Kufur

March 18, 2012 at 9:55 am | Posted in iseng, katarsis, ngoceh, prosa | 5 Comments
Tags: , , ,

kepada seorang penyair

“Respondez! Respondez!”

— Walt Whitman —

diberkatilah, diberkatilah mereka para pemuka agama di televisi: para pendeta yang kaya raya, para ustaj gaul yang muda juga rupawan! sodara-sodara — kita memang belum lagi usai dengan fantasi yang menghanyutkan ini; oh, surga dan kehidupan abadi — kini dijual di televisi dengan sebegitu murahnya oleh mereka yang sudah begitu larutnya dibuai: dunia dan kefanaansodara-sodara — tuhan kita kini sudah jadi berhala bagi para pecundang hidup yang terlalu mudah menyerah pada keadaan; tuhan kita sudah jadi benda — hadir sebagai mata-uang yang beredar di segala penjuru buana; sodara-sodara — bagaimana bisa kita sudahi segala tetek segala rengek kita tentang tuhan kita ini: setiap hari allah kita disalib, disetubuhi, digagahi oleh keserakahan tanpa batas di gedung-gedung parlemen, di pasar-pasar modal — di sana tuhan kita tidak pernah ada; yang ada hanya uang, bisnis, impor, ekspor, cukai, otoritas, preseden, wajah-wajah pucat, sakit lambung yang luar biasa, panu, kebodohan dan kekufuran.  

5 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Hehehe…. Walt Whitman…
    Dia itu lebih menarik sebagai penyair daripada penulis buku:mrgreen:
    .
    Btw, ada kejenuhan juga melihat Tuhan dijual beli di layar kaca? Jamaaaaahhh… Haha.

  2. Jenuh melihat semuanya, Lex. Liat koran, liat TV. Ironis inih.😐

  3. Ironis? Sangat. Apa yang dibacritkan semua ironis dengan apa yang ditampilkan. Allah yang maha pemaaf dan pengampun dijual seperti golok yang bisa dibeli jamaah untuk menebas siapapun yang sudah dikafirkan. Allah yang murah-meriah sehingga kita bisa berdoa pada-Nya di meja makan atau di kakus sekalipun, menjadi komoditas berharga seperti impor non-migas, dan ayat-ayat yang disebut firman-Nya kini jadi seperti lirik-lirik yang dibawakan mereka yang beraudisi di Indonesian Idol untuk menapak jenjang artis religi seperti Maulana dan Jepri Al Bukhori. Haha. Seperti penjual obat di pasar menjual Ayat Seribu Dinar diremix ramuan anti-panu yang khasiatnya palsu.

  4. Haha maksudnya saya bekerja di media dan jengah sama media. Ironisnya di situ.Tapi apa yang kau tulis juga ironis sih.

  5. Bersyukurlah dengan segala kekurangan yang ada,karna bersyukur adalah suatu strategi pertahanan diri yang lumayan efektif hingga saat ini.

    #gedubraaak#


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: