Irasionalitas Yang Rasional: Apa Yang Saya Pelajari Tentang Prokrastinasi dan Teologi Kekuasaan Dari Supir Angkot

September 30, 2012 at 11:39 pm | Posted in gak jelas, iseng, katarsis | 1 Comment
Tags: , ,

SATU dari sekian banyak misteri kehidupan adalah logika supir angkot. Dan pada suatu siang di persilangan Sektor 9 Bintaro saya berkesimpulan: kita semua pada sejatinya, pada lubuk yang terdalam, adalah supir angkot yang ugal-ugalan.

Angkot dan Teologi Kekuasaan

Tidak terbayangkan betapa irasionalnya supir angkot. Di jalan yang luar biasa lowongnya, di jalan di mana satu-satunya kendaraan yang ada hanyalah si angkot tersebut, di pasar yang begitu ramai dan sempit, angkot selalu punya waktu dan ruang untuk ngetem—satu kata sial yang hanya bisa dipahami di negara berkembang yang tidak punya sistem transportasi masal. Saya paham kalo supir angkot butuh kejar setoran dan ngetem adalah tindakan yang pada sejatinya adalah rasional. Hanya saja, yang saya tidak habis pikir: supir angkot malah selalu tergesa-gesa saat mengantri di lampu merah, dan kemudian berhenti pas mereka bertemu dengan lampu merah. Setiap kali saya pergi ke Bintaro, di persilangan Sektor 9, saya pasti disuguhi berbagai akrobat gila supir angkot yang berupaya dengan segala daya dan upaya untuk mendahului kendaraan yang sedang mengantri seperti orang Jepang dalam situasi bencana — begitu sopan, penuh tenggang rasa, penuh kesabaran.

Sungguh tidak bisa dibayangkan betapa sempit ruang yang tersedia buat si angkot itu bermanuver tapi mereka terus melaju bak binatang pengerat atau pesulap yang urat nyalinya sudah lama korslet. Saya bingung. Kenapa mereka tidak mengantri sambil ngetem aja sih? BAIKLAH, kata kuncinya adalah kejar setoran: apa yang ada di kepala mereka (yang entah bisa disebut logika atau bukan) adalah mendapatkan sebanyak-banyaknya penumpang dalam beberapa puteran atau dalam jangka waktu yang sudah ditentukan. Tapi, kalo memang harus ngebut kenapa di jalan lowong mereka malah ngetem? Baiklah, mungkin di lampu merah ada banyak penumpang yang menunggu angkot datang, tapi sepengamatan saya mereka biasanya menunggu di pinggir jalan setelah lampu merah, bukan pas di bawah lampu merah! Singkat kata, saya tidak habis pikir: kenapa berhenti di jalan lowong, dan malah ngebut di kala macet? Apakah mungkin kerena mereka bisa berhenti di jalan lowong mereka kemudian melakukannya, hanya untuk melakukan apa yang mereka bisa? Jalan lowong boleh jadi adalah sebuah kuasa, sebuah privilege. Mungkin mereka pikir, “gue bisa aja ngebut di jalan yang lowong ini, tapi buat apa, gue bisa berhenti aja kapan aja.” Dan begitulah, untuk menunjukkan kuasa mereka, privilege mereka, kebanyakan dari supir angkot di negara ini memilih untuk bisa ngetem. Logika yang sama berlaku untuk obsesi mereka melewati kemacetan sebelum lampu merah. Mereka tidak sabaran, dan mereka merasa bisa mengatasi kemacetan. Jadi, logikanya, “kalo gue bisa nyalip lewat trotoar, kalo gue bisa nyalip?” Dan sejurus kemudian, seperti biasanya, saya pun berpikir tentang hakikat kehidupan. Apa bedanya saya dengan supir angkot? Sebagai prokrastinator ulung, saya paham betul perasaan ketika saya merasa melakukan sebuah pekerjaan itu luar biasa malasnya ketika waktu masih lowong, dan kemudian saya bisa begitu tergesa dan grasak-grusuk ketika deadline menjelang, sama persis dengan apa yang dilakukan oleh supir angkot menjelang lampu merah.

Waktu luang bagi kita atau jalan lowong bagi supir angkot adalah kekuasaan, sebuah privilege, dan kita orang manusia yang tiada sempurna tidak selalu cukup cerdas dan bijaksana untuk menggunakannya sebaik mungkin. Dan ini wajar saja, meski tidak bisa dianggap bukan persoalan. Kita memang dibuat seperti itu; kita dibuat untuk mencintai kekuasaan, mencintai privilege, karena, toh, bagaimanapun kita dibuat sesuai citra Allah: arketip dari figur yang paling berkuasa, dengan privilege yang tiada berbatas. Itu sebabnya kalo Anda baca Kitab Suci Anda bakal menemui banyak kemiripan antara Allah yang maha kuasa dengan supir angkot: semena-mena, sewenang-wenang — itu semua karena kuasa, karena privilege. Dan, subhanallah, tidak disangka tidak dinyana, sodara, merenungi hakikat supir angkot mengingatkan saya pada Allah SWT!      

Advertisements

1 Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Subhanallah !


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: