Efek Matius dan Injil Miing

September 30, 2012 at 3:59 am | Posted in katarsis, komentar | 11 Comments
Tags: ,

Karena setiap orang yang mempunyai, kepadanya akan diberi, sehingga ia berkelimpahan. Tetapi siapa yang tidak mempunyai, apapun juga yang ada padanya akan diambil dari padanya. Injil Matius 25:29

BAGAIMANAKAH caranya Allah kita bisa disebut ‘maha adil’ bila Dia Orang pernah bersabda, saya parafrase, siapa yang kaya raya bakal dibuat jadi lebih kaya, dan siapa yang miskin akan dibikin tambah miskin. Saya bukan seorang Kristen. Menurut saya apa yang ditulis dalam Injil itu sukar sekali untuk dipahami. Meski demikian, ada banyak ayat dalam Injil (juga al-Qur’an dan berbagai kitab suci lainnya, tentu saja) yang menurut saya layak untuk direnungkan. Salah satunya, tentu saja, adalah ayat yang sudah saya kutip di atas itu. Ayat ini sampai kepada saya dalam sebuah istilah keilmuan: Efek Matius.

Apakah Efek Matius?

Pak Matius Si Penginjil

Konsep ini sederhana sekali. Menurut Wikipedia, istilah “Efek Matius” ditemukan oleh seorang sosiologiwan bernama Robert K. Merton untuk menjelaskan sebuah femonema yang lama sudah dijadikan alasan kawan aktivis kita untuk turun ke jalan rame-rame dan membakar ban bekas sambil marah-marah seperti orang kesetanan; yakni fenomena: Orang Kaya Makin Kaya, Orang Miskin Makin Miskin. Bapak Merton tentu saja mendapatkan ilham dari Injil Matius: For unto every one that hath shall be given, and he shall have abundance: but from him that hath not shall be taken even that which he hath. Merton menggunakan istilah ini untuk menggambarkan sebuah gejala dalam mana ilmuwan yang lebih terkenal bakal mendapatkan lebih banyak kredit untuk pencapaian yang sebenarnya dilakukan oleh para ilmuwan yang masih pemula. Dalam dunia pendidikan, istilah ini merujuk pada fenomena yang sama menyebalkannya: mereka yang pintar bakal semakin pintar dan mereka yang bodoh bakal semakin bodoh. Begitu, kira-kira, lebih kurangnya.

Lalu Ini Apa Hubungannya Matius Dengan Miing?

Dalam sebuah berita, politisi PDI-P dan pelawak Dedi Gumelar alias Mi’ing bilang kita tidak perlu memberi pelajaran sains di sekolah dasar. Pak Miing memberi dukungan pada rencana Kemendikbud untuk menghapus pelajaran IPA dan IPS dari sekolah dasar. Saya tidak tahu persis apa maksudnya dengan ‘menghapus pelajaran IPA dan IPS’, tetapi saya lebih tertarik dengan komentar Miing selanjutnya bahwa anak sekolah dasar semestinya diajarkan budi pekerti. Kata Miing: ‘SD itu saatnya membentuk watak atau karakter dengan pendidikan yang lebih menenamkan nilai-nilai kebangsaan, budi pekerti, budaya, nilai-nilai Pancasila yang membentuk karakter anak.’ Saya tidak habis pikir. Kalo pelajaran IPA dan IPS ditiadakan kenapa fokusnya malah ke budi pekerti? Dari dulu sampe sekarang saya tidak bisa mengerti dengan obsesi orang Indonesia untuk mengajarkan moralitas, atau malah menanamkannya, seolah moralitas adalah sebuah perangkat lunak yang bisa begitu saja dipasang di kepala orang melalui pelajaran PMP atau PPKN atau apalah itu. Terus terang saya rada kuatir dengan masalah ini. Bukannya saya peduli sekali atau apa. Tetapi saya jadi ingat dengan Efek Matius dan sebuah tulisan di situs TIME tentang mengapa kelas tiga SD itu penting sekali dalam pendidikan anak. Saya enggak mau mentah-mentah menerima apa yang dikatakan si penulis itu benar, tetapi argumentasinya lumayan masuk akal. Kelas tiga SD, dalam sistem pendidikan di Amerika, adalah saat ketika anak belajar untuk belajar—belajar untuk memproses informasi dari bahan bacaan yang diberikan. Kalo dari kelas tiga SD dia udah jago ‘belajar’ maka dia bakal terus belajar dan menjadi lebih pandai, sementara yang gagal meraih skill belajar (yakni suka membaca dan memproses informasi/fakta/korelasi/kausalitas dengan baik dan benar) maka anak itu bakalan tertatih-tatih memahami apa yang akan dia temui pada jenjang pendidikan selanjutnya: di SMP, SMA dan perguruan tinggi. Nah, kalo pelajaran IPA dan IPS dihapuskan dan yang jadi fokus malah pelajaran budi pekerti, apa yang akan terjadi? Apakah mungkin nanti, melihat Efek Matius tadi, banyak orang Indonesia bakal menjadi semakin bodoh dan semakin miskin? Entahlah.

Daripada masang foto Miing?

Tapi, Serius, Mengajarkan Moral?

Seberapa serius pemerintah bakal benar-benar menghapus pelajaran IPA dan IPS saya tidak tahu. Kalo emang mengurangi hapalan sih boleh aja: siapa juga yang bakalan nanya pasal berapa dari UUD 45 itu bunyinya apa, atau apa singkatan Manipol USDEK, dll. Tapi, ya, sekali lagi, saya tidak tahu. Pemerintah punya kebiasaan untuk melontarkan kebijakan yang kabur. Saya juga tidak tahu persis alasan di balik rencana kebijakan itu apa; apa karena ‘kurikulumnya terlalu berat dan banyak’ atau apa. Lalu, apa yang akan menjadi fokus sebenarnya: bahasa dan matematika, atau apa? Apapun, yang jelas saya miris kalo fokusnya nanti malah jadi mengajarkan moral, atau apa yang disebut ‘karakter’. Tidak di pesantren tidak di STM anak murid yang rese, memble dan menye bakalan selalu ada. Saya setuju pendidikan itu bukan tanggung jawab guru dan sekolah semata, semua lembaga punya peran. Dan saya tidak pernah merasa sekolah memberikan saya ‘moralitas’; moralitas sebagai sistem nilai itu dibentuk oleh banyak hal, dan sekolah tidak melulu yang utama, IMVHO. Apa yang saya harapkan bisa saya dapatkan dari sekolah adalah skill dasar untuk belajar: membaca, berpikir, berhitung, berdiskusi. Selebihnya, persahabatan, pacaran, main tak benteng, dlsb., adalah bonus. Itu bagian dari pelajaran menjadi manusia dan dalam hal ini tidak ada yang salah dari sekolah kita. 🙂 Menurut sodara bagaimana?

Advertisements

11 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Ini mengingatkan sama kejadian serupa yang belum lama di US: link.
     
    Saya pikir ada yang salah dengan cara berpikir macam itu. Orang-orang yg bilang IPA/IPS/aljabar nggak begitu perlu usia dini, biasanya nggak mempertimbangkan aspek edukasi yang osmosis. Matematika membantu berpikir runut/inferensial. IPA mendorong rasa ingin memecahkan masalah, dst. Hal-hal semacam itu nggak diajarkan langsung — tapi dampaknya jelas sangat penting.
     
    Terkait “agar diganti budi pekerti” — saya paham sih jalan pikirannya, tapi ya itu philosophically naive. Antara saya & masbro aja pandangan moralnya beda, tapi nggak berarti yang satu lagi penjahat. It’s just that, there are infinite ways to connect dots, as it is to build morality. :\
     
    *IMHO, CMIIW*

  2. IMPOV, banyak tamatan sekolah yang bermasalah. Entah di daerah lain, tapi di tempat saya tinggal, bahkan sekolah paling favorit di sini pun, punya masalah berat dengan moral anak. Indonesia saat ini, tidak lagi Indonesia yang dulu, dan IMPOV tidak dalam konteks yang dapat dibanggakan.

    Memang sekolah tidak bisa diharapkan sebagai “lembaga penanan moral” yang utama, hanya saja itu salah satu cara untuk memperbaiki moral bangsa. Dulu, sekolah tempat untuk belajar membaca, berfikir dll, dan masalah moral anak-anak tidak begitu separah sekarang, AFAIK itu karena lingkungan masyarakat yang mendukung. Hanya saja saat ini, jangankan dukungan masyarakat yang perduli dengan anak tetangga, anak sendiri saja kadang ndak keurus, maka mungkin karena itu, pemerintah merasa perlu untuk menggalakkan pendidikan moral di sekolah.

    Anyhow, untuk penghilangan mata pelajaran terkait, I just want to “wait and see”. No further comment about that.

  3. Biar bodoh dan miskin, yang penting kan bermoral. 😛

  4. @sora9n
    .
    Agak susah memang untuk membahas persoalan ini. Karena saya memang sejak dulu punya banyak prasangka terhadap lembaga pendidikan. Kadang pelajaran IPA dan IPS di sekolah lebih mirip pelajaran hapalan. Tidak menggugah orang untuk berpikir, tidak mengundang rasa ingin tahu.
    .
    @Miss R
    .
    Kan ada TPA? Atau pengajian?
    .
    @catshade
    .
    Wah dejavu ada Catshade! :mrgreen: Ya begitulah…

  5. Itu kutipan Alkitab yang dipakai berlaku sekali di sepakbola profesional.

  6. Saya kalau mau mengomentari wacana begini ini waswas, kuatir kalau ternyata tak ada yang menyeriusi padahal sudah berbusa-busa di Internet.
    .
    Sebab kalau baca sepintas-kilas terlalu absurd. Iyalah kalau muridnya mungkin banyak yang setuju-setuju aja, tapi ‘kan jelas membodohkan itu. Ditata ulang aja kenapa? Toh mungkin memang banyak yang kurang esensial di buku-buku sejarah atau biologi (ironisnya yang paling kurang esensial ya PPKn dan sebangsanya itu), jadi bisa dipangkas isinya, diatur ulang kurikulumnya, nah sehabis itu ‘kan ada program-program pengadaan buku juga kalau itu yang dilirik.
    .
    Kembali ke sepakbola, itu kutipan Alkitab berkelas juga kalau dijadikan pembuka di tulisan sepakbola di draf.

  7. (Kurang jelas: maksudnya “tak ada yang menyeriusi”, yaitu di dunia nyata semua sudah menganggap absurd dan hanya diwartakan untuk ditertawakan beramai-ramai.)

  8. @Bapak Guru: Iya emang terlalu absurd. Iini juga fokusnya ke masalah pelajaran moral itu. Sampe sekarang saya gak paham sama sekali.

  9. Saking pengen kayanya, sampai bakar ban bekas.

  10. @iwan: :))

  11. Apakah semacam pembodohan gitu ?


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: