Menggugat Selera Hipster Indonesia: Logika Konyol Yang Tidak Perlu Kita Bela Dari Sederet Seniman dan Band Indie Lokal Yang Pada Umumnya Dianggap Hip Padahal Sebenarnya Alay Juga

October 10, 2012 at 4:49 am | Posted in iseng, katarsis, ngoceh | 28 Comments
Tags: , , ,

Hei, saya hipster gagal yang marah-marah soal hipster tempo hari. Saya sudah tak ingin mengungkit-ungkit soal ini lagi sebenernya. Saya sadar. Di atas orang yang merasa keren selalu ada orang lain yang meganggap mereka norak. Atau, boleh jadi, mereka yang kalian pikir keren adalah mereka yang dianggap norak oleh orang lain yang mungkin saja menurut kalian norak. Meski begitu, saya tidak bisa menahan diri untuk tidak menulis apa yang saya tulis di bawah ini: yakni logika konyol fanboys dan beberapa band indie lokal. Apa yang bikin karya seni itu nyeni? Apa yang membuat karya bagus itu bagus? Di sini saya menulis kenapa karya band indie lokal menurut saya tidak ‘nyeni’ dan tidak ‘bagus’.

Kenapa? Karena:

Asal Absurd—Sok Camusian, Sok Posmo!

Coba lihat video ini dulu:

Video ini kagak lucu. Kagak ada artinya. Kagak bagus. Kagak enak ditonton. Kagak jelas. Dan cuma kepengin keliatan konyol. Jadi, kalo saya bilang video klip bawah ini konyol dan jelek harusnya aman-aman saja. Orang boleh berbusa bilang ‘video ini absurd dan karena itu nyeni’ atau ‘video ini adalah sebuah perlawanan terhadap makna’ atau ‘katrok in a good way‘. Terserah. Yang saya tangkap dari video ini cuma sikap congkak anak-anak muda sok ngepop yang anti budaya mainstream dan kepengin ironis tapi dengan cara yang luar biasa norak. Norak bukan karena mereka kepengin norak dengan sengaja menjadi norak secara ironis dan ‘absurd’ atau ‘artisitik’ tapi norak karena—biarpun orang seperti bingung ‘ini maksudnya apa sih?’—maksud yang ingin disampaikan sebenarnya tidak bisa lebih jelas lagi: saya mau ngeledek orang norak dengan menjadi norak; dan ini menurut saya katrok, lame! Saya bingung kenapa sepertinya banyak orang memuja Zeke? Saya emang beneran produk budaya mainstream; saya juga gak bisa ngikutin budaya indie. Kalo saya tahu satu dua soal musik itu semua saya dapat dari Internet. But who cares? Buat saya video ini gak punya merit sama sekali. Ada beberapa video lagi dari Zeke yang menurut saya masih menggunakan formula asal absurd asal konyol asal orang bingung dan karena itu ‘bagus dan nyeni’. Ini logika konyol yang menurut saya tidak perlu dan tidak baik dilestarikan.

Saya gak habis pikir kalo ada yang mengaitkan semua yang konyol dan tidak masuk akal dengan Albert Camus. Sama sekali kagak ngarti. Setahu saya apa yang Camus coba bilang adalah orang itu sebaiknya berjuang untuk menciptakan makna di dunia yang absurd bukan sekedar menjadi gila untuk merayakan absurditas.

Asal Terdengar Puitis— ‘Mungkinkah kau tahu jawabnya’ oh, oh, oh…

Tapi Zeke setidaknya kalo saya lihat memang tidak punya pretensi untuk bikin seneng orang banyak. Boleh jadi saya terlalu banyak berprasangka saja; boleh jadi Zeke cuma kepengin mengekspresikan diri dengan cara yang konyol. Dia dan orang lain bilang itu seni. Saya bilang itu sampah. Sah-sah saja. Yang bikin saya miris adalah upaya beberapa band indie yang memang kepengin bener bikin karya yang dianggap ‘bagus’ yang dianggap ‘elegan’ dengan lirik yang menurut mereka ‘indah’ dan ‘puitis’ — tapi gagal. Saya ngerti hipster atau alay itu soal selera. Tapi ada band yang disukai hipster yang saya bisa paham kenapa mereka dianggap bagus, nyeni, enak didenger, dll. Dan tentu ada band alay yang noraknya tiada terkira. Yang saya bingung adalah banyak band yang disukai komunitas indie yang menurut saya kurang lebih atau malah 100% sama noraknya dengan band-band alay yang mereka cela. Salah satunya adalah band di bawah ini: Payung Teduh.

Ada beberapa band yang menurut saya setali tiga uang dengan band ini: band yang secara musikal bolehlah, standar musik indie yang terdengar akustik, berkelas, cocok buat disetel di warung kopinya orang-orang kaya. Tapi liriknya, ya, ampun. Misalnya dalam lagu Payung Teduh yang berjudul “Berdua Saja”. Liriknya dimulai dengan: ‘Ada yang tak sempat tergambarkan oleh kata”. Duh. Kata “tergambarkan” adalah kata yang sangat tidak puitis menurut saya. Bisa saja kata ini digunakan tetapi dalam konteks dan sintaks yang semestinya sama sekali lain; sama sekali baru; bukan sekedar mengutip salah satu bait sajak Sapardi yang paling terkenal yang sudah jadi kitsch yang sudah tidak bisa lagi diapresiasi dengan segenap perarasaan tanpa harus merasa sedikit norak karena sudah mengutip sajak dari undangan kawinan cewek-cewek kantoran. Ini liriknya lengkapnya.

Berdua Saja/Song & Lyric : Is (Payung Teduh)/Ada yang tak sempat tergambarkan oleh kata/Ketika kita berdua/Hanya aku yang bisa bertanya/Mungkinkah kau tahu jawabnya/Malam jadi saksinya/Kita berdua diantara kata/Yang tak terucap/Berharap waktu membawa keberanian/Untuk datang membawa jawaban/Mungkinkah kita ada kesempatan/Ucapkan janji takkan berpisah selamanya

Katakanlah saya bukan kritikus puisi yang mumpuni. Katakanlah saya sama sekali tidak kompeten menilai puisi. Tapi sebagai manusia sebagai pembaca puisi saya pikir sajak itu bagus sajak itu bunyi kalo si penulis menulis sesuatu yang seolah belum pernah ditulis sebelumnya; agar bisa menyajikan suasana dan perasaan yang seolah-seolah belum pernah saya alami sebelumnya; atau paling tidak mengutarakan sesuatu yang begitu familiar dengan cara yang sama sekali lain; yang bisa bikin kita orang ubah cara kita memandang sesuatu. Dan lirik ‘malam jadi saksinya’ dari Payung Teduh menurut saya tidak akan pernah bisa memberikan apa yang saya inginkan dari sebuah karya seni, dari puisi. Saya memang tidak berharap musisi indie itu menulis seperti Amir Hamzah atau Joko Pinurbo. Tapi, yah, ini apa bedanya sama Peter Pan atau Nidji? Seriously!!!????

Asal Bukan Dewa Cinta — Karena Jatuh Cinta Itu Biasa Saja

Efek Rumah Kaca (ERK) datang ke layar televisi Anda untuk mengatakan hal yang kita semua ingin katakan: terlalu banyak lagu cinta. Masalahnya mungkin, dari zaman kuda gigit tamborine orang sudah menulis lagu cinta. Kita emang semua capek mendengar kata cinta. Dan kita emang kadang butuh rehat dari kata cinta yang sudah overused ini. Lagian, cinta bukan cuma soal cinta. Kita bisa ngomong soal kehilangan, kerinduan, atau apalah. Tapi ini bukan alasan untuk sama sekali mencela semua lagu cinta; atau menulis lagu cinta yang jauh lebih preachy dari semua lagu Rhoma Irama: ‘Jatuh Cinta Itu Biasa Saja’ dari ERK. Kata band ini jatuh cinta gak perlu ‘berpelukan’ atau ‘saling memuji’. Lebih jauh band ini bilang Jika jatuh cinta itu buta/Berdua kita akan tersesat/Saling mencari di dalam gelap/Kedua mata kita gelap/Lalu hati kita gelap/Hati kita gelap/Lalu hati kita gelap. Jadi ini kayak cinta platonik. Cinta ala Mulder dan Scully. Bagus sih menulis begini tapi apa maksudnya kita “tak hanya menjalani cinta” tapi juga “menghidupi” cinta? Mungkin bukan cuma music snob yang suka ERK, tapi juga para love snob yang bisa mengendalikan diri waktu jatuh cinta. Tapi serius masih banyak cara menulis lagu cinta tanpa harus merasa norak; toh cinta dan tuhan dan keadilan adalah ilusi yang bikin kita orang bertahan hidup setiap kali baca koran dan disadarkan oleh betapa jeleknya dunia. Pada akhirnya ERK juga menulis lagu cinta. Dan lagu cintanya hampir sama noraknya dengan semua lagu cinta yang ditulis oleh band-band yang dianggap mainstream. Baiklah kalo dibandingin dengan Zeke dan Payung Teduh, ERK mungkin adalah band indie pretensius yang paling bisa saya maklumi. Karena toh masih bisa saya dengar. Meskipun, dari segi musik, entahlah, saya kebayang Radiohead melulu, dan tema selain cinta yang diangkat selain terlalu ‘ceramah’ juga terlalu umum dan terlalu gamblang, kurang kriptik. Misalnya lagu ‘Di Udara’. Orang dengan mudah tau itu lagu tentang Munir, meskipun liriknya sama sekali tidak menyebut kata Munir. Singkat kata, lagunya tidak menggugah. Beda misalnya dengan lagunya Dylan yang berjudul ‘As I Went Out One Morning‘.  Biar dia menyebut Tom Paine di liriknya orang gak serta merta percaya bahwa lagu itu bercerita tentang kemenangan nalar atas kebodohan dan perbudakan. Orang bisa bermain tafsir dengan lagu ini. Dan orang sepakat kalo lagusnya bagus banget. Kalo mau objektif dalam artian membandingkan ERK dengan band-band lain yang tidak menulis lagu cinta secara artistik, ya, band ini sebenarnya medioker sekali.

NB: Tentu ada band indie lokal yang saya suka dan menurut saya bagus seperti Sore, Float, Pure Saturday atau Sajama Cut. Tapi gak menariklah mengumbar selera. Eh, eh, kalo tulisan di atas itu gimana? Oh, kalo itu lain. Cincai lah cincai. :mrgreen: 

Advertisements

28 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. shoot; relapse 😐

  2. Everyone can be an artist.

    Mengkritik yg norak dengan menjadi norak bukan ada istilahnya ya. Gak menjadikannya benar sih. Malah jadi biasa aja.

  3. persoalan ky gini emang subjektif bgt. untungnya masing2 bebas mnyatakan pendapatnya. tapi, sepokatlah soal yg Camus itu.

    O’ya, apa kbr masbung?

  4. “asal enak di telinga”, saya nda peduli dia mainstream atau tidak 😀

  5. @lss: wah ndak tau itu istilahnya apa. udah ketemu?
    @kenz: kabar baik massodara. bagaimana dirimu?
    @inayah: kalo liriknya gimana? lagu enak lirik jelek bisa diterima?

  6. kabar baik jg.. stdknya msih bisa ikut nimbrung dsini.. btw, komen sbelumnya dtulis pas tmen lg nyetel lagu payung teduh itu di henponnya, pengin ngakak jdinya. untunglah diriku yg tua ini asing dgn band2 gituan, maklum generasi Mansur S.

  7. Mendingan juga Sule .

  8. Iyayah.. bingung juga, ini masalah selera. terusterang saya tidak terlalu mahir bahasa inggris tapi saya tidak tahu, saya sudah setahunan dicap teman-teman gila akan Bob Dylan, ahahaha.

    Lirik jelek? kalau bisa menyenangkan bagi pendengarnya mengapa tidak. Kayak SULE misalnya (ehehehe, terpengaruh komen di atas). Lirik tak harus selalu puisi kan? Dia juga bisa berupa picisan, atau bahkan lelucon.

    Tumbeeeen saya serius komennya 😀

  9. Peran media terntunya, gw suka sama peterpan/noah (lagi) gara-gara ada ulasannya di media -yang “label”nya non-mainstream- setelah lama gak dengerin peterpan dan menganggap peterpan itu alay.. Ohh.. Betapa sudah terpengaruhnya diriku oleh media..

  10. Setahu saya apa yang Camus coba bilang adalah orang itu sebaiknya berjuang untuk menciptakan makna di dunia yang absurd bukan sekedar menjadi gila untuk merayakan absurditas.

    Orang2 yang kau maksud itu mungkin saja nggak tahu beda Camus dan Dionysus. Mereka kepengen jadi Camus, tapi malah berlaku seperti Dionysus. Menuang anggur di dalam asbak dan ber-toast untuk merayakan betapa absurd dan sudah jadi Camus mereka dengan pesta anggur begitu.

    Dan Zeke? Sucks. Sama seperti Maliq & D’Essential dan Abdul & The Coffe Theory. Sama-sama berlagak posmo dan modern, sama-sama berlagak mau jadi inovator, pembaharu selera musik segenap bangsa Indonesia.

    Dan lirik ‘malam jadi saksinya’ dari Payung Teduh menurut saya tidak akan pernah bisa memberikan apa yang saya inginkan dari sebuah karya seni, dari puisi. Saya memang tidak berharap musisi indie itu menulis seperti Amir Hamzah atau Joko Pinurbo. Tapi, yah, ini apa bedanya sama Peter Pan atau Nidji? Seriously!!!????

    Sama. Nggak beda. Puisi kacangan sekali jadi. Tak beda dengan puisi di kertas surat cinta anak muda tak makan sekolahan yang baru lulus ujian paket C agar tak buta huruf.

    Ohhh… biarlah malam jadi saksi dan mentari bernyanyi esok pagi untukmu buah hatiku, bintang kejora pujaanku, jantung pisang ambonku….

    LOL

    Tapi serius masih banyak cara menulis lagu cinta tanpa harus merasa norak; toh cinta dan tuhan dan keadilan adalah ilusi yang bikin kita orang bertahan hidup setiap kali baca koran dan disadarkan oleh betapa jeleknya dunia

    Amen.

    Tentu ada band indie lokal yang saya suka dan menurut saya bagus seperti Sore, Float, Pure Saturday atau Sajama Cut. Tapi gak menariklah mengumbar selera.

    Nggak menarik dan tak perlu. Indie tak indie apa bedanya. Karena label? Rage Against The Machine masuk label dan tetap bisa bermain ciamik. Alasan basi kalau label menghalangi kreativitas, karena tanpa label pun kreativitas bisa ngos-ngosan seperti orang tak bisa bermusik karena tak ada uang untuk beli alat musik. Bukan menghambakan diri pada uang dan konsumerisme bla-bla-bla. Tapi apa arti setinggi langit berfilosofi kalau, demi menutup ketidakmampuan bernegosiasi dengan label rekaman, musik cuma didengar segelintir saja. Kalau benar-benar mau eksklusif jadi band indie, rekam sendiri, dengar sendiri. Jangan pernah upload di internet, karena internet sudah mainstream hari ini. Di mana ada GPRS orang juga bisa akses. Asal ada pulsa untuk mengunduh lagu mereka 😛

  11. Hei , seleramu itu jangan kau sandingkan dengan Tuhan, cinta dan keadilan , dengan.’penyedap’ rasapun kamu gak ada apa-apanya (label boleh beda ,lidah pastinya sama…sama… sama, tidak perduli itu ‘Sasa, Miwon atau Ajinomoto )
    Tapi, menyoal :
    Ada yang tak sempat tergambarkan oleh kata”. cukup keterlaluan .

  12. postingan pertama yg gue baca dari blog ini adalah https://gentole.wordpress.com/2010/12/05/mengapa-para-hipster-menyebalkan/ dan jujur gue sependapat dengan tulisan yang dibuat..

    tapi kenapa pas baca post ini kok malah kaya baca orang over critique ya?atau mungkin itu cuma perasaan gue aja yang lagi suka-sukanya sama Payung Teduh..hehe

    keep writing sob, gue suka tulisan lu, ngga bosen buat dibaca 😀

  13. Saya gak pernah dengar musisi-musisi yang disebut kecuali Sore, ERK, dan Sajama Cut. Yang begini apa sering dibincangkan di ibukota sana? Kok saya merasa kampungan sekali membacanya. :p
    .
    Yang pertama itu lebih mirip YouTube poop ketimbang apa itu musik video the Pixies dan New Order yang nyeleneh. Aneh yang asal bikin.
    .
    Juga, masih ingat ternyata sama “As I Went Out One Morning”. 😀

  14. @ Pak Guru

    Beberapa band begini ini biasanya band yang gagal masuk album kompilasi seperti LA Light Indiefest atau LA Light Meet The Labels. Dan mereka menutupinya (atau ditutupi oleh fanboysnya) dengan gaya seakan mereka tidak tertarik masuk dapur rekaman berlabel. Bak perihbahasa: Tak pandai menari dikatakannya lantai bergoyang. LOL.

    *pelecehan*

    Padahal yang masuk juga nggak otomatis jelek kala sudah rekaman, seperti dulu pernah kubahas di blog yang sudah punah, tentang band-band indie di album Kompilasi LA Lights Indiefest vol.2. Beberapa cukup bagus seperti Rules and Policy-nya Monkey to Millionaire, atau (Curse of) The Downtown Dogz-nya Cigarrettes Nation yang lumayan enak ini:

    Yang begini apa sering dibincangkan di ibukota sana? Kok saya merasa kampungan sekali membacanya. :p

    Terakhir keluyuran dengan Moerjanto Ali di satu sudut Jakarta, menurut hasil penerawangan bersama beliau, gaya memuja band hipster ini adalah bentuk kemodernan, perlambang orang kota yang gaul dan tak alay lagi kampungan selera musiknya seperti Pee Wee Gaskins yang sampai dicoret di tembok di komplek rumah beliau: KELOMPOK ANTI PEE WEE GASKINS, yang kubilang patut dicurigai dicoretkan oleh KELOMPOK GASKINS, alias GABUNGAN SNOB MISKINS. Snob tapi kere. LOL.

    *pelecehan pada pelecehan lagi*

  15. @Gentole
    upaya penyucian diri lo sepertinya berhasil. hahaha elo seperti ingin menggiring orang yang sudah di pinggir untuk ke tengah lagi.

    @Alex
    Gimme a P! Gimme an E! Gimme an E!
    Gimme a W! Gimme an E! Gimme an E!
    Go! Go! Pee Wee Go! Go! Cmon cmon! Go! Go! Pee Wee Go! Goooooooo!

  16. ^ LOL

    Go! Go! Pee Wee Go!
    Go Pee Wee Herman!

    Damn Pee Wee you the MAN!

    LOL

  17. demi melestarikan budaya buly membuly dinegeri ini saya persembahkan band fenomenal abad ini, http://www.youtube.com/watch?v=j3lpVSaBnYs&feature=relmfu , yang sejenis seperti ini sih sebenernya masih banyak, cuma ya itu masing2 ada pasarnya sendiri2.

  18. @Bayu: Noah baguslah. Musiknya enak didenger. Liriknya juga mayan. Bolehlah diapresiasi.
    .
    @Alex: Wah Alex kumat juga nih penyakit bully membullynya. :mrgreen: Tapi beda lex ini sama maliq. Maliq itu mainstream, mewakili selera “kelas atas” mereka. Masalah major dan indie label ini emang ya sudahlah. Band yang paling hipster adalah band yang ga pernah ada yang denger kecuali mereka sendiri. 😛
    .
    @guereview: Iya ini emang overcritique. Makanya di komen pertama gue bilang gue relapse. Iya ini emang ga perlu dibaca orang sebenernya. Hahaha. Katarsis aja. Semacam curhat gitu. Tapi mudah-mudahan tidak terlalu memalukan. Kalo dianggap norak dan memalukan ya sudahlah.
    .
    @Iwan: 🙂 Ealahh. Lah ini bukan mengumbar selera.
    .
    @PakGuru: Masak sih. Sok mainstream nih Mungkin bisa lihat ini. Saya ga kenal sama yang nulis: http://www.thejakartapost.com/news/2012/09/23/payung-teduh-from-lakeside-with-love.html don’t ask
    .
    @Alex: Hahaha kamu mencari kesempatan katarsis ya alex! Apdet blogmu! 😛
    .
    @Resqie: Dosa apa saya menyucikan diri? :mrgreen:
    .
    @kanjenong: Klik link. Ya Tuhan. *bengong* Tapi sudahlah kasian yang kayak begitu. 🙂

  19. @kanjenong lagi: kalo didengerin terus suaranya mirip Tom Waits. 🙂

  20. zeke yg anaknya agum gumelar ?

  21. menurut ane band indie byk yang gak enak lagu2nya & musikalitas rendah…ya beginilah hidup..tak mungkin semulus body girlband..

  22. @LSS
    Kalo Payung Teduh berani ngajuin proposal sidang puisi ke LSS jaman gua, pasti gua lempar berkasnya ke luar jendela. Sampah!! Dari namanya saja sudah demikian tolol: Es Batu Dingin? Besi Keras? Es Teh Tawar Tanpa Gula? Untunglah pentolan-pentolannya dari kampus tetangga. Artinya, mereka memang tidak pernah belajar secara formal dasar-dasar puisi. ###emosi%%%%

  23. banyak omong semua. semuanya penilai orang, orang buat lagu di caci dikoment. LIAT DIRI SENDIRI APA YANG SUDAH KITA PERBUAT APA YANG KITA BERI BUAT ORANG LAIN! KALO LO BISA JANGAN BANYAK OMONG!

  24. terus menurut ente, music yg gag absurd dan gag camus yang kya gimana ane pngen tau selera ente

  25. @gentole : music itu untuk dinikmati bukan dicaci ,selama di setiap liriknya tidak ada kata-kata sara ,rasis, dan pornografi it’s oke for listening, karena setiap musisi punya cara masing-masing untuk membuat sebuah karya seni, mungkin ente suka dangdut ,boyband atau girlband ane’pun gag masalah, yg jelas tdk perlu saling menjatuhkan.. dan memang benar mungkin musik yang ente suka juga bisa di bilang norak oleh orang lain, karena selera orang beda beda dude, , hehe.. JUST LISTEN AND ENJOY NO NEED TO BULLYING… 😀

  26. Dr postingan diatas kok kyknya ente lebih ke menjelek2x kan band diatas ya?

  27. kebanyakan band2 yg bagus itu, dikarenakan mereka punya referensi dan wawasan musik yg bagus, dan mengenal root atau akar dri musik yg mereka mainkan.
    Dan band2 atau musik yg di bilang norak, kebanyakan band2 bisa di bilang minim wawasan musik dan gk tau root dr musik yg mereka mainkan ato bisa dibilang cm ikut2an aja

  28. nikmatilah yang bisa kalian nikmati ! kami bisa menikmati semua hal itu . monggo silakan kalian koar koar tentang music. setidaknya mereka berkarya dan jika kalian tidak suka ya udah gak usah didengerin . gampang to . lagian mereka juga jarang nongol di tv kok jadi kalian kan susah menjangkau mereka, tidak semudah mengakses st12 atau wali mungkin


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: