat anak saya; kalo saya ingat matanya yang bundar dan permai, musnah sudah semua akal sehat, mentah semua argumentasi filosofis, hilang segala paradoks yang bikin gagasan tentang tuhan itu luar biasa konyol.

    Ini mengingatkan saya sama Zen. 😛
     
    (maksudnya dlm hal non-thinking dan experience)

  4. Sampe sekarang belum tahu apa itu Zen. Soal non-thinking baru dengar dari Gladwell. Ada pun postingan ini memang berangkat dari pengalaman. Pikirannya sedikit aja. Hanya menuliskan perasaan aja.

  5. Kalo ada waktu, coba baca aja, termasuk Buddhism in general. Lumayan buat filsafat alternatif. ^^
     
    Mereka lebih dekat ke mistisisme, sih. Suka mainan paradoks buat mencapai pencerahan — kurang lebih mirip Nasruddin Hoja yang populer di Indonesia.
     
    (AFAIK, CMIIW)

  6. Aku enggak gaul. Lagunya enak.

  7. Firaun waktu kecil juga sering nyanyiin lagu kayak gitu .
    setahuku , Malaikat itu pekerja keras , sebagian mendaur ulang alam semesta dan tak lupa memuja.

  8. my idea exactly! thanks to put it into words nicely!

    (=

  9. @LSS: enak ya lagunya.
    @mas iwan: 😛
    @The Bitch: Wah ternyata sama. 🙂

  10. Kebetulan terdampar di sini dan baru sorenya nemu lagu ini.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: