Waktu, Sains, Memori, Puisi

April 11, 2012 at 7:58 am | Posted in katarsis, ngoceh, prosa | 4 Comments
Tags: , , , ,

Waktu, Sains, Memori, Puisi 

Kita Berpindah Dari Satu Tempat Yang Kita Sebut ‘Masa Lalu’ ke Dua Tempat Lainnya Yang Kita Sebut ‘Masa Kini’  dan ‘Masa Depan’

apakah itu hujan yang turun di suatu pagi di bulan September pada saat kamu larut dalam sebuah percakapan dengan seseorang yang tidak pernah lagi kamu sapa atau bulan yang pucat pada suatu malam yang tidak berangin di sebuah tempat yang jauh dan tidak pernah lagi kamu sambangi — mengingat selalu berakhir dengan melankoli; oleh rindu yang dendam. ini satu gejala manusia; kita tidak pernah ingin usai dengan masa silam. pada setiap lagu lama, pada setiap rintik dalam gerimis, ada orang yang menangis — mengutuki kenyataan pahit bahwasanya memutar waktu adalah sesuatu yang muskil. tetapi, apakah gerangan waktu? bagaimana bila dikatakan masa lalu tidak pernah ada, dan bahwa masa lalu hanyalah ilusi yang ada di kepala? bagaimana bila masa lalu tidak pernah berlalu dan bahwasanya kita hanya berpindah ‘tempat’ dari sebuah tempat yang kita sebut ‘masa lalu’ ke tempat lain yang kita sebut ‘masa kini’ atau ‘masa datang’?

Ilusi Waktu Ilusi Kebebasan

apabila waktu tidak ada, orang beriman dan ateis harus menerima kenyataan bahwasanya ateisme dan kesalihan mereka adalah sebuah keniscayaaan. apakah itu allah swt yang menuliskan segalanya di lauhul mahfuz atau dentuman purba yang merubah energi menjadi semesta, segala yang sudah terjadi dan yang sedang terjadi dan yang akan terjadi haruslah terjadi — karena masa lalu tidak pernah berlalu, dan karena masa depan tidak pernah belum terjadi.  kenyataan dalam asumsi fisika mutakhir dimengerti sebagai sebuah momen yang bergeser dalam ruang absolut dalam mana ruang dan waktu adalah kesatuan. ilusi waktu adalah ilusi kebebasan. kebebasan hanya mungkin dalam waktu yang linear dan bila linearitas adalah ilusi maka tidak ada kebebasan.

hari pertama anda sekolah, saat pertama anda menggemgam tangan seorang gadis, setiap malam setiap pagi yang anda habiskan untuk menyia-nyiakan hidup adalah sebuah keniscayaan yang tidak bisa anda hindari. alam semesta adalah sebuah matriks dan setiap gerak kita adalah gerak yang sudah dituliskan oleh entah siapa; tuhan atau kebetulan yang maha agung. orang beriman dan ateis hanya bisa percaya atau tidak percaya.

wujud waktu

wujud waktu

Dunia Einstein dan Sup Tanpa Garam

konon kata fisikawan paling terkenal Albert Einstein waktu itu ilusi yang keras kepala; tidak ada anak panah waktu yang meluncur dalam garis lurus yang tidak ada pangkalnya dan ujungnya, dan bahwasanya sungai yang mengalir adalah sekumpulan momen yang hadir secara bergantian seperti frem dalam sebuah film. kalau benar demikian, apakah itu artinya apa yang kita sebut ‘masa lalu’ itu bisa dihidupi kembali sebilanya saja kita bisa menemukan sebuah moda transportasi yang yang bisa mengantar kita dari satu momen ke momen lainnya?  kalau bisa dan kita pun pergi melintasi waktu, apakah artinya kenangan? boleh jadi waktu adalah ilusi, tetapi apakah memori juga sebuah ilusi? tanpa memori tidak ada nostalgia, tanpa nostalgia hidup bakal terasa seperti sup tanpa garam.

Memori, Puisi

mungkin benar waktu adalah ilusi yang tidak pernah kita sadari. waktu hanya ‘ada’ pada saat kita melihat jam atau bertemu sepupu yang selama bertahun-tahun selalu menghindari acara besar keluarga. waktu hanya ‘ada’ ketika kita melihat jam dan bergegas ke stasiun agar tidak ketinggalan kereta. waktu hanya ‘ada’ ketika kita berfikir kita sedang membuangnya atau mengulurnya atau — dalam pikiran pimpinan rapat RT pada Jumat malam — mempercepatnya. di waktu lain, di waktu tidur misalnya, waktu hilang diam-diam.

kita tidak pernah tahu terbuat dari apa waktu. kita tidak selalu memikirkan waktu. waktu hanya ada sebagai sebuah persoalan ketika kita larut dalam nostalgia atau kesenian — dalam memori dan imajinasi. dalam pikiran kita seolah beranjak dari waktu ke sebuah tempat yang mungkin tidak usah disebut ‘masa lalu’ dan ‘masa kini’ dan ‘masa datang’ — sebuah tempat yang disebut oleh Jalaludin Rumi sebagai nir-tempat dan nir-waktu. 


4 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Waktunya sudah habis mas!
    Untukmu waktumu dan untukku waktuku,maka,ketika matahari terbit dan terbenam,patutnya kita bagi bersama,agar dapat di nikmati semesta bumi.

  2. […] kemarin saja, tapi tiba-tiba sudah seminggu usia bocah kecil bernama Raza. Waktu, mungkin benar seperti kata Gentole: begitu manipulatif, begitu […]

  3. Dulu ada pertanyaan iseng dalam diriku: apa Tuhan dalam waktu atau di luar waktu? Lalu kusimpulkan Dia di luar waktu. Lalu ada pertanyaan iseng lain: adakah Tuhan rindu pada sesuatu yang telah berlalu? Rindu dibentuk oleh waktu, atau mungkin rindu di Tuhan lain polanya?
    Ah tapi itu dulu… Sekarang sudah malas terlalu mengawang mencerna langit…

  4. Ada juga yang bilang;uangkan waktumu,jangan biarkan terbuang.hari ini, mungkin, bisa untuk esok hari,masa lalu hanya untuk bayar hutang tidak untuk di kenang.

    *Einsteinpun dengan sup tanpa garamnya nampak bodoh bicara soal waktu*


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: