Bobby Kufaku: ‘The Joke Is On You, Warga Internet!’
October 22, 2012 at 4:53 am | Posted in gak jelas, iseng, katarsis | 28 CommentsTags: fiksi, hoax, Internet, iseng, kufaku
WAWANCARA
Bobby Kufaku tentang jati-dirinya, orang Indonesia, Internet, MBDC dan bagaimana rencana kolaborasinya dengan musisi indie papan atas Zeke Khaseli kandas karena beda visi yang ‘irreconcilable’ tentang apa yang dimaksud dengan ‘ironis’.
“Saya suka orang Indonesia, apalagi yang tinggal di Jakarta,” kata Bobby kepada Garputala dalam sebuah wawancara singkat di Singapura pekan lalu. “Sebagai negara paling besar dan paling cundang di Asia Tenggara, orang Indonesia, apalagi yang tinggal di Jakarta, ya, kepalanya besar sekali. Sama kayak saya, juga Anda, bung, jago nge-bully semuanya.” Dalam beberapa video avantgarde yang diunggah Kufaku pada situs berbagi video Youtube, yang sudah dicaci-maki tanpa ampun oleh warga Internet, musisi Batam itu bilang dia hanya berupaya melakukan apa yang dititahkan oleh mendiang Pramoedya Ananta Toer: yakni berpolitik dalam kesenian, melihat seni sebagai instrumen kritik sosial. Barangkali ini sikap yang terlalu ngoyo, sesuatu yang bakal ditentang oleh mereka yang hanya ingin bersenang-senang dengan seni yang dyonisian, atau mereka yang berpendapat bahwasanya seni sesungguhnya tidak lebih dari upaya anak manusia untuk sekedar mengobati perasaan nestapa karena hidup hanya menawarkan tragedi, derita abadi tanpa punya tujuan juga makna. Namun, bagi Bobby, musik adalah kesederhanaan, tidak lebih dari ikhtiar sang seniman untuk menyingkap apa yang kerap disembunyikan orang — persis seperti apa yang tampak dalam komentar Youtube di semua video Kufaku.
Masalahnya dengan warga Internet adalah semua orang palsu. Ga ada yang asli. Semuanya belagak keren, padahal aslinya cupu. Semua orang layak dibully. Karena itu mereka semua ngebully. Ngebully sebelum dibully.
— Bobby Kufaku
Garputala: Anda dikenal bukan karena musik Anda ‘bagus’ tapi karena Anda juga musik Anda dianggap norak oleh warga Internet. Kalo saya boleh tanya, tolong dijelaskan kepada saya, kenapa Anda melakukan ini?
Bobby Kufaku: Ide lagu dan video ‘Cuma Kamu’ ini bermula dari diskusi saya dengan Zeke Khaseli beberapa waktu lalu. Zeke itu musisi indie anti-mainstream, dan gerah dengan gejala anti-mainstream yang semakin mainstream, makanya dia buat video itu apa itu saya lupa judulnya. Yang dia nyanyi kayak artis video karaoke? Yang ada komodonya sama orang main bola? Damn, gue lupa, itu video judulnya apa.
Garputala: Wah, apa ya, saya juga lupa, bung. Maaf.
BK: Pokoknya yang itu lah. Nah, Zeke merasa perlu meledek mereka yang mainstream secara natural dan mereka yang mainstream karena merasa perlu untuk membenci semua yang mainstream dengan menjadi mainstream secara ironis. Begitu, kira-kira. Dan, kalo Anda lihat, bung, yang terjadi adalah orang yang merasa keren dan punya selera yang hendak dikritik Zeke pun malah tetap memuji Zeke karena videonya dianggap ‘kreatif’. Karena orang tau kalo Zeke memang lagi ekting menjadi mainstream aja. Padahal, videonya boleh jadi sama noraknya dengan video saya. Hahaha…Nah, saya beda pendapat sama Zeke. Buat saya kesadaran akan betapa memuakkannya segala macam apa yang disebut mainstream itu sudah semakin mainstream, jadi orang pun tidak bisa sekedar membenci untuk membenci orang yang anti-mainstream, atau katakanlah menjadi hipster, saja untuk bisa melepaskan diri dari dosa-dosa menjadi mainstream. Maksud saya, menjadi anti-mainstream itu adalah poster boy dari mainstream. Ini ironi. Kita ada pada suatu masa ketika orang yang paling layak disebut mainstream adalah mereka yang anti-mainstream, anti trend, anti arus utama. Berbeda dengan Zeke yang masih ingin meledek mainstream, saya berupaya untuk berpikir di luar kotak, melampaui pola pikir yang terlalu biasa, dengan menjadikan mainstream sebagai the new hip. Jadi saya menjadi norak dengan semua simbol-simbol kenorakan saya tanpa ada pretensi apa-apa untuk menjadi ironis. Saya memang norak. Tapi kan tetap saja, so bad it’s good. Ga mungkin saya bisa tenar kalo lagu saya biasa aja.
Garputala: Anda bisa bermain musik?
BK: Bisalah. Saya bisa nulis lagu. Jangan merendahkan begitu, lah, bung.
Garputala: Oh, bukan begitu. Saya tahu Anda bukan seniman sembarangan. Tapi kok musik Anda tidak enak didengar?
BK: Begini bung. Pernah dengar lagu Rotor atau Rancid, kan? Coba kasih dengar sama situ punya nenek. Apa beliau bakal bilang itu musik? Relatiflah. Sekali lagi lagu saya itu kalo jelek pasti dianggap angin lalu saja. Hahaha. Pun intended yah. Hahaha. [editor: kalau belum tahu, judul album Kufaku adalah Angin Lalu].
Garputala: Di mana Anda bertemu anggota band lainnya?
BK: Sekolah musik Berklee [editor: Di Boston, Amerika Serikat]. Kenapa?
Garputala: Oh, gitu. Baiklah. Tapi Anda kan sudah jadi bahan ejekan di seluruh jagat Internet Indonesia. Di Youtube, di Twitter. Anda gak berminat meluruskan apa yang sebenarnya adalah kesalahpahaman?
BK: Ah, bung pake bahasa halus segala. Bilang saja orang Indonesia banyak yang ignorant, awam sekali soal musik. Itu sih rahasia umum. Warga Internet itu kan haus pengakuan lah. Pengen dibilang punya selera. Padahal kagak ngerti musik itu apa, seni itu apa. Gak tau caranya mengapresiasi kreatifitas. Menurut saya ini memprihatinkan. Tapi buat saya ini hanya fenomena Internet saja. Saya juga sudah menduga responnya bakal begini. Meskipun, saya harus akui, saya gak nyangka bahwa orang yang mempermalukan dan merendahkan diri sendiri dengan menulis komentar yang sama sekali tidak pantas di video saya banyak sekali. Video itu kan sebenernya prank saja. Saya juga bingung hampir tidak ada komentar cerdas atau simpatik di video saya. Semuanya nyela. Mungkin ini emang tabiat asli bangsa kita kali ya. Mungkin karena memang kita ini bangsa tempe, bisanya cuma nyela. Hahaha. Tapi seriously. Celaanya kampungan semua gitu, bukan? Ada yang bikin tumblr buat nyela Kufaku. Mereka bilang ‘please do not laughing’. WTF, do you speak English you morons!?? [editor: link] Entah kenapa warga Internet di sini suka pake bahasa Inggris tapi salah. Well, you know what, smart Indonesian netizens, the fucking joke is on you!!
Garputala: Wah, kok jadi emosional Bung Bobby. Bisa dijelaskan mungkin kaitannya dengan Internet? Ada apa dengan Internet sebenarnya? Anda tidak suka Internet?
BK: Oh, maaf, kalo saya emosional. Bukan tidak suka. Internet itu tempat bermain yang tidak fair. Masalahnya dengan warga Internet adalah semua orang palsu. Ga ada yang asli. Semuanya belagak keren, padahal aslinya cupu. Hampir semua orang di Internet sebenernya layak dibully. Karena itu mereka semua ngebully. Ngebully sebelum dibully. Lingkaran setan ini. Apalagi di Indonesia. Kita tahulah negara kita ini kan sudah lama terjangkit inferiority complex. Sudah lama punya mental tempe. Minim achievements. Saya kan tinggal di Batam. Saya tahu kenapa Singapura lebih maju dari kita punya bangsa. Mereka berjuang. Bukan cuma ngeluh. Bukan cuma bisa nyela pemerintah, anggota DPR dan Syahrini.
Garputala: Tapi Anda senang diorbitkan oleh situs humor MBDC?
BK: Biasa aja sih. Meskipun ya saya jadi terkenal juga berkat reviewnya MBDC. Emang situs itu lucu ya? Saya sama lah dengan Christopher Hitchens dan banyak esais kenamaan lainnya yang berfikir women can’t be funny. Saya gak bisa menganggap perempuan itu lucu. MBDC itu yang mengelola apa perempuan semua ya? Kok kesannya gitu ya? Buat perempuan kan ngelucu itu kan artinya ngeledek, ngecengin orang lain, noraknya orang lain, kebodohan orang lain. Iya bukan sih? Itu situs buat perempuan, kan? Kayak majalah Cosmopolitan atau apa gitu? Sekilas mirip sama Cracked.com, tapi terlalu bitchy aja kadang-kadang. Terlalu feminim. Anda tidak merasa begitu? Enggak, ya? Saya aja kali.
Garputala: Saya tidak tahu bung. Tapi lumayan terkenal itu MBDC di kalangan warga Internet sepertinya. Cukup berpengaruh juga kayaknya. Dia punya apa tuh program Sunset on the Rooftop. Anda juga merasa layak main di sana?
BK: Ah, enggak lah. Norak. Itu sih buat anak ABG berduit ajalah. Kesannya romantik emang dengerin lagu-lagu manis di atas genting di waktu senja. Tapi buat saya musik itu lebih dari sekedar neskafe dan angin sore lah.
Garputala: Maksudnya?
BK: Ah, you won’t understand.
Garputala: Wah kok kayak hispter aja, bung?
BK: Hahaha. Ini rahasia ya. Don’t tell anyone. I’m a hipster.
Disklemer: Ini wawancara bohongan tentu saja. Just in case.
28 Comments »
RSS feed for comments on this post. TrackBack URI
Leave a Reply
Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.



Nungguin dia baca tulisan Mas Gentole yang ini, setelahnya bikin cover lagunya The Bee Gees yang dipost di yutub. Dia harus lapar 3 hari 3 malam tuh supaya nyamain (kalau bisa melebihi) penghayatan penyanyi aslinya
Comment by Inayah Mangkulla— October 22, 2012 #
hahahahah anti-anti-mainstream. beberapa taun lagi jadi berapa anti-nya?
Comment by alia— October 23, 2012 #
@inayah: belum protes dia. 🙂
@alia: ad infinitum! 😛
Comment by Gentole— October 25, 2012 #
Amiiiiinnn…. Haha 😆
Persis. Persis. Pikiranku juga sama begini, dan aku memikirkan itu dengan rasa keren tersendiri bahwa di antara semua anjing di internet aku adalah anjing yang berbeda (padahal sama-sama anjing) 😆
Comment by Alex©— October 26, 2012 #
Amin!
Comment by Gentole— October 27, 2012 #
Orang Indonesia bilang ; yang penting ”hidup, menikah, punya anak !
Comment by Pulau Tidung— October 30, 2012 #
Masalahnya dengan warga Internet adalah semua orang palsu…
Ga nyangka, ternyata wawancaranya jg palsu
Comment by humeresheres— November 16, 2012 #
Eh ini jadi joke beneran ya, bukan wawancara beneran kan
kaget aja selama ini ngejek2 pikirannya dalem kalau bener
hampir ketipu
Comment by arya— November 23, 2012 #
@arya: iya mas, joke ini. serius joke beneran. 🙂 iseng2 aja.
Comment by Gentole— November 23, 2012 #
> baca wawancara
> terpana, bingung antara ini orang jenius banget atau naif banget…
ah, jebul cuma rekayasa… =3=
Comment by konoame— December 19, 2012 #
Kalo emang anti mainstream beneran, jangan Twitteran. Pahat batu prasasti aja.
Comment by naifkonservatif— December 23, 2012 #
kalo emang anti mainstream beneran, jangan Youtubean, ke layar tancep aja
Comment by naifkonservatif— December 23, 2012 #
Sumpah gue udah mindfucked banget baca script interview ini (berasa baca wawancaranya roma irama di mata najwa) sebelum akhirnya ngeliat kata2 ‘disclaimer’
Comment by musyarofah— December 26, 2012 #
Wahahaha.. Anti-mainstreamception :)))
Comment by krucil— December 26, 2012 #
Dari jaman Masca2, saya udah curiga kalo musik+musik video macam gini bisa-bisa jadi tren yang digarap serius sama beberapa orang.
Serius dalam artian, si artis emang sengaja ngejadiin dirinya bahan olok-olokan, cacian, gunjingan.
Padahal sebenarnya kita sebagai viewer, spectator, penonton emang lagi dimaenin emosinya oleh si artis.
Beberapa dari kita yang terpancing emosinya mungkin mencaci-maki dengan serius, pada saat yang bersamaan bisa jadi si artis lah yang tertawa puas menertawai kita.
Mungkin si artis meminjam sebuah kutipan dari Mei ’68,
“Seni telah mati, jangan nikmati bangkainya.”
Comment by sonyjoszz— December 26, 2012 #
Sialnya, gue kira beneran 😦
Comment by propaganjen (@propaganjen)— December 26, 2012 #
ebuset, kirain beneran ini.
Udah ada niat mau ngasih link ini ke selebtwit.
Comment by Fajrin Siddiq— December 27, 2012 #
sumpah demi apapun ane kira beneran ini. jadi tambah ngefans kalo beneran.
*brb muntah*
Comment by Digimot— December 27, 2012 #
Jadi kesini krn iseng searching all about Kufaku yg super unik. Terus baca ini dah. Sepanjang tulisan ngerasa guilty abis, malu, introspeksi banget lah pokoknya. I was so ashamed that I might be one of those haters who never actually know what they’re talkin about.
Tulisannya kontemplatif banget! Makasih sudah memberi pencerahan 🙂
However, tetap ada sedikit rasa lega ketika ternyata ini hanya boongan wkwkkwkwkwk..
Comment by nilamhamid— January 6, 2013 #
Hahaha, meskipun ini wawancara fiktif, bukan berarti dia kehilangan maknanya sih, tetap kontemplatif 😛
Omong-omong, Kufaku ini mungkin mirip Nicole Westbrook kali ya soal anti-anti mainstream-nya? 😆
Comment by celo— January 21, 2013 #
betapa misteriusnya, sya pribadi sempat ketemu langsung bk, ada motif mulia?disemua modusnya kelak, entah, tp set absurd yang diterapkan kufaku diluar nalar para ahli dan praktisi marketing manapun, kajian menarik yg akan sll sy kupas diwaktu2 kedepan
Comment by veghan— April 3, 2013 #
ciat.. boongan.. i waste my time here
Comment by oldcrow— June 4, 2013 #
As much as I hated being fooled, but this one is such a smart piece!!
Comment by Nilam Hamid (@ratunilam)— June 5, 2013 #
Aaaaaah lima menit sebelum baca tulisan disklemer itu merupakan lima menit terajaib saya hahaha keren mas artikelnya *angkat topi*
Comment by Dinda Savitry— September 12, 2013 #
what ?!?!berklee??? come on man… berklee never have poor skill musicians
Comment by David Ricardo— October 24, 2013 #
berklee..??? jadi, personel kufaku satu alumni sama personel dream theater?? guyonan anda sangat serius, bos!!! hahahaha….
Comment by djamal mirdad— August 24, 2014 #
Gila kalo gini jebolan berklee lebih bagus berklee mati…..bung bobby jangan tinggi hati kali, kalo lagu rancid di dengarkan ke nenek2 pasti nenek2 ga suka tapi kalo anak muda yang dengar banyak yang suka. Kalo lagu kupaku dinding jangankan nenek2, tikus aja pada lari bung karena merdunya suaramu….akuilah kau itu parah dan perlu perbaikan dari segi akhlakmu sampai personalitymu…..
Comment by kupaku— January 2, 2015 #
gw tau ini bohongan, awalnya baca dari kaskus, gw bingung aja, karna cara berpikir si bobby, jauh dari mukanya ,dan gw kesindir dgn kata2 membully sebelum dibully (dalem bos – setelah meneliti di IPB, seorang bobby ga mampu keluarkan kata2 ini. “tuh kan gw ngebully lagi”.). iseng nyari sumber, akhirnya nyampe sini, and thank’s god, it’s fake.
pakyuh om, tulisan keren dari sudut pandang yang mantaf.
Comment by elgi— February 18, 2015 #