jendela: bagian II

May 20, 2012 at 5:58 am | Posted in katarsis, puisi | 1 Comment
Tags: , , ,
 
—sejauh mataku memandang, sejauh aku memikir,
tak sebuah jua pun mengada. semuanya mengabur,
seperti semua tak pernah ada.—

aku tidak mengerti mengapa engkau berdiri di tepi jendela/ketika malam sudah tidak lagi terbiasa, ketika malam sudah tidak lagi membaca/—aku yang tak lagi bertanya padamu: ‘jam berapa ini, kenapa kau belum tidur juga?’

aku benar tidak mengerti mengapa engkau berdiri di tepi jendela.

kesalahan pertama yang kita buat adalah menatap bulan itu/dan membayangkan sesuatu yang sama sekali lain dari ini/sekilas aku lihat matamu mendelik, adakah malaikat baru saja turun dari langit—melayang terbang pada purnama?

dan hingga semuanya kembali seperti biasa — malam ini kita berdua enggan bercerita. dan setiap kalimat yang kau susun di matamu harus larut dalam bisu di bibirmu yang bersahaja —

hey, apa hanya dalam diam kita akhirnya berbicara?

1 Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Hey, ketemu lagi, apakah dalam diam akhirnya kita bertemu ?


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: