Apa Yang Sebenarnya Kita Pikirkan Tentang Diri Kita Sendiri Waktu Kita Dengar Rhoma Irama Lagi Marah-Marah Sama Ani?

June 16, 2012 at 2:18 am | Posted in gak jelas, iseng, katarsis, kebudayaan | 4 Comments
Tags: , , , , , , ,

Prakata Sedikit

Bang Oma adalah ego-ideal kolektif bangsa Indonesia — sebuah arketip manusia Indonesia modern yang hidupnya overdramatik dan terlampau ideal (to the point of lebay to the max) dalam sistem nilai kita yang sok relijius (tapi aslinya sekuler dan  culas ini), sehingga kita orang jadi bingung menentukan: dia itu sebenarnya gimana: super keren atau super norak? Tidak heran bila banyak orang, ya saya kira lumayan banyak, yang terpana waktu si Yoga mencoba menjadi Oma dalam sebuah adegan yang menurut saya paling ikonik, paling banyak berbicara tentang apa dan bagaimana orang Indonesia pada umumnya.

Persona Raja Lebay: Dipuja dan Dicela

Suka atau tidak, jijik atau tidak, banyak orang punya love affair dengan persona Rhoma, si Raja Dangdut. Anda boleh benci Bang Oma yang menurut Anda sok alim dan hipokrit itu; Anda juga boleh bilang Anda gak doyan musik dangdut; atau, bahwa Anda bukan player yang doyan kawin-mawin sama banyak perempuan agar bisa ditiduri dan kemudian diceramahi siang dan malam. Tapi, kalo saya boleh tanya, bukankah hampir semua orang, Anda juga barangkali, itu juga sok alim dan hipokrit, apalagi menjelang bulan puasa? Anda gak suka dangdut? Anda bohong.🙂 Saya percayalah kalo Anda bukan seorang womanizer. Hal semacam ini bagi banyak lelaki memang tidak lebih dari hasrat terpendam saja, keinginan yang begitu kotornya “superego” kita (yakni suara hati yang menghakimi diri kapan saja dan di mana saja itu) sudah menghukum kita habis-habisan just for thinking about it. Maklum.🙂 Tidak semua orang suka Oma, tapi tidak semua orang benci juga. Ada yang benci setengah mati, tapi ada juga yang suka setengah hidup. Apapun, Rhoma itu populer dan ikonik! Karena itu, saya menduga, imaji Oma sebagai sebuah persona—sebagai ego-ideal, sebagai suri-tauladan—tertanam di alam bawah sadar orang kita secara kolektif, menyediakan semacam model  bagi hidup kita yang tidak akan pernah bisa lepas dari bagaimana orang lain selama ini bertindak dan menilai, betapapun hipsternya Anda, sodara.

Udah rocker, ulama pula. Kurang apa lagi?

Rhoma Sebagai Diri-Ideal — Seperti Travis dan Gatzby

Kita—kelas menengah yang doyan menulis status fesbuk pake bahasa Inggris dan mencela KK Dheeraj—biasa mencibir Rhoma, tetapi fans beliau di luar sana melihat Sang Raja seperti James Gatz melihat Jay Gatzby sebagai diri-ideal dalam novelnya F. Scott Fitzgerald. Mereka secara harfiah ingin menjadi Rhoma. Dalam video Youtube berdurasi 3 menit yang diunggah Yoga, kita seperti diselimuti oleh kehadiran sosok yang adalah Rhoma Irama, meski yang kita tonton adalah pemuda cungkring dari Cirebon. Entah dengan Anda, tapi saya merasa video itu terasa hidup sekali; meskipun itu sebuah mimicry  saja (oh, bukankah hidup kita ini hanya tiruan dari apa yang kita sukai, kita gemari?). Menurut saya, Yoga yang memang cukup berbakat itu bukan sekedar ‘lypsinc acting Rhoma Irama marah-marah sama Ani’. Dalam video yang singkat itu, Yoga melenyapkan dirinya, seperti Gatzby melenyapkan Gatz, agar bisa hidup sebagai Rhoma. Dialog dan mimik yang ditampilkan Rhoma menjadi apa yang disebut Jacques Lacan sebagai ‘the symbolic order‘ atau semacam manual atau how-to bagi Yoga untuk hidup di dunia. Tentu saja, di zaman Internet yang serba narsisistik ini, Yoga bukan sekedar ingin menjadi Rhoma, tetapi ingin dilihat dan melihat diri sendiri sebagai Rhoma, pemuda alim dan ganteng yang lagi ‘marah-marah sama Ani’. Melihatnya menatap kamera dan bertingkah mengingatkan saya pada Travis Bickle, protagonis dalam film Martin Scorsese Taxy Driver. Travis yang cuma supir taksi itu menatap cermin dan kemudian menodongkan senjatanya seperti seorang koboi: adegan yang menyadarkan saya—apalagi setelah membaca tragedi Gatzby dalam novelnya Fitzgerald yang memukau—bahwasanya setiap orang selalu ingin menjadi orang lain, selalu ingin melihat diri sendiri sebagai orang lain, orang lain yang menurutnya ideal, orang lain yang membuatnya merasa lebih berarti sebagai orang. Kita selalu memiliki, dalam bahasa Nick Carraway,  ‘the idealized version’ of ourselves. OK, Anda mungkin tidak ingin jadi Rhoma, tapi jadi Kurt Cobain atau Syahrul Gunawan. Boleh jadi memang begitu. Tetapi ego-ideal dalam diri tidak selalu disadari, loh, kadang kita tanpa sadar mencontek dan hidup seperti orang yang kita benci. Seperti kata Milan Kundera, hate traps us by binding us too tightly to our adversary. Makanya, hati-hati kalo benci sama orang, apalagi figur seperti Bang Oma.

The Power of Suara ‘Rhoma Marah-Marah Sama Ani’

Buat saya, ramainya video Yoga itu lebih dari sekedar fenomena orang biasa yang terkenal mendadak gara-gara Internet, tetapi sebuah afirmasi dari pengaruh Bang Oma yang begitu kuat dalam psikologi kolektif orang Indonesia. Gak perduli dia orang Batak atau Jawa atau orang Padang, asal dia orang Indonesia, dia pasti bisa relate dengan sisi humor dari video tersebut, dari apapun itu yang menjadi daya tarik seorang anak muda yang sedang marah-marah sama seorang perempuan bernama Ani. Kalo menurut saya, itu karena suara Rhoma (yang begitu dalam, yang begitu menggurui, yang begitu overdramatik alias lebay!) punya pengaruh yang luar biasa, dan pengaruh itu lebih menjadi-menjadi karena ia hadir tanpa wajah dan mulut yang menuturkan setiap kalimat yang kita dengar (seperti Tuhan). Suara tersebut menjadi independen. Menjadi otoritas tunggal. Satu-satunya representasi dari pribadi besar yang adalah Bang Rhoma Sang Raja Dangdut Yang Suka Ceramah. Kalo gak salah dalam The Pervert’s Guide to the Cinema, filsuf gendeng Slavoj Zizek pernah bilang tentang kekuatan suara tanpa tubuh (disembodied voice), suara yang begitu pervasif mengisi suasana, yang memaksa kita untuk membayangkan sebuah persona yang absen, tapi megah dan abadi. Dalam video Yoga, persona Rhoma dihidupkan, diikonisasikan, dijadikan kitsch, dimitoskan lagi dan lagi—dan kita pun akhirnya terpana: kita bayangkan Ani yang berteriak histeris ditinggal Bang Oma, sebagai seseorang yang dikhianati, korban dari kenaifan perempuan. Kita pun ingin sekali ikut melempar undangan itu dan berlalu dalam kemarahan dan overdramatisasi yang mempesonakan itu.

Kita dan Rhoma Irama: Sebuah ‘Love Affair’

Jadi, apa yang kita pikirkan tentang diri kita sendiri waktu kita dengar Oma lagi marah-marah sama Ani? Pertama, kita harus akui fakta tak menyenangkan bahwasanya kita hadir sebagai penonton yang tidak tahu malu dari sebuah adegan seorang pria yang lagi marah-marah sama perempuan yang dianggapnya sebagai ‘tidak lebih dari gambaran gadis kampung yang mudah didapat di sembarangan jalan’. Dalam banyak hal, adegan itu disturbing kalo dilihat dari sudut pandang feminisme. Bagaimana Rhoma mendominasi Ani, dan bagaimana Ani diposisikan sebagai perempuan yang naif, bodoh, jahat, dll,, tidak akan membuat feminis tertawa kegeeran. Sekalipun Rhoma dalam dialognya disebutkan pernah menganggap Ani sebagai ‘gadis yang lain’ sebagai ‘sebuah pribadi’, itu cuma sekedar dekorasi dalam drama saja: dalam adegan film itu, Ani tidak dianggap sebagai ‘pribadi’, apalagi ‘gadis yang lain’—dia sama saja dengan gadis-gadis lain yang didominasi oleh pria super patriarkis seperti Rhoma, pria yang doyan sekali ceramah, pria yang sok alim dan hipokrit! Yang saya rasakan ketika melihat video itu adalah sebuah ambiguitas; tidak yakin apa saya merasa kagum atau jijik dengan persona Rhoma yang sedang menggurui Ani. Saya tidak tahu dengan Anda. Tapi saya menduga, setiap orang yang melihat video itu sepertinya dalam posisi ‘apaan sih!!’ atau ‘gila keren banget!’. Yang menjadi prertanyaan tentu saja, kenapa orang menonton video itu dan kemudian merasa tertarik: apakah semata karena akting Yoga itu lucu, atau karena figur Rhoma? Saya jadi bertanya, jangan-jangan semuanya terpana oleh Rhoma, meski dengan cara yang berbeda. Maksudnya, video itu mungkin ditonton oleh dua kelompok yang berbeda, yakni oleh mereka yang ingin menjadi Rhoma—patriarkis, patronizing, sok alim, hipokrit dan lebay—dan mereka yang hidup dalam sebuah pengelakan bahwasanya dirinya tidak lah seperti Rhoma— patriarkis, patronizing, sok alim, hipokrit dan lebay.

4 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Saya pikir sih, bagaimana orang memandang Bang Rhoma kembali pada pembawaan, tahun lahir, tingkat pendidikan, latar sosial, buku yang dibaca, film yang ditonton, SKS yang diambil waktu kuliah, game yang didonlot, lagu yang didengar, video YouTube yang dilihat, blog yang suka disambangi, dkk., dllsb…
     
    *me feels pretty sure about that*

    Jadi, apa yang kita pikirkan tentang diri kita sendiri waktu kita dengar Oma lagi marah-marah sama Ani?

    Sejujurnya? Dengan penjiwaan yang ‘wah’, cengkok yang ‘mantap’, ditambah lagi kualitas suara khas sinema 80’an… saya malah ketawa…😆
     
    (sedikit pun ndak terasa drama, IMHO)

  2. @sora9n: soal bagaimana orang memandang rhoma memang tergantung banyak hal. dan itu seharusnya sudah menjadi jelas. saya kan hanya menggeneralisasi saja “orang Indonesia pada umumnya”. namun yang menjadi fokus dari tulisan ini bukan bagaimananya tetapi seberapa besar pengaruh rhoma sebagai ikon budaya pop di Indonesia. dan itu menurut saya lumayan besar.
    .
    ada pun soal video itu lucu; iya memang lucu dan semua orang bakal bilang begitu. makanya judul tulisan saya di atas itu: “apa yang sebenarnya” terjadi. saya menduga saja sih. mungkin orang sudah berubah sekarang, sudah seperti sora9n semua, tercerahkan dan akses serta niat baca bukunya kuat. tapi bisa juga enggak kan. patriarki masih ada, kealiman yang dangkal juga masih ada.

  3. Yaahhhhhh….. Baiklahhhhh….. Rriikaahhhhhh…. Anihhh…..
    .
    Gyahahahaha… Dasar bandot si Roma tuh. Jijik gw liat en dengernya… Dan entah kenapa anjing piaraan gw jadi horny tiap kali sopir gw pasang lagunya.

  4. wow zizek!


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: