di stasiun

July 3, 2012 at 12:35 am | Posted in curhat, katarsis | 8 Comments
Tags:

Saya lagi berdiri di peron stasiun Sudimara. Saya berdiri di situ dan berfikir lama sekali: sudah berapa lama saya berdiri di sini, di tempat ini, melihat pagar besi warna hijau, mobil dan motor yang bertumpuk di parkiran, para pedagang dan petugas keamanan?

Kalo hidup sudah jadi rutin, segalanya seperti abadi. Rasanya seperti melakoni sebuah peran yang tidak seberapa penting dalam sebuah pentas drama yang dipentaskan setiap hari: saya adalah pelaju yang hendak melaju ke kota; kamu orang yang jualan karcis sama saya, kamu sekuriti dan kamu adalah pengamen yang dekil. Besok kita ketemu lagi di sini pada jam yang sama. Kita sudah hapal di luar kepala; semua gerak kita, semua dialog kita. Orang tidak jatuh cinta setiap hari. Orang tidak mampu selamanya hidup sebagai romantik; melihat dunia sebagai tempat bermain yang selalu riang-gembira, sebuah hamparan yang luas, lengkap dengan padang rumput yang hijau dan langit yang diaraki awan putih, seperti domba-domba yang berterbangan. Kadang, hidup adalah deretan peristiwa yang itu-itu lagi: Sudah sekian kali saya berdiri di sini; di peron ini; sudah sekian kali saya menatap wajah petugas karcis yang itu lagi, pengamen yang itu lagi, pedagang asongan yang itu lagi, dengan langit yang sama, dengan coretan dinding yang sama, dengan perasaan yang juga sama tentang bagaimana hidup yang tidak bisa dimengerti ini, yang suatu saat bakal tidak ada lagi ini, harus dihabiskan dengan sebuah kegiatan yang disebut ‘berangkat kerja’.

Advertisements

8 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. “Why is this the best day ever you ask? Because, Gary, I get to start this wonderful day bringing life to a whole new generation of delicious Krabby Patties!”
     
    http://www.mojvideo.com/video-spongebob-squarepants-the-best-day-ever/612530265449241dd764
     
    “It’s the beeest daaayyy eeeeveeeerrr~”

  2. Hehe. Tentang Spongebob. Saya setuju. Dosa terbesar Spongebob, menurut Squidward, adalah “being happy all the time.” Dan itu saya kira bukan salah Squidward juga. Maksud saya orang gak bisa kemudian menjadi Spongebob. Karena memang mereka tidak “dibuat” demikian. Atau, dengan kata lain, mereka hanya bisa hidup dengan cara mereka sendiri, bukan cara Spongebob. Kita lihat Tuan Krab. Dia hanya bisa hidup dengan melakukan berbagai upaya untuk mendapatkan uang. Uang adalah tujuan hidup Tuan Krab. Uang adalah alasan mengapa Krab hidup. Plankton menghabiskan hidupnya mencari resep Krabby Patty dan dia tidak pernah menyerah mesti selalu gagal. Dan Squidward. Squidward adalah saya; yang saya butuhkan adalah waktu luang untuk memanjakan diri sendiri di dalam rumah saya. Untung, tetangga saya bukan Spongebob. 🙂

  3. PIlihan lain tentu adalah menjadi Patrick. Tapi ini agak susah. Tidak semua orang bisa se-ignorant bintang laut merah itu.

  4. PIlihan lain tentu adalah menjadi Patrick. Tapi ini agak susah. Tidak semua orang bisa se-ignorant bintang laut merah itu.

    You don’t say?

  5. Say what? 😛

  6. sisifus jakarta..

  7. Pak Gentole..

  8. Hidup kan memang perulangan yang itu ke itu saja. Dinding yang sama cuma beda warna. Pelangi yang sama cuma beda mata memandang saja.

    Tapi dalam perulangan sekalipun, selalu ada rasa berbeda. Kalau tidak demikian, kau mungkin tak akan menuliskan postingan ini, sesuatu yang mungkin di suatu hari gembira-tralalala akan kau baca dan berkata “Oh… Aku ingat betapa membosankan kala itu”.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: