Kord Baling — Menulis, Antara Capote dan Kerouac

May 26, 2012 at 3:53 am | Posted in katarsis | 20 Comments
Tags: , , , , ,

Disklemer: Tulisan ini mungkin ngawur. Tapi mungkin juga tidak. 🙂   

Man, wow, there’s so many things to do, so many things to write! How to even begin to get it all down and without modified restraints and all hung-up on like literary inhibitions and grammatical fears.

Jack Kerouac tentang proses menulis.

“That’s not writing, that’s typing.”

Truman Capote tentang proses menulis Kerouac.

Anak saya senang kalo saya mulai bicara soal Nietzsche. Dia akan tertawa, dan berkata ‘Woooo!’ setiap kali saya bilang: Nietzsche adalah filsuf yang riang gembira; kalo pulang sekolah, Nietzsche selalu bersenandung: ‘buat apa susah, buat apa susah, susah itu tak ada gunanya.’ Dan anak saya yang masih berusia tiga bulan itu langsung berseru: ‘Wa wa wa, heu, heu, wa, wau!’ Di lain hari saya cerita sama dia tentang KRL Jabodetabek. Dia biasanya menatap wajah saya dengan serius ketika saya berupaya menjelaskan secara singkat masalah transportasi yang dihadapi ibukota; tentang MRT, subway, monorail, panjang jalan dan volume kendaraan. Lalu anak saya bilang, laconically: ‘wooou…’

Anak saya bukan jenius bukan Yesus. Dan saya tidak gila hanya karena ingin berinteraksi dengan anak saya yang masih bayi—wajahnya yang luar biasa cerah, matanya yang bening dan mulutnya yang begitu mungil, orang ‘normal’ mana yang tidak ingin mengajaknya bermain, berkomunikasi? Kadang saya bertanya-tanya apa orang yang saya ajak bicara memahami apa yang ingin saya katakan, apa itu kawan di kantor atau anak bayi saya. Katakanlah begini, ketika saya mulai ngoceh soal jagad kita yang boleh jadi merupakan satu dari sekian banyak jagad di dalam ruang absolut kepada seorang kawan yang sama sekali tidak pernah membaca literatur fisika kuantum—for dummies sekalipun—, apakah dia bakal memberi respon yang lebih cerdas dari anak saya yang usianya baru tiga bulan itu? Kalo misalnya dia bilang, ‘wah, keren, gak kepikiran gue!’ apa dia tahu yang dia katakan? Kadang kita menjawab sembarang dalam sebuah percakapan dan biasanya percakapan itu masih berlangung seperti biasanya. Kenapa? Karena mungkin ‘komunikasi’ tidak pernah berlangsung dua arah, dan yang selama ini terjadi adalah kita orang semua bicara sendiri, bahkan  (atau apalagi) dalam sebuah perdebatan. Karena itu, reaksi apapun yang diberikan anak saya, saya anggap sebagai ‘kata-kata’ yang punya arti dan berperan penting dalam proses komunikasi dalam pikiran saya. Ini bukan hal yang buruk. Karena orang ngomong itu sejatinya proses alamiah. Sifatnya juga soliter. Meski ada aturan dalam berbahasa, itu sifatnya ‘bawah sadar’. Kalo orang tiba-tiba teriak “f**k!!”, itu bukan karena kata itu jorok artinya, tapi karena hanya dengan melontarkan sumpah serapah semacam itu dia bisa hidup dengan tenang.

Lalu, saya kepikiran, bagaimana dengan menulis?

Capote terlihat menyebalkan.

Ini pertanyaan yang sulit dijawab. Kalo percakapan bisa disebut sebagai proses alamiah, seperti laiknya menangis dan tertawa. Apakah hal yang sama bisa dikatakan untuk proses menulis? Sejauh mana seorang penulis bisa mengikuti nalurinya, bukan aturan serta gaya bahasa tertentu, ketika menulis? Saya sendiri ambivalen; tidak bisa memutuskan mana yang lebih baik: menulis dengan penuh pertimbangan seperti Capote dan Sapardi Djoko Damono atau menulis secara spontan seperti yang dilakukan Kerouac dan Afrizal Malna? Ada kalanya saya menulis lama sekali dengan penuh pertimbangan; artinya juga rasanya dipikirin betul-betul, dan ada kalanya saya menulis seperti buang air besar saja: sebuah pelepasan. Saya bukan pembaca Kerouac dan Capote yang sejati. Hanya beberapa tulisan mereka saja yang saya baca. In Cold Blood saya gagal baca. Tapi Breakfast at Tiffany’s saya suka. On The Road saya masih belum mau beli. Kadang saya bingung Kerouac itu mau ngomong apa, tapi banyak frase dan kalimat dia yang menurut saya sangat spontan dan jujur, dan itu membuatnya menjadi sangat menarik, jauh lebih menarik dari kalimat Capote yang merupakan hasil olah pikir dan olah bahasa yang tidak sebentar. Keduanya saya lihat sebagai perwakilan dari mazhab menulis yang didasari oleh filosofi yang bertolak belakang (bahasa alami vs. bahasa rekayasa). Mana yang lebih baik susah menjawabnya.

Tapi saya kira pendapat Kerouac ada benarnya. Ada banyak hal yang perlu dituliskan dalam hidup ini, dan segala aturan sastra dan tata bahasa itu pada akhirnya malah membatasi ekspresi penulis. Karena itu, saya sebenarnya tidak begitu suka dengan Polisi EYD dan Nazi Gremer. Bukan karena saya suka orang yang menulis dengan tata bahasa yang kagak bener, tak jelas mana subyek mana predikat, mana kata depan mana imbuhan (oh, apa ini!), saya hanya cenderung berfikir kalo bahasa itu sebuah proses alamiah yang tidak bisa direkayasa. Maksudnya, kadang untuk mengutarakan sesuatu orang harus mengabaikan kebakuan bahasa dengan sejala ejaan dan tata bahasa yang benar. Karena memang tidak jarang saya lihat ‘kesalahan’ tata bahasa dan ejaan pada tulisan sastrawan raksasa macam Pram dan Navis, tetapi seringkali kesalahan itu malahan membuat tulisan itu jadi lebih nyata, lebih jujur, lebih bisa dirasakan, kalo bukan dipahami, maksud dan tujuannya.

Jadi Ini Ngikut Capote atau Kerouac?

Kerouac. Gak diaku sastrawan?

Agak susah menjawabnya. Tapi mungkin begini. Saya senang ada orang seperti Bung Ivan Lanin yang giat memperkaya bukan hanya pemahaman kita atas, tetapi juga kosakata, bahasa Indonesia. Tetapi seberapa besar pengaruhnya? Apakah bahasa bisa ‘direkayasa’? Bukankah selama ini bahasa itu dibentuk secara alamiah, terlepas apakah bentuknya bagus atau jelek? Yang saya takutkan adalah inhibisi. Menulis adalah proses kreatif. Dan aturan berbahasa itu, termasuk aturan soal penggunaan ‘di’ sebagai imbuhan atau kata depan, itu adalah sensor. Mungkin saya berpihak pada Kerouac, menulis itu harus bebas. Karena itu saya kira tidak ada salahnya saya sekali-sekali menulis ‘kord baling’ — apapun artinya itu. [Ironisnya adalah saya cukup perfeksionis untuk senantiasa mengedit tulisan ini biar sesuai maunya saya.]

NB: Amed pernah menulis soal ini juga. Gimana, menurutmu, Lex?

20 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. “kalau kau tidak bisa menemukan kelemahan dalam argumen lawan debatmu, koreksi tata bahasanya.”

  2. Ya. Aku setuju dengan sebagian besar isi postinganmu ini. Bahasa itu seperti ekspresi. Seperti raut wajahmu kala suka atau duka, menahan rasa gembira atau menahan rasa buang hajat. Tak ada yang bisa mengatakan bahwa suara kentut itu mesti berbirama 4/4, ketika tiap kentut is in the ass of the beholder.

    Dalam beberapa poin, aku suka dengan bahasa baku. Setidaknya dengan adanya bahasa baku, dengan adanya kosakata yang dikelompokkan sebagai “Bahasa Indonesia”, kita tahu bahwa -seperti halnya hidup yang memang berkelompok-kelompok seperti gerombolan virus ini- ada sekumpulan bahasa yang terletak dalam kantong tersendiri. Seperti batangan cerutu dalam kantong di jas yang resmi, rapi dan bersih. Namun ada bahasa lain yang seperti sebatang rokok ketengan di kantong kemeja harian, bisa kau keluarkan dan kau bagikan dengan kawan tanpa harus repot menjalankan seremoni seperti kala mengisap cerutu: tinggal selipkan di bibir dan sulutkan.

  3. Pertanyaanya itu apa bahasa Indonesia baku itu bisa dianggap sebagai representaasi bahasa Indonesia yang hidup? Jangan-jangan bahasa baku itu cuma bisa-bisanya pakar bahasa aja. 😛 Entahlah. Ini masalah yang agak rempong dijelaskan.

  4. @mansup: komenmu masuk spam. kutipan siapakah?

  5. Jawaban rasional-cum-membosankannya tentu: tergantung.™ Beberapa tulisan enak kalau lebih deliberate, lebih baku, dan sebagian lain lebih sedap kalau mentah.
    .
    Tapi jawaban seperti ini bikin tawar semua diskusi.

  6. @aldiaz: eh tapi mana contoh tulisanmu yang prosesnya lebih baku dan sengaja? tulisan saya yang marah-marah itu mentah semuanya, dengan beberapa editing. kalo puisi sebaris dua baris bisa dua hari nulisnya. hahahaha 😛

  7. Saya sependapat dengan Aldiaz karena sikap fence-sitting memang relatif lebih aman.. Kalau sastra yang dijadikan patokan kok ya rasanya kurang adil dan beradab. Tulisan ‘kan tidak melulu karya sastra atau artikel opini? Ada ensiklopedia, ada undang-undang, ada textbook, yang justru riskan kalau ditulis secara ‘serampangan’.

    Menarik? Ah, menarik itu subyektif.

  8. Iya sih. Kalo UU, buku sains, dll., saya setuju. Emang biar ada pegangan. Tapi ini kan soal menulis secara umum. Toh banyak orang yang protes kalo ada yang nulis gak sesuai tata bahasa di blog kan?

  9. Itu yang di blog baru semuanya “sengaja”, makanya menulisnya bisa lama. Padahal yang membaca gak banyak. Blog lama banyak yang impulsif, dan toh mampu-mampu saja memercik diskusi. Jadi iya, saya mau meninggalkan format yang sekarang (kecuali sesekali saja). Ide sekelebat mau ditulis sungguh-sungguh ya keburu menguap niatnya. Tapi itu blog, bukan sastra. Seperti kolom di koran ‘kan ini, agak spesifik.
    .
    Kalau sastra dalam artian novel dan sebangsanya saya kok sangsi pendekatan slenge’an bisa bekerja. Ini sependek pengetahuan saya saja, tapi dulu beli novel stream of consciousness-nya Bob Dylan, lalu coba skimming Jack Kerouac, kok kurang tertarik, berantakan (kalau Kerouac mungkin karena bingung—para beat itu asing sekali). Jujur dan otentik tak berarti bagus toh.
    .
    Tapi tulisan marah-marah di blog ini memang konten yang paling bagus.

  10. Bahasa itu, hasil kesepakatan aku dan kamu untuk mengatakan itu.
    Untukku bahasaku dan untukmu Bahasamu, maka, jika kamu ada di Rumahku, sepatutnya kamu mengikutiku, agar kelak di mengerti anak istri.

  11. @aldiaz: kerouac emang males bacanya. beat generation itu karyanya tidak bisa dibaca secara kesleuruhan. karena SOC yah jadinya sebagian2 aja yang nyantol. saya juga lebih bisa relate sama ginsberg ketimbang kerouac.
    .
    eh ya udah nulis yang impulsif lagi dong. nulis soal dewi persik!
    .
    @iwan: ah bung iwan komentarnya selalu berbeda. 🙂 tapi soal kesepakatan itu, bagaimana kita tahu kita sepakat ga ada yang tau isi kepala orang lain kan?

  12. Oh… Ini sedang serius toh, rupanya.

    Ya, itulah mungkin adanya istilah Baku dan sehari-hari, banyak istilah entah apa yang tidak butuh kesepakatan dan pengertian saya dan anda.
    Oh, ya, bahasa inggris itu telah amat sangat kurang ajar, mengacak-acak kosa-kata kita.

  13. @Iwan:
    “Oh, ya, bahasa inggris itu telah amat sangat kurang ajar,
    mengacak-acak kosa-kata kita.”

    Wih, jadi harusnya kosakata ‘kita’ itu diambil dari mana, Mas?

  14. @Amd
    Idem.

    @Iwan

    …bahasa (I)nggris…sangat kurang ajar, mengacak-acak kosa-kata kita

    Megawati Soekarnoputri konon pernah mengusulkan bahasa Indonesia sebagai bahasa Internasional. Anda setuju dengan beliau, mas Iwan? 😕

  15. @ Amd

    kosa-kata kita yang sudah ada dalam percakapan umum / sehari-hari banyak tergantikan oleh istilah asing/ Inggris.

    @ Fritzter

    Kalau untuk menjadikan bahasa Internasional, perbendaharaan kata kita mungkin belum cukup.

  16. @Pulau Tidung:
    Ohh, seperti istilah ‘travel’ untuk mengganti ‘perjalanan” begitu ? 😉

  17. @Pulau Tidung:
    Ohh, seperti istilah ‘travel’ untuk mengganti ‘perjalanan’ begitu ? 😉

  18. Yang jelas sepertinya di tulisan-tulisan Mas Gentole entah kenapa bloger cewek sering absen untuk ikut komen. Saya sendiri sering merasa bahwa hadir disini seperti sedang mengacaukan sistem. 😛

  19. @iwan, amed: silahkan dibahas.
    @akiko: ah masak sih?

  20. Meski sudah agak basi, saya pikir saya perlu berkomentar karena sudah dicolek pada tulisan ini. Saya sendiri baru kenal dengan Kerouac dan Capote dari tulisan ini (dan tentunya setelah membaca artikel Wikipedia bahasa Inggris tentang mereka).

    Saya setuju bahwa menulis adalah proses kreatif untuk menuangkan dan bahkan memancing gagasan. Itu kenikmatan yang saya peroleh kala menulis, baik di blog maupun Wikipedia. Saya juga setuju bahwa bahasa pada hakikatnya tercipta secara alamiah sebagai cara manusia untuk menyampaikan gagasannya.

    Bagi saya pribadi, yang terpenting bukanlah ketaatan terhadap aturan bahasa, melainkan bagaimana gagasan dapat tersampaikan dengan baik dengan sesedikit mungkin penyimpangan dari maksud sang penulis. Kaidah bahasa hanyalah sekadar sarana bantuan untuk memastikan hal itu. Bila kaidah menghambat kreativitas, abaikan saja. Sekali lagi, menurut saya, yang terpenting adalah pesan tersampaikan. Termasuk bila memang yang ingin disampaikan adalah ketaksaan 🙂


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: