lalu: kala

March 24, 2012 at 10:41 am | Posted in iseng, katarsis, ngoceh, prosa, puisi | 2 Comments
Tags: , ,

lalu: tiba-tiba segala ada di rumah ini jadi larik puisi; jam dinding berdetak: tik-tak; televisi tidak mengeluh sedari tadi menyala sendiri; gelas dan piring dan bola lampu dan sapu lidi tidak ada yang bertegur sapa; oh, mengapa benda-benda tidak bisa berkata-kata? anak bayi masih tidur, istri belum juga tidur; saya duduk di sofa; merasa malam memejam mata: berbisik: besok ada cucian popok segepok dan sehari lagi jatah hidupmu buat dihabiskan — bersama anak dan istrimu itu; angin di luar berlari kencang sekali; malam begini bulan pasti dingin, pucat dan gigil. kala menangis, istri masuk kamar lalu menutup pintu.

lalu: tiba-tiba segala ada di rumah ini jadi hangat.

Advertisements

2 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Dan kucingpun mengeong,mengais sisa makanan terbuang.

  2. Sedang merasakan kehangatan jadi seorang ayah dia. Hidup sedang tak sebuntu dulu rasanya? Baguslah kalau benar begitu. Hehe. Mimpi memang semu, panca indera memang mengibus, rasa bisa menipu, tapi nikmati selagi belum pupus :mrgreen:


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: