sakit jiwa

March 31, 2012 at 12:17 pm | Posted in curhat, katarsis, sekedar | 9 Comments
Tags: , , , , ,

dalam sajak yang saya tulis di masa kegelapan dulu saya bilang kalo: death is insanity’s plausibility; life, sanity’s improbability. jadi pendirian saya adalah: hidup itu tidak masuk akal adanya bagi otak kita yang waras dan normal. hidup itu keajaiban; yang hanya bisa dimengerti sebagai: kalau bukan hadiah dari allah maha kasih, ya, keterlemparan yang tidak bisa dimengerti ada dan bagaimana-nya, atau kesadaran atau keakuan artifisial yang adalah hasil akhir dari sejarah evolusi alam semesta yang sejauh bisa dijelaskan oleh sains terjadi secara kebetulan. jika demikian adanya: kenapa orang yang jadi depresi karena berfikir hidup itu ya begitu itu dianggap mengalami gangguan jiwa?

bagaimanapun gilanya dan anehnya saya, saya ini sebenarnya ramah dan baik hati

saya agorafobik; saya tidak merasa nyaman berada di dekat apalagi di dalam keramaian; saya juga obsesif kompulsif; saya hanya bisa menulis dengan tipe aksara yang saya suka; dengan gaya tulisan yang hanya cocok dituliskan di blog gentole ini dengan berbagai renda-renda stilistika yang semakin hari semakin ungu dan genit dan tidak bisa dipahami lagi arti dan maksudnya. saya juga biasa diserang kepanikan; kadang tanpa alasan, marah-marah sama keadaaan yang serba terasa genting, serba injury time; padahal — saya tidak suka sepakbola, bung. saya juga socially awkward; saya itu manusia kikuk dalam bergaul; saya susah kencing kalo di sebelah urinal saya ada orang lain; saya tidak tahu bagaimana caranya menegur orang yang setengah saya kenal bila berpapasan di sebuah lorong atau di lift; saya tidak bisa memecah awkward silence yang terjadi antara saya dengan perempuan dari lantai satu yang entah sudah berapa kali papasan selama tiga tahun belakangan ini tapi saya juga belum tahu namanya siapa; atau si mas orang pemasaran yang selalu menegur saya tapi saya sama sekali gak ingat namanya siapa; atau si mbak satunya lagi yang saya tahu namanya tapi saya tidak punya rasa percaya diri untuk sekedar kasih komentar tentang cuaca atau, ataaau, ataaaaau, ataaaau apa ya? 😐 oh, tuhan, saya tidak tahu mau ngomong apa lagi selain komentar basi:”gila panas banget ampe keringetan gini; mbak, panas juga, mbak?”. goblok. percuma baca Ullyses dan sajak-sajak penyair angkatan 45 kalo bertegursapa aja enggak becus. saya juga mungkin hidup bersama bipolar disorder; mood saya berayun-ayun dari satu ekstrim ke ekstrim yang lain dalam waktu yang singkat dan saya sudah begini selama bertahun-tahun. kalo bukan karena seorang kawan baik dan internet saya tidak akan pernah tahu bahwa bagi sebagian orang ini adalah penyakit; sebuah gangguan kejiwaan yang perlu disembuhkan.

akan tetapi,

saya tidak menyangkal bahwa ada yang salah dari bagaimana saya menyapa mbak-mbak yang enggak saya kenal secara psikologis; mungkin saya emang tidak seperti orang lain, mungkin saya ini bagian dari sebagian orang di dunia ini yang dianggap sakit jiwa. saya harus bilang begini: karena biasanya penyangkalan bagi orang gila adalah konfirmasi bagi orang waras. saya akui bahwa saya mengalami gejala dari apa yang disebut ‘gangguan’ itu; hanya saja saya secara pribadi tidak menganggapnya sebagai sesuatu yang mengerikan; yang demikian itu buat saya sama manusiawinya, sama wajarnya dengan apa saja yang kita alami dan anggap ‘normal’. masalahnya di sini buat saya adalah pada ilmu pengetahuan yang mencoba untuk menerangkan kehidupan yang luar biasa pelik ini dengan metode dan standar sains. ini bermasalah; karena saya pikir tidak ada itu yang disebut ‘the science of man’; yang ada itu biologi, ilmu tentang tubuh manusia, bukan ilmu tentang kemanusiaan; kemanusiaan tidak bisa diteliti seperti orang meneliti populasi katak; kemanusiaan mustahil dijelaskan secara kuantitatif; karena pada hakikatnya manusia itu dalam pikiran saya yang tidak dijamin kualitasnya ini adalah sebuah abstraksi atau elevasi atau glorifikasi dari kesadaran material yang bersifat artifisial itu; yang boleh jadi tidak lebih ajaib dari otak tikus got yang pada suatu siang di bulan Desember memutuskan mati di jalan raya. di sini saya tidak ingin mengecilkan arti kemanusiaan kita sebagai ilusi belaka; saya hanya ingin menegaskan sebuah proposisi bahwasanya: kemanusiaan kita itu melampaui artifisialitas kesadaran yang dirancang oleh berbagai saraf di otak kita. dengan kata lain, kemanusiaan kita adalah sebentuk kegilaan juga; karena kewarasan yang membosankan itu juga dilahirkan dari penolakan terhadap kenyataan yang hina dan pemujaan atas delusi yang merupakan hakikat kemanusiaan itu sendiri; jadi, kita semua ini orang gila; kita semua orang yang menegasikan kenyataan pahit itu sakit jiwa; semua orang yang pergi ke masjid dan ke gereja agar bisa hidup enak di surga; semua orang yang jatuh cinta dan menikah dan kemudian marah-marah; semua orang yang cinta tanah air dan bekerja menjadi guru di kelurahan Malingping tempat jin buang anak; semua orang yang setiap hari Senin mengutuk kemacetan di Jakarta sambil nyetir SUV mereka, semua orang yang merasa keren karena menyukai band indie yang belum terkenal; semuanya, semuanya itu sakit jiwa; karena kita semua tidak ada ingin menjadi tikus got yang pada suatu siang di bulan Desember memutuskan mati di jalan raya.

 

    

Advertisements

9 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Cuma orang waras yang merasa gila.
    Orang gila gak pernah merasa-rasa-rasa-rasa.

  2. ^ 😆

    Kau benar sekali, kamerad Iwan. Hehe. Apa itu gila? Apa itu waras? Para sufi adalah orang gila dalam etalase teologi. Rabiah mungkin adalah orang gila di masa Nabi. Hallaj dan Siti Jenar adalah orang gila di mata FPI, Aidit adalah orang gila bagi Ridwan Saidi, dan Hamsah Fanshuri adalah orang gila di mata Taufik Ismail umpama si penyair sajak ladang jagung itu hidup sezaman dengan Nuruddin Ar-Raniry sehingga dia tak akan pernah bikin sajak tentang Hamzah Fanshuri dalam peringatan kematiannya di kemudian hari.

    Gilakah orang memuja Tuhan di rumah sakit jiwa Banda Aceh ini, yang menghebohkan ranah internet di zona Aceh kemarin?

    Hahaha. Orang-orang waras berkomentar di video-videonya betapa religi dan sesuai dengan kalbunya mereka apa yang dinyanyikannya di balik jeruji ketidak-warasan. Mereka sama gilanya dengan si pasien tentang kerinduan akan Tuhan.

    Hidup memang sebuah kegilaan belaka, berpunca dari hasrat Tuhan untuk tidak sendirian menjadi penguasa tanpa hamba. Dari sisi itu, ini bumi seperti asteroid pertama dalam kisah rakitan Antoine de Saint Exupery, dan setiap orang yang berada di perbatasan antara kegilaan, kewarasan dan kebimbangan adakah dia gila atau waras, menjadi pangeran kecil yang jadi duta keAKUan yang ingin diAKUi oleh setiap AKU dari serpihan AKU-Nya sendiri. Dan dalam dakwah demikian, kenihilan adalah kemestian, mengeliminasi satu sama lain, hingga tiada aku selain AKU, dalam proses dimana setiap aku mau menjadi AKU tersendiri. Logika akan berkata bahwa tak ada yang sudi mati seperti anjing di rel kereta api, tapi survival of the craziest adalah oposisi kemanusiaan terhadap setiap dakwah darwinian, sehingga jika tak ada katak mau dilindas ban truk di sebuah jalan tol untuk bertahan hidup, maka survival kegilaan akan berkata bahwa demi keAKUan dia akan melompat dari jembatan penyeberangan demi keabadian.

    *teguk susu*

  3. Hehe…kalau melihat dari kaca mata kitab suci, sudah ada standarnya lho ! Siapa-siapa yang waras,siapa-siapa yang gila dan siapa-siapa yang tergila-gila.

    WARNING: yang waras jangan sampai tergila-gila oleh kegilaan,karna bisa jadi bayipun termasuk kelompok gila(merengek menangis tertawa,merengek menangis tertawa) gak nyadar.
    Orang gila emang sempat juga kepikiran untuk bunuh diri ?

    *makan beling, konyol, orang sakit belum pasti mati-konyol.*

  4. 😆

    Bagi yang cinta kehidupan, bunuh diri adalah sebuah kegilaan. Bagi yang bunuh diri, justru bertahan hidup adalah sebuah kegilaan, dan merasa bahwa dialah yang waras untuk abadi atau punah sama sekali.

  5. kewarasan dua komentator di atas memang patut dipertanyakan. 😛

  6. “Waras” dengan menjadi “gila”

  7. Siapa yang merasa ? Oh, maaf, saya hanya sedikit konyol,susah tidur,tidak doyan nasihat,takut keramaian,tidak kedap suara,tidak suka cahaya matahari,susah minum obat dan suka kegelapan malam.

  8. sial.. blog ini bikin diriku ikutan gila..

  9. @zukko: kurang lebih begitu
    @iwan: kenapa minum obat?
    @kenz: janganlah blog ini disalahkan. 🙂


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: