Oh, Batu, Langit!

January 27, 2012 at 11:09 pm | Posted in katarsis, Uncategorized | 15 Comments
Tags: ,

Allen Ginsberg bertanya begini:

“After All, What Else Is There To Say?” 

Oh, batu, langit — mau bilang apalagi, bung? Perasaan tidak begitu saja meleleh jadi puisi. Kalo Ginsberg yang brilian aja buntu, apalagi saya — ngapdet blog aja kagak becus! Sudah habis kata. Kecuali bahwa kewarasan ini kian membosankan: usia dan ‘keharusan menjadi dewasa’ dan norma alias keharusan sosial dan urbanisasi dan kapitalisme teknologi yang merajalela sudah jadi tabir yang menyisihkan dua mata ini dari segala keajaiban dunia. Oh, batu, langit — apakah gerangan? Perasaan tidak begitu saja meleleh jadi puisi. Pada akhirnya saya pun duduk di depan layar sebuah komputer jinjing; tidak mampu menuliskan pikiran yang begitu cerewet seperti ocehan perempuan jalang di jalan-jalan Jakarta; tidak ada langit yang menampakkan dirinya di dalam rumah ini, tidak ada sajak-sajak yang mewartakan kebenaran — perasaan ini tidak akan pernah meleleh jadi puisi yang tidak akan pernah saya tulis dan tidak akan pernah ada artinya buat orang lain.

When I sit before a paper
___writing my mind turns
in a kind of feminine
_____madness of chatter;
but to think to see, outside,
in a tenement the walls
_____of the universe itself
I wait: wait till the sky
_____appears as it is,
wait for a moment when
_____the poem itself
is my way of speaking out, not
_____declaiming of celebrating, yet,
but telling the truth.

New York, Early 1949

15 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Mau kukomen apalagi, Bung?
    Banyak hal yang tidak bisa kau wakilkan pada kata-kata, tak bisa kau delegasikan pada tulisan. Ada terasa, terkata tidak. Ada terkata, terasa tidak. Haha.

  2. Hanya ada satu bung yang tersisa untuk menjadi makna…
    pejamkan mata biarkan hati dan rasa bicara dan menulis puisi sendiri…niscaya langit biru dihati dan ilalang keemasan terhampar dibalik senyum kedamaian…

  3. Oh.. batu,langit,pintar itu ternyata menyebalkan,kita selalu di paksa memikirkan apa yang kita lihat,rasakan,ucapkan, yang orang lain tidak sempat kepikiran.
    oh batu,langit.

  4. @alex: ini menyebalkan lex. desakan menulis begitu kuat, tapi diri terlalu sinis kalo menulis yang itu lagi itu lagi.
    @ali asman tanjung: wah optimis sekali mas. baguslah.🙂
    @iwan: mas iwan ini dan mas ibeng sama toh?

  5. Saya percaya kamu orang baik Gen.
    *Tolong di rahasiakan*

  6. @ Gentole

    Aku feel you. Kali aja karena sadar kalau yang kita tulis sebenarnya juga yang itu-itu saja. Ndak ada yang benar-benar baru.

    Kita tidaklah sendiri
    dan terasing dengan nasib kita
    Kerna soalnya adalah hukum sejarah kehidupan.
    Suka duka kita bukanlah istimewa
    kerna setiap orang mengalaminya.

    Begitulah kata Rendra😛

  7. @alex: wah untung ada rendra!

  8. @ gentole

    Untung dikit, untung banyak kali mana ada. Haha. Para penyair itu memang kampret.

    Hai, anakku jadilah tukang
    Di waktu senggang jangan banyak baca
    Sajak-sajak petualang

    Cintailah kerjamu
    Lupakan kepedihan bapak
    Tebuslah duka ibu

    Bila datang penyair
    Jangan terima bertamu
    Segala yang mengingat padamu
    Usir

    Bahagia
    Hanya di hidup sederhana

    Antara pagi kerja
    Dan senja memuja
    Kehidupan sederhana
    Di tengah manusia kenal setia

    😆

  9. eh sajak siapa itu????

  10. Sitor Situmorang😆

  11. ↑ ↑ ↑ Bagus itu…😆

  12. @ Aldiaz

    Bagus memang. Jadi kalau ke rumahmu nanti datang Gentole bertamu, usir.
    😆

  13. @alex: Hahahaha emang bagus tuh Pak Sitor. Apa saya sudah cerita tentang saya dan Sitor? Jadi pada dahulu kala waktu saya masih seumuran Difo dan Aris, baru lulus kuliah begitu, saya diterima jadi wartawan kantor berita nasional. Nah, diundanglah Pak Sitor karena dulu bos saya pak Sobary. Singkat cerita, karena saya tukang ngemeng di kelas pelatiahan jurnalistik, dipaksalah saya mengajukan pertanyaan ke Sitor. Saya keder. Belum pernah baca buku dia. Dan kemudian saya tanya beliau kenapa sajak-sajaknya bombastik. Dan saya tidak tahu saya ngomong apa. Yang saya ingat hanya keheningan yang sangat kaku. Begitulah. Hidup Pak Sitor.😛 Tapi saya lebih suka pak Iwan Simatupang.🙂

  14. Wah, kau beruntung juga bertemu dia. Haha. Aku sejak kenal sajak-sajak beliau di bangku SMP dulu, sempat pengen ketemu, entah untuk apa nanti. Mungkin kalau ketemu malah depannya diam macam batu.😆

  15. Makan puisi dan kaos kaki.
    mau..!


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: