Republik Twitter!

February 12, 2012 at 12:57 am | Posted in iseng, katarsis, kebudayaan | 38 Comments
Tags: , , , , , , ,

Kalau saya diwajibkan menulis lima hal yang saya benci saat ini, maka Twitter berada di dalamnya, bersama Kota Bandung, hipster, masuk kerja di akhir pekan dan dugaan bahwasanya — mengutip Nabokov — hidup itu, mungkin, tidak lebih dari seberkas cahaya di antara dua kegelapan abadi saja. Dan kalau saya ditanya kenapa saya benci Twitter, jawabannya pun sederhana: saya tidak suka keramaian, saya benci orang kebanyakan: I just hate people — itu, lo, maksud saya sekumpulan orang-orang yang tidak pernah hadir sebagai pribadi yang tunggal, yang begitu riuh dan caper dalam banalitas keramaian, yang begitu senang jadi pusat perhatian. Dan Twitter adalah satu-satunya sarana media sosial yang bisa memenuhi keinginan manusia kebanyakan itumanusia pemuja keramaian, manusia yang tidak atau setidaknya belum bisa melihat romantisme dalam kesunyian. Ah, maaf, bilamana saya punya opini terlampau berlebihan. Tapi coba pikir sejenak…

Twitter Itu Sarang Burung Bully!

Kalo Internet itu sekolahan, Twitter adalah warung rokok tempat anak-anak gaol dan para bully nongkrong, membual dan merokok bak jagoan neon — sebuah tempat yang tidak pernah ingin saya datangi karena dua hal: pertama, karena saya memang tidak suka anak gaul (oh, anak gaul, frase ini luar biasa sekali) dan para jagoan itu; kedua, karena tidak ada juga orang yang ngajak saya ke sana sih — he he he saya memang dulu populer betul! — yang kemudian membuat saya semakin benci itu warung rokok. Di situ, di tempat yang selalu ramai dan berisik dan bisa dilihat orang banyak itu, manusia-manusia yang merasa dirinya dikenal oleh orang banyak — entah karena merasa dirinya paling ganteng, paling kaya, paling pinter, paling jagoan, atau paling sinting —  secara ironis merasa dirinya lebih besar dari orang banyak itu sendiri, orang banyak yang pada dasarnya imajinasi mereka sendiri, orang banyak yang pada dasarnya adalah mereka sendiri! Nah, saya sih tidak punya masalah dengan orang yang kena waham keagungan diri semacam itu bilamana memang gejala itu tidak berakhir pada praktik bullying yang hingga saat ini belum saya temukan juga padanan katanya dalam bahasa Indonesia. Bullying yang paling jahat buat saya bukan bully si Giant yang lebih besar dan kuat dari Nobita, atau bully Suneo yang lebih kaya dari Nobita, atau bully Dekisugi yang lebih pintar dan kalem dari Nobita, tapi bully orang kebanyakan terhadap mereka yang tidak sama, yang berbeda, yang tidak dianggap sebagai bagian dari orang kebanyakan yang delusional itu! Apakah Anda bisa melihat bagaimana orang-orang di Twitter dan warung rokok sekolah Anda ngebully mereka yang mereka anggap sebagai musuh bersama, yang mereka anggap guoblok betul, tidak bermoral, jahat dan tidak layak hidup di bumi ini? Ini saja sudah bikin saya anti-Twitter, tapi saya masih ada alasan lain…

Masa itu tidak pernah berwajah atau bernama. Tidak ada orang dalam "orang-orang", yang ada hanya ilusi keagungan yang cenderung pada kedangkalan dan kekerasan.

Kicauers itu Kacauers

Kicau burung itu enak didengar tapi ya sudah segitu saja, bung: Tidak ada isinya, sekalipun ada isinya, sudah pasti itu mimicry, sebuah tiruan. Memang, tidak banyak yang bisa dikatakan dalam 140 aksara. Bahkan, orang sekelas GM pun tampak seperti anak ABG dari Majalengka yang baru belajar menulis puisi di Twitter. Ini udah kelas Goenawan Mohamad, penyair dan esais kenamaan yang pernah sezaman dengan Pramoedya Ananta Toer, yang tulisannya saya kagumi betul-betul. Saya berani bilang percuma mencari kedalaman di Twitter — apalagi mencari apa yang dulu disebut sastra. Itu FiksiMini, bukan sastra! (elaborasi klaim ini bisa dibahas kapan-kapan). OK, orang mungkin cuma mau cari informasi saja di Twitter. Dan memang sebagai sebuah sarana, saya akui, tidak ada salahnya juga, kalau cuma memberi link ke sebuah situs yang memang sudah lama dianggap kredibel dan bertanggungjawab. Tapi kalo sumber informasi itu adalah (akun) Twitter itu sendiri dan informasi yang diberikan itu dianggap kelas satu, heboh, kontroversial dan mengguncangkan — ada banyak alasan untuk tidak segera percaya, sodara. Masalahnya dengan Twitter adalah kita tidak pernah bisa menembak the messenger. Ad hominem itu bagi saya penting dalam upaya memverifikasi informasi, bukan dalam berargumen tentu saja. Karena, pendek kata, orang yang suka bohong kalo ngomong itu, kan, asumsinya bakal ngebohong lagi di kemudian hari, meskipun pada kenyataannya dia kemudian selalu berkata jujur sampai mati. Meski bukan tanpa-cela, ilmu hadist dalam tradisi orang Arab itu memberi tempat yang penting pada kredibilitas sumber sehingga ada itu orang yang kerjanya itu menulis tentang keburukan orang lain (perawi hadist) untuk memberi bobot pada informasi yang mereka berikan. Iya, mereka itu kerjanya poisoning the well — tapi untuk alasan yang menurut saya masih bisa dibenarkan. Nah, di Twitter gimana? Saya dengar ada banyak akun anonim dengan nama aneh yang tidak jelas juntrungannya yang suka sebar-sebar gosip tentang politik dan lain-lain. Mereka ini buat saya adalah jagoan di warung rokok yang merasa dirinya besar karena merasa paling pintar, paling banyak tahu — padahal — kita tidak pernah tahu — mereka mungkin hanya membual, gossipers yang haus perhatian saja.

Dengan kata lain, saya kadang merasa Twitter itu sarang bualan dan gosip yang haram hukumnya akhi (kidding, I just don’t like gossips).   

Twitter Kan Hanya Alat…

Twitter memang hanya alat: seperti halnya senjata api dan obat bius. Tapi saya kira kita semua juga mafhum bahwasanya ada alat yang begitu mudah dan menggodanya untuk disalahgunakan dan ada yang tidak, seperti sajadah. Twitter dengan aturan 140 karakter, fasilitas ritwit dan follow mem­-follow dan mention-me-mention membuatnya jadi habitat paling subur buat tumbuh kembangnya massa yang pernah dijabarkan oleh filsuf eksistensialis Kierkegaard sebagai MONSTER bagi individu. Twitter adalah sarana media sosial yang menurut saya paling mudah untuk disalahgunakan oleh manusia kebanyakan. Entahlah, saya selalu berfikir kalo the man behind the pen is either a literary genius or a fraud, who is probably a genius, too. While the man behind the gun, well, is always a fucking asshole.

Sudah Bosan Dengan Kicauan Saya?

Baiklah kita sampai pada akhir gerutuan. Tentu. Tentu saja. Orang sah-sah saja sekedar bersenang-senang di Twitter, berbagi apa saja (menulis status apa saja, yang paling pointless dan banal sekalipun, saya pun melakukannya di Febsuk, dan kadang memang menyenangkan). Dan orang-orang (sekali lagi, memang) mungkin saja lebih suka keramaian daripada kesunyian, seperti yang bisa kita temui dalam blog liris dan sunyi seperti ini. Begitulah. Orang-orang akan selalu menjadi orang-orang. Dan saya dan mungkin saja kamu bakal terus bertanya dan bertanya, dan kemudian bingung, tidak tahu mau menulis apa — bertanya-tanya apa artinya dan bagaimana caranya jadi orang, bukan sekedar orang-orang? Sementara itu, di luar sana semuanya bakal berjalan seperti apa yang sudah digariskan waktu-peristiwa. Negara ini sejak dulu sudah menjadi semacam Republik Twitter — sudah lama dikuasai para bully dan manusia kebanyakan yang sama delusionalnya. Oh, fuck Twitter!

Sekian. Terima kasih.

Advertisements

38 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Pertama-tama, dan paling utama: saya setuju. 😛 Terutama kalau sudah nyangkut bintang pop, sepakbola, politik, freethinkingdaftarnya panjang
     
    Tapiii… ada tapinya masbro. Yang disebut di atas itu — meminjam istilah Pak Taleb — wilayah mediocristan di Twitter. Main-mainlah ke tempat yang lebih “enggak normal”. Banyak juga loh pengguna twitter yang cendekia & mencerahkan. :mrgreen:
     
    /following 41, kebanyakan bule
    //always nice stuff

  2. Saudaraku Gentole yang diberkahi…

    Bersama dengan komentar ini perkenankanlah kusampaikan bahwasanya aku setuju nian dengan segala pendapat dan sentimenmu di postingan ini, dikarenakan ada juga terasa-rasa hal yang sama dalam relung sanubariku, bahkan ada juga kuluapkan dalam status mukabuku sendiri karena membaca berita soal betapa mulia dan bijaksana burung-burung di twitter meributkan perkara walikota makan hiu kemarin itu.
    .
    Dan bahwa analogimu itu pun memang kena nian. Memang benar begitu. Sarang burung satu itu umpama warung kopi, warung rokok. Sarang dimana para pecundang dan pemenang campur-baur, berlomba siapa paling banyak umat mengamini atau berlomba siapa paling (merasa) bijak karena mengamini orang yang (juga merasa dirinya) bijak lagi cerdik-cendikia. Berbeda dengan pendapat Teungku Sora di atas sana, tak ada beda apakah bule atau bukan sama sekali. Sama saja: para bule baik medioker atau apoteker, baik yang bebal atau profesional, sebenarnya sama-sama jenis burung-burung yang bisa berlagak peduli kanker atau nge-bully justin bieber.
    .
    Ad hominem memang perlu nian. Aku setuju pendapatmu itu. Jaman dimana semua orang bisa berlagak pintar dan paling tahu segala hal cuma dengan bermodal entri wikipedia dan googling agak 5-10 menit, jaman dimana twitter dan segala socmed menjelma jadi reinkarnasi 4chan dan orang2 gampang mengesankan dirinya Guy Fawkes jejadian untuk membasmi kejahatan cukup dengan ketikan keypad di segala gadget, aku sama sinis sepertimu pula. Sebaik apapun bacrit manusia, aku tak percaya dengan orang yang mengaku dirinya peduli kemanusiaan dalam beragam siulan ketika dia sendiri seperti orang kesepian yang menghabiskan waktu 1×24 jam mengupdate status seperti bisa merevolusikan dunia. Aku tak percaya bacrit si Pocongg dan aku tak percaya bacrit Raditya Dika. Anak-anak SD jaman kini juga bisa belagak peduli politik meski tak tahu bahwa PPP sudah terbelah di zaman Zainuddin Emjet kepleset terjun ke sana.
    .
    Itu sebab aku pun terjun ke twitter kemarin itu. Seperti ulasan hikmah kebijaksanaanmu kali ini, memang semacam warung rokok dan/atau warung kopi di masa sekolah. Sebagai siswa yang juga tak mau kalah baik dalam soal otak atau otot, di masa itu, adalah hobiku untuk tertantang datang warung mana saja di kota kecilku dimana dikabarkan ada geng-geng berkumpul dan menyohorkan diri sebagai geng paling hebat, berisikan oknum-oknum jago catur, jago berantam, jago ngebully, jago isi TTS. Datang cuma menikam dari dalam tongkrongan itu sendiri. Kalau main massa, kubawa gengku serta. Kalau bernyali satu-satu, satu-satu pula kuhadapi
    .
    Persis begitu pernah kualami di Twitter. Jadi, once upon a time…. seseorang pesohor di Twitter meritwit bacrit @tifsembiring dan mengoloknya. Bukan perkara besar bagiku sebenarnya, sebab aku pun tak suka dengan menteri jago pantun satu itu, yang kerdil akalnya memisahkan mana agama dan mana teknologi komunikasi di departemen dimana pantatnya berada. Yang aku tak suka, sang pesohor nan terhormat dan memiliki banyak umat itu, memanipulasi twit sang tuan menteri dan meritwitnya seakan itu ucapan blunder sang menteri. Walhasil, belasan umatnya yang menelan mentah2 segala sabdanya, meng-RT twit tersebut dan menghujat tuan menteri. Jika bagimu sikap begitu adalah nge-bully, itulah yang kurasakan.
    .
    Elok2 kuberi ingat, bahwa tak elok nian perangainya itu, karena sang insan (yang merasa dirinya pesohor itu) sudah memfitnah orang dengan apa yang dianggapnya lelucon, malah aku ditantang kalau tak suka jangan baca. Kimak. Berperang muncung jugalah aku sama dia. Apa keluar fatwanya. Tak lain bahwa aku yang follower tak seberapa cuma iri saja, cuma fans tifsembiring saja (meski jelas2 kubilang padanya bahwa aku tak suka dgn tifsembiring tapi lebih tak suka orang diperlakukan tak adil, dan begitu rendah berani menasehati beliau yang followernya sudah cukup untuk menggalang KTP kalau dia mau naik jadi walikota.
    .
    Sungguh pukimak sekali. Kuhinakan dia habis-habisan. Ada umatnya ikut campur, ku-kick saja sebagai kerbau yang dicucuk hidung. Itu lebih dari 2 tahun nan silam. Bagiku, dia sama seperti cecunguk pecundang di masa sekolah. Kalau dia ngomong depan hidungku dalam dunia nyata di masa sekolah dan kuliah dulu, sudah kustempelkan nomor sepatuku di batang hidungnya.
    .
    Aku pernah dibully di masa SD, tak lama memang, karena segera dapat massa untuk membentuk geng dan balas membully si pelaku. Sejak SD, sejak melihat anak2 Tionghoa, Jawa dan Batak di-bully di sekolah cuma karena mereka berbeda oleh anak2 borju, anak tentara, anak polisi, dan anak turunan bangsawan di daerahku, aku sudah pasang niat akan ngebully orang yang ngebully. Dan itu sebab satu alasan aku bertwitter-ria dulu. Untuk nempeleng gerombolan sapi yang manut-miturut memamah-biak segala bacot para pesohor begitu saja. Kalau untuk sendiri tak apa-apa, tapi kalau ngeroyok orang, itu aku tak suka. Tak bisa bawa massa, sendiri pun tak apa-apa. Mempermalukan oran yang suka mempermalukan, adalah hukum alam dari wujud F= m.a si Newton. 😆
    .
    Meski akhirnya memang membosankan juga. Sudah malas. Haha.
    .
    Jadi begitulah. Aku ada setuju agak 90% dengan postinganmu ini. 10% tak setuju karena aku dan kau juga bagian dari social media -sebagai blogger- yang mungkin juga ngebully orang dengan cara yang lebih halus tapi hakikatnya sama.
    Tapi pokoknya™ setuju aku dengan pendapatmu, sehingga tidak menghiraukan bahwa tag-mu ada yang salah: ornag-orang? opo iku? 😆

  3. Baru baca awalnya tapi mesti komen dulu, soalnya 3 dari 5 poin list di atas kebetulan sama sangat dengan list saya…

  4. epic post is epic! hidup blogger! viva belula!

  5. Sesuai kata oh-blogger-tersayang-yang-suka-ngeblog-di-blog-orang di atas,

    ngebully orang yang ngebully

    mari kita masukkan artikel ini ke trending topic. :mrgreen:

  6. This comment is awaiting moderation.

  7. Dulu pernah punya twitter account yang (malah) jadi AlterEgo, tapi ga asik lagi semenjak di add sama dosen saya, walaupun dosen gaol siy :mrgreen:

    Ah tapi twitter dengan 150 karakternya itu sudah menjadi tempat buang sampah pikiran paling efektif, sehingga tidak kebagian lagi itu jatah buang sampah di TPA blog 😆

  8. Saya sih gak sejengah itu dengan Twitter. Yah, user-generated content berupa 1-140 karakter ya memang bakal seperti itu isinya, memangnya gimana lagi? Kecuali mungkin kalau kalangan penggunanya dipilih sendiri dengan teliti.
    .
    Tapi yang mengganggu itu ya barangkali ketika digembar-gemborkan. Saya gak tercerahkan membaca puluhan one-liner dari so-called “street smart” people yang nadanya menggurui sekali itu.
    .
    Cobalah ini disebarkan ke tersangka-tersangkanya. Saya kok ingin nonton. 🙂 Sebab apa, mereka ini banyak macamnya tapi yang selalu konstan adalah: percaya dirinya! Melihat mereka berupaya menyepelekan tulisan ini akan sangat menghibur. 😛

  9. Ya ampun, baru setengah hari komen udah rame. An omen? Jangan-jangan bakal ribut ini. 😛
     
    *gelar tiker dulu ah*
     
    @ Pak Guru

    Cobalah ini disebarkan ke tersangka-tersangkanya. Saya kok ingin nonton. 🙂 Sebab apa, mereka ini banyak macamnya tapi yang selalu konstan adalah: percaya dirinya! Melihat mereka berupaya menyepelekan tulisan ini akan sangat menghibur. 😛

    super_big_seal_of_approval.jpg

  10. @ SoraSembilann

    😆

    Kalau ini jadi ribut, bisa macam sekuel Putri Yang Tertukar kemarin itu. Cuma kali ini dengan episode: Twitter Yang Tertukar.
    😆
    😆

    @ Lambrtz

    Si Sora, Mansup, dan SJ itu memang suka kali ngeblog di blog orang. Tahapa.

    *starter skuter*

  11. Ini giliran saya di kantor bekerja di akhir pekan kok rame bener.

  12. Priit !! offside, kartu kuning.kartu merah.adu finalti.
    Θ-Θ
    ‘Rumput, kenapa kamu diam saja ?

  13. begitulah…twitter buat saya cuma buat mamer-mamerin kekayaan saya saja, biar banyak mangsa (baca: anak gadis orang) yang terlena 😈

  14. […] mengapa, saya langsung teringat dengan tokoh El Matador saat membaca tulisan Republik Twitter! di blog Gentole. Kiriman @alexcobain di Facebook telah menggiring saya ke blog ini. Saya tidak […]

  15. Satu lagi… Mungkin ini pengaruh jadi orang Indonesia dari Riau, dan lama di Malaysia pula, tapi apa kata “buli” itu sahih sebagai kata Bahasa Indonesia? Kalau iya, tentunya itulah padanannya.

  16. gw suka nongkrongin twitter. it’s like maintaining a presence behind enemy lines (=

  17. @sora9n
    .
    Jadi di lapak ekstrimistan mana dikau biasa ngider? 😛 Ya nantilah. Saya juga setuju tidak bisa pukul rata semuanya jelek. ini kan retorik saja. Twitter ya secara umum saya melihatnya begitu.
    .
    @alex
    .
    Iya ini memang menjadi paradoks dan ironi yang menyebalkan. Di satu sisi saya mencela keramaian tapi ini postingan kok terasa sangat ramai. 🙂 Mestinya saya menulis dalam bahasa kriptik sok nyeni seperti di waktu yang lain. Jadinya, orang malas komentar takut salah paham. Ditambah lagi dengan kenyataan bahwasanya saya pun lagi ngebully, pake blog anonim pula. Ya terima sajalah. Paling tidak di blog repetan saya lebih panjang, lebih pake tenaga nulisnya.
    .
    Itu pesohor siapa? :mrgreen:
    .
    Ah, Lex, sesungguhnya komentar paling panjang itu adalah dirimu. Sama mas Rudi. 😛
    .
    @manusiasuper
    .
    Bandung, kerja di akhir pekan dan hipster/twitter?
    .
    mas jenang
    .
    Eh, mas itu dong untag di FB nama saya. *yah ketauan fesbukan. #lame
    .
    @lambrtz, ESENSI
    .
    Begitulah, Nak. Jangan dicontoh saya ini.
    .
    @mizzy
    .
    Nyampah is healthy.
    .
    @sora9n, alex, geddoe lagi
    .
    Kagak seru yang dateng pelanggan lama gini. Haha. Agak sulit memang. Terakhir ada komentar bagus dan layak dibalas dari pengunjung blog asing ya pas PYD itu. Setelah itu garing. Apalagi di postingan hipster itu. Saya gak nyangka kalo ternyata pada kenyataannya hipster Indonesia alay beneran. :mrgreen:
    .
    @abang tampan
    .
    Gimana caranya mamer kekayaan?
    .
    @geddoe
    .
    Padanan kata buli ini serapan dari bahasa Inggris? Dulu ada sih saya pernah dikasih tau istilah “gencet”. Dibully itu ya digencet. Tapi entahlah. Lihat nantilah. Rasa bahasanya kurang enak kalo buli, terdengar seperti makanan.

  18. @iwan
    .
    🙂 itu lumayan lucu.
    .
    @pito
    .
    Hooo…kayak Alex dong.

  19. semacam itu. tapi ogah ngetik panjang-panjang kayak dia =P
    ebentar. kita pernah ketemu kan ya di warung seafood jl. wahid hasyim depan Melly’s bareng alex dan jensen? penasaran.

  20. Saya sampai ke blog anda ini juga via twitter. Trima kasih karena anda telah membantu mengaksentuasikan sesuatu yg tak terkatakan selama ini 🙂

  21. @pito
    .
    Iya. Depan Melly’s sama Jensen. Kalo enggak salah Alex minta dianter dirimu ke Melly’s karena katanya dia takut nyasar di ibukota? Gitu, bukan, Lex?
    .
    @Tom
    .
    Tak terkatakan tapi disadari begitu?

  22. Sy jd kepikiran menulis sst twitter, … If in moral philosophy opportunism is something bad, in twitter, it’s the truth.

  23. Ya abis gimana, kalau bukan dengan imajinasi dan delusi… Pakai apa lagi kita.. eh, saya bisa percaya diri? 😛

    Lagi pula, twitter itu bisa dipakai serius kok. Pak Kominfo Tifa aja ngetwit. Bahkan lewat twit beliau bisa berpantun, menebar ancaman dan mempermasalahkan urusan penetrasi orang.

    Btw, itu kenapa ABG yang dikorbankan jadi pembanding GM cuma ABG Majalengka, kenapa bukan ABG Jogja atau Jakarta atau Tulang Bawang Udik? Ini apa bukan ngebully juga namanya? Belum tentu lho anak-anak itu tidak merasa terzalimi saat dibandingkan dengan GM.

  24. @guh
    .
    Iya kan sudah saya akui bahwa Twitter memang sekedar alat yang bisa digunakan secara “baik dan benar” atau secara serius atau tidak. Soal Majalengka itu ya saya akui itu memang in a way ngebully. Tapi kalo saya tulis Yogya, nanti orang bakal bilang kenapa bukan Jakarta, atau Tulang Bawang atau yang lainnya. Meskipun, sebenarnya bukannya saya terdengar ngebully GM (which is ludicrous)? 😛 Seperti yang dikatakan Alex, postingan ini memang banyak ironi dan tragedinya. Misalnya, bahwa postingan ini ngebully para bully. Saya akui sajalah itu.

  25. seperti biasa, another ‘kicauan’ kelas wahid dr bung gentole 🙂 . meanwhile, link esai ‘serius’ ini dg sukses saya rituiit di republik twitter yg terkutuk 😀

  26. Ironi tambahannya yaitu: semakin jelas bahwa penulis sepertinya punya bakat jadi nabi di Twitter. Hayo dicoba sebelum gelembungnya pecah. Jadi buzzer sana. 😛

  27. Entah apakah kamu suka dengan keramaian pada lembar komentarmu, saya hanya bisa berkata setuju.

  28. setuju

  29. gara2 tulisan ini, blogku disebut “sunyi merah muda” oleh seseorang.. sial..! begimana ini dgn rncana kita ntu bro? sdh ada wktu lowongkah dirimu?

  30. @agiek: pantesan terasa rame. tapi sudahlah, we have to move on. halah.. 😛
    @pakguru: males, ah.
    @baratdaya: ga terlalu rame kok ini, kawan, mostly.
    @kenz: masih ribet bung. kalo mau nulis aku mau serius betul nulisnya.

  31. Era socmed terutama twitter telah mampu membuat sesuatu yang hiruk pikuk menjadi sesuatu yang seolah nyata.

    dan hmm.. yeah, maybe we are all judging (?) 😎

  32. itu sih nunggu umur kau 40thn baru ada waktu.. :p

  33. @ Gentole

    Iya ini memang menjadi paradoks dan ironi yang menyebalkan.

    Hehehe…

    Di satu sisi saya mencela keramaian tapi ini postingan kok terasa sangat ramai. Mestinya saya menulis dalam bahasa kriptik sok nyeni seperti di waktu yang lain. Jadinya, orang malas komentar takut salah paham.

    Ah, tak apalah. Lagian perbedaannya juga kentara: di sini kan nggak sembarang di-RT gitu doang cuma demi ikut mainstream. 😛

    Ditambah lagi dengan kenyataan bahwasanya saya pun lagi ngebully, pake blog anonim pula. Ya terima sajalah.

    Kau itu ibaratnya orang macamku di bangku SMA. Panas kawannya di-bully, lalu datang ke tongkrongan gerombolan nge-bully dan balas nge-bully. Tapi sendirian, walau kadang menang kadang KO. 😆

    Paling tidak di blog repetan saya lebih panjang, lebih pake tenaga nulisnya.

    Lha itu maksudku memang. Blog memang juga bisa ngebully kok. Tapi ini masih “lebih terhormat” karena kau tidak harus mengandalkan sekawanan sapi yang terpesona pada ke-seleb-anmu untuk membenarkan tiap bacritmu :mrgreen:

    Itu pesohor siapa?

    Ada lah. Haha. Bintang rock mati dia itu. Semalam itu ada kugunjingkan dengan Cik Gu tentang salah satu pesohor tengik begitu 😛

    Ah, Lex, sesungguhnya komentar paling panjang itu adalah dirimu. Sama mas Rudi.

    😆
    Sudah bakatku, apalah dayaku 😆

    Iya. Depan Melly’s sama Jensen. Kalo enggak salah Alex minta dianter dirimu ke Melly’s karena katanya dia takut nyasar di ibukota? Gitu, bukan, Lex?

    Ho oh. Jakarta itu menakutkan bagi orang ndeso macamku :mrgreen:

    Seperti yang dikatakan Alex, postingan ini memang banyak ironi dan tragedinya. Misalnya, bahwa postingan ini ngebully para bully. Saya akui sajalah itu.

    Kayaknya ada yang mesti diluruskan deh. Aku tak suka orang nge-bully. Dan ketidak-sukaanku itu, karena hidup manusia memang perkara survival of the fittest, mesti dilawan dengan nge-bully. Terkadang sih ini.
    Makanya kuaminkan contoh kasus warung rokok jaman SMA. Karena memang begitu. Lalu kalau kita tidak ngasih contoh betapa tak enaknya di-bully, para pecundang yang merasa sudah jadi rambo karena nge-bully massal itu nggak akan sadar juga. Ini sebab, macam kubilang, di SMA dulu kudatangi itu tempat-tempat geng-wannabe ngumpul. Hitung-hitung cari sparring partner lah 😛
    .
    Masih bolehlah ini. Kau nge-bully sendirian, dan yang kau hadapi sekawanan. Sampai kau bikin judul Republik Twitter. Aku di SMA tak malu kalau balik-balik ke sekolah atau rumah lembam dan KO. Karena dikeroyok. Setidaknya aku maju sendirian, tanpa sekelompok pengikut akan sudi manut-manut macam sapi dicucuk hidung, meski tak tahu apa perkara. Haha. Masa-masa menyenangkan juga itu benarnya. Perulangannya selalu ketemu di internet. Dan aku menikmati itu. Bukan perkara jadi jagoan, tapi untuk nunjukin ke mereka yang berani berkelompok, bahwa mereka tak lebih baik dari para banci yang ngandelin massa di timeline ;P

    .
    .
    .

    @ Pito

    semacam itu. tapi ogah ngetik panjang-panjang kayak dia =P

    🙄

    Di blognya sendiri dia panjang-panjang…
    :roll

    sebentar. kita pernah ketemu kan ya di warung seafood jl. wahid hasyim depan Melly’s bareng alex dan jensen? penasaran.

    Ah… masih ingat saja masa-masa dua tahun lalu itu. Begitu cepat waktu berlalu… 🙄

  34. Sekian terima kasih.
    Mau ngomong apalagi.

  35. […] perilaku umum, apalagi kalau sudah berkelompok dan berkomunitas. Macam komentarku di postingan Republik Twitter-nya Gentole. Omong kosong itu segala toleransi dan “hargai perbedaan” di […]

  36. Saya kira ini ada hubungannya sama pilem yang mau dirilis itu 😕

    Karena saya kebanyakan memfollow teman-teman sebaya jadinya ya saya ngerti lah gak enaknya twitter. Bahkan udah saya unfollow beberapa yang gak penting amat. Dari dulu saya udah nyebut isi twitter itu sebagai balada burung beo aja. Apalagi RT-RTan itu terutama (mau ya polemik kebanyakan RT atau Reply vs RT yang gak usah dibahas).

  37. rada jarang sekarang buka twitter, karena entahlah
    *komen ga mutu dan absurd* 😐

  38. […] tidak pernah membela Twiter di blog ini. Saya bilang itu sarang buli. Saya juga bilang itu fana, banal, sebuah kesia-siaan. Oleh sebab itu, saya memutuskan untuk hijrah […]


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: