waktu itu; ketika tidak jauh dari stasiun sudimara abangnya malah ngetem dan saya minta, agak sopan: bang, ngetemnya — sanaan dikit, dong. tapi si abang malah diem aja; dan saya pun harus turun, meski hati tak rela.

June 12, 2012 at 1:14 pm | Posted in iseng, katarsis | 4 Comments
Tags: , ,
  • karena itu
  • saya berjalan ke stasiun dengan dendam yang membara. saya dendam, bukan pada si abang supir angkot ciputat-ciledug yang siang itu mukanya udah lebih lecek dari anduk item dekil yang ada di lehernya itu, bukan pula pada terik matari yang gila panas banget dan juga sendal kulit merek carvil saya yang sedikit kegedean itu, tapi pada kenyataan bahwasanya saya sama sekali tidak punya kendali atas apa yang terjadi di luar diri saya; bahwasanya saya tidak bisa membuat supir angkot itu berhenti di dekat stasiun seperti yang saya inginkan; pas ketika saya merasa bahwasanya semestinya pada hari itu saya bisa berhenti di sana dan tidak perlu jalan kaki lebih jauh dengan sandal merek carvil saya yang sedikit kegedean itu. saya bukan lagi ngoceh soal hak konsumen ini; saya tahu, saya sadar kalo supir angkot itu udah kerja kayak kuda siang dan malam dan kalo di pasar jombang sebelum stasiun ada banyak calon penumpang yang kiranya bisa menghapus segaris kerut simbol segala mala di kening si abang supir itu. saya juga sadar kalo mungkin si abang ini susah nyari kerja karena sistem ekonomi yang dianggap wajar oleh kita semua itu pada hakikatnya tidak lah adil; dan bahwasanya sistem pendidikan kita juga jauh dari apa yang diharapkan setiap orang tua di dunia: bahwa sekolah seharusnya bikin orang jadi pintar dan gampang cari kerja. apalah artinya egoisme saya yang murahan ini? saya hanya merasa kesal dengan kenyataan bahwasanya saya tidak bisa berhenti di dekat stasiun dan malah harus berjalan kaki dari pasar jombang yang kumuh itu ketika siang bolong di perbatasan ciputat itu matari sedang gerah-gerahnya, sedang panas-panasnya. saya bukannya tidak perduli dengan nasib si abang supir angkot itu, atau dengan mereka yang saat ini sedang kelaparan, atau dengan mereka yang tidak bisa hidup selayaknya hidup; hanya saja, saya benar-benar ingin agar pada hari itu angkot sialan itu berhenti di dekat stasiun sudimara ketika saya harus bergegas mengejar kereta pada waktu siang ketika matari begitu panas dan saya tidak harus bersusah payah berjalan kaki dengan sendal merek carvil saya yang sedikit kegedean itu. itu saja sebenarnya, dan saya tidak bisa, sama sekali tidak. 😐

4 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. jadi kesimpulannya: ganti sendal carvil yang tidak kegedean. ganti dengan merek rindi *eh*

  2. Jujur, Saya memang tidak perduli dengan nasib si abang sopir angkot itu.

  3. @itikkecil: emang masih ada rindi?
    @pulau tidung: emang gak peduli sih. 😛

  4. Ketika seorang ibu yang ngutang di warung di tagih hutang oleh pemilik warung.
    Setelah pemilik warung berlalu dengan rasa kecewa haruskah berjualan lembaran-lembaran kertas hutang, Ibu itu ngedumel sambil berucap; sudah lagi gak punya duit di tagih hutang lagi !


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: